<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>menurut saya....</title>
	<atom:link href="http://kasyfisme.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kasyfisme.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Aug 2011 01:58:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kasyfisme.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/ff178ddce84bdd1773299a260ce4a34f?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>menurut saya....</title>
		<link>http://kasyfisme.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kasyfisme.wordpress.com/osd.xml" title="menurut saya...." />
	<atom:link rel='hub' href='http://kasyfisme.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Belajar memahami manusia (1)</title>
		<link>http://kasyfisme.wordpress.com/2010/02/21/belajar-memahami-manusia-1/</link>
		<comments>http://kasyfisme.wordpress.com/2010/02/21/belajar-memahami-manusia-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 14:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kasyfi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[memahami manusia]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi manusia]]></category>
		<category><![CDATA[psikopat]]></category>
		<category><![CDATA[tingkah laku manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kasyfisme.wordpress.com/?p=614</guid>
		<description><![CDATA[Saya merasa semakin jatuh cinta dengan primata yang memiliki akal ini, karena semakin banyak observasi yang saya lakukan, semakin kompleks kesimpulan kesimpulan yang saya dapat mengenai mahluk bernama manusia ini. Apakah kesimpulan ini benar atau salah? saya mengemas kesimpulan ini sebagai sebuah pendapat yang benar dari sisi saya. dari sisi anda? entahlah, akan ada perbedaan.. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=614&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya merasa semakin jatuh cinta dengan primata yang memiliki akal ini, karena semakin banyak observasi yang saya lakukan, semakin kompleks kesimpulan kesimpulan yang saya dapat mengenai mahluk bernama manusia ini. Apakah kesimpulan ini benar atau salah? saya mengemas kesimpulan ini sebagai sebuah pendapat yang benar dari sisi saya. dari sisi anda? entahlah, akan ada perbedaan..</p>
<p><span id="more-614"></span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">I. Manusia mentoleransi kesalahan, </span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;"> Manusia adalah tempat salah dan lupa, dulu sekali saya memahami kalimat ini sebagai sebuah kalimat untuk menenangkan manusia yang merasa bersalah karena melakukan kesalahan, persis ucapan ucapan sejenis pelipur lara lainnya seperti, &#8220;ini bukan salah kamu&#8221; atau &#8220;semuanya akan baik baik saja&#8221;, yang sama sama tidak memiliki makna. Karena terkadang ketika kita melakukan kesalahan, kita butuh orang lain untuk menganggap, atau setidaknya mengatakan  bahwa kesalahan itu bukan salah kita, atau mengatakan bahwa semua ini akan berlalu, meskipun dia sendiri mungkin tidak tahu kapan semua ini akan berlalu. </span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">Tapi akhir akhir ini saya memahami kalimat itu sebagai sebuah kalimat yang amat bijak. definisi bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa merupakan suatu proposisi yang benar benar menjelaskan bahwa manusia memang tempatnya kesalahan dan kekhilafan. </span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;"> Tidak percaya? coba keluar dari rumah dan berjalan berkeliling, bukti kesalahan manusia tersebar di mana mana, dari mulai iklan tv komersial yang benar benar gagal dan benar benar tidak memiliki makna, ataupun desain halte busway yang banyak kekurangan sana sini,  sistem transportasi yang menunjukkan kekurangan di mana mana, guru guru sekolah tanpa skill mengajar memadai dan tidak menguasai bidangnya, penjual penjual makanan di jalanan yang tidak memikirkan aspek kesehatan, banyak sekali. </span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;"> Mereka sama sama membuat kesalahan, entah dengan sadar atau tidak, namun poinnya adalah itu tidak membuat mereka berhenti melakukan kegiatan yang mereka lakukan, dan poin lebih besarnya adalah meskipun tidak dilakukan dengan sempurna, kegiatan yang mereka lakukan itulah yang membuat dunia ini terus berjalan. jadi kenapa terkadang kita takut mengambil resiko membuat kesalahan? maka semakin saya memahami ini, semakin saya tidak mengerti alasan manusia takut salah. kenapa sih takut salah? buka mata dan telinga, kesalahan manusia ada dimana mana, agak terlalu naif kalau kita tidak berani berbuat karena takut salah, karena kita memang tempatnya salah dan lupa. </span></p>
<p><span style="background-color:#ffffff;">Kesimpulannya,  saya tidak menyarankan untuk menyelesaikan pekerjaan apapun yagn diamanahkan kepada kita dengan asal asalan, yang saya sarankan adalah jangan sampai ketakutan untuk berbuat salah mengehentikan kegiatan yang akan kita lakukan, mengutip salah satu iklan perusahaan rokok &#8221; Go Ahead!&#8221; lakukan saja, jangan takut !!</span></p>
<div><span style="font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:small;"><span style="line-height:normal;white-space:pre-wrap;"><br />
</span></span></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kasyfisme.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kasyfisme.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kasyfisme.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kasyfisme.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kasyfisme.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kasyfisme.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kasyfisme.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kasyfisme.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kasyfisme.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kasyfisme.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kasyfisme.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kasyfisme.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kasyfisme.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kasyfisme.wordpress.com/614/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=614&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kasyfisme.wordpress.com/2010/02/21/belajar-memahami-manusia-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a0a9cc6eb541a88ad9abeb0caf16115?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">M. A. Kasyfi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari nilai diri &#8230;</title>
		<link>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/12/23/mencari-nilai-diri/</link>
		<comments>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/12/23/mencari-nilai-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 11:04:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kasyfi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[arti kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[kekayaan]]></category>
		<category><![CDATA[kelas sosial]]></category>
		<category><![CDATA[kesetaraan gender]]></category>
		<category><![CDATA[SARA]]></category>
		<category><![CDATA[wanita cantik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kasyfisme.wordpress.com/?p=597</guid>
		<description><![CDATA[Kadang kadang aku ingin bertanya kepada wanita wanita cantik yang gemar bersolek berjam jam di depan cermin, tampil dengan busana seadanya. Dan merasa puas ketika lirikan lirikan pria menatap lebih dari satu kali kepadanya. Atau mereka yang lahir dengan sendok perak, membanggakan atribut yang dia tidak berjuang sedikitpun untuk mengenakannya, atau mungkin manusia manusia berdarah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=597&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kadang kadang aku ingin bertanya kepada wanita wanita cantik yang gemar bersolek berjam jam di depan cermin, tampil dengan busana seadanya. Dan merasa puas ketika lirikan lirikan pria menatap lebih dari satu kali kepadanya. Atau mereka yang lahir dengan sendok perak, membanggakan atribut yang dia tidak berjuang sedikitpun untuk mengenakannya, atau mungkin manusia manusia berdarah biru, yang memiliki kekuasaan yang diturunkan dari orangtuanya, yang didapatkan lagi dari kakeknya terus ke atas..<span id="more-597"></span></p>
<div>
<div>apa nilai diri kalian selain apa yang kalian dapatkan secara cuma cuma?</p>
<p>iya,, kecantikan dan ketampanan kalian, tubuh kalian yang langsing atau tinggi besar, aksesoris kecil atau besar yang melekat dalam diri kalian, apakah ketika aku tanya siapa kalian? kalian mendefinisikan diri kalian dengan semua hal yang kalian dapatkan dengan cuma cuma?</p>
<p>atau kalian memiliki hal lain untuk kalian ceritakan? misalnya sebuah tabiat terpuji yang sudah kalian biasakan dari dulu, atau karakter mulia yang kalian bentuk dengan berkali kali jatuh bangun. ataupun sebuah rumah mungil yang kalian beli dengan keringat sendiri? apakah kalian punya? apakah itu ada? atau kalian masih nyaman bersembunyi di segala hal yang kalian dapatkan secara cuma cuma?</p>
<p>Kalau begitu, bila seandainya bersama sama semua manusia di dunia ini melepaskan atribut yang kita dapatkan secara cuma cuma, entah itu suku, ras, agama yang diturunkan, atau harta benda yang diberi cuma cuma, bila kita telanjangi semuanya,, coba lihatlah diri kita..</p>
<p>aku dan kamu akan tidak jauh berbeda.. kecuali mereka yang sudah berusaha dan mencapai sesuatu yang mereka inginkan, atau mati matian merubah sesuatu yang mereka pikir paling penting dalam jarak hidup mereka yang hanya beberapa puluh tahun..</p>
<p>sedangkan kita, yang belum berbuat apa apa,,, untuk diri kita atau siapapun,, akan hanya berdiri termangu melihat mereka melesat jauh sampai tak terlihat..</p>
<p>ingin seperti mereka? berjuang untuk mendapatkan yang mereka inginkan berjuang untuk menorehkan sejarahnya di dunia ini? atau kenakan saja lagi atribut yang kalian dapatkan cuma cuma, toh dengan itu saja kalian sudah &#8220;sederajat&#8221;&#8230;</p>
<p>jadi, apa nilai diri kalian?</p>
</div>
</div>
<div>Taman Anggrek</div>
<div>23 December 2009</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kasyfisme.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kasyfisme.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kasyfisme.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kasyfisme.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kasyfisme.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kasyfisme.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kasyfisme.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kasyfisme.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kasyfisme.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kasyfisme.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kasyfisme.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kasyfisme.wordpress.com/597/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kasyfisme.wordpress.com/597/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kasyfisme.wordpress.com/597/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=597&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/12/23/mencari-nilai-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a0a9cc6eb541a88ad9abeb0caf16115?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">M. A. Kasyfi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Life in a circle&#8230;.</title>
		<link>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/12/15/life-in-a-circle/</link>
		<comments>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/12/15/life-in-a-circle/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 22:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kasyfi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bosan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup yang rutin]]></category>
		<category><![CDATA[kantor]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[lighting design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kasyfisme.wordpress.com/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[Setelah beberapa hari magang di tempat yang sekarang, rasanya saya mulai mengerti mengapa ada orang orang yang bekerja melakukan hal yang sama bertahun tahun setiap harinya dan tidak merasa bosan ataupun merasa ingin berubah atau mengharap hal yang lebih baik. Karena hidup yang rutin adalah hal yang sangat mudah, seperti halnya titik kelembaman yang selalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=593&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah beberapa hari magang di tempat yang sekarang, rasanya saya mulai mengerti mengapa ada orang orang yang bekerja melakukan hal yang sama bertahun tahun setiap harinya dan tidak merasa bosan ataupun merasa ingin berubah atau mengharap hal yang lebih baik. Karena hidup yang rutin adalah hal yang sangat mudah, seperti halnya titik kelembaman yang selalu kembali ke point semula, ataupun seperti halnya revolusi bumi kepada matahari yang terjadi tanpa memakan energi sedikitpun. Hidup yang rutin itu begitu menggiurkan untuk dijalankan.<span id="more-593"></span></p>
<p>Dalam rutin yang beberapa hari ini saya jalankan, biasanya saya akan berangkat jam setengah tujuh pagi atau jam jutuh. Mengantri busway di halte sunan giri, lalu transit di matraman, transit lagi di senen, lalu di juanda, sampe terakhir baru sampai ke mal taman anggrek. saya akan sampai sekitar Jam 8 pagi atau jam setengah sembilan. langsung ke kantor? tidak, saya akan mengamati dekorasi natal di lantai dasar, atau sejenak duduk dulu di lantai 4, disamping ice rink, mengamati mobil penghalus es berputar putar menghaluskan arena ice skating sambil baca baca catatan seseorang tentang lighting. setelah jam sembilan, baru saya ke latai 6, mengantri lift di lantai tujuh dan sampai ke kantor di lantai 23.</p>
<p>Sampai di kantor saya akan menaruh tas di bawah meja, lalu beralih ke dapur untuk membuat kopi pahit. dan langsugn berkutat dengan program program simulasi. jam 12 makan siang, lalu waktu magrib, atau kalau tidak jam setengah delapan malam pulang. berkutat dengan rute yang sama, dan menunggu ngantuk di rumah dengan segelas air es atau es air, karena memang porsi esnya lebih banyak (dan membuat saya flu akhir akhir ini).</p>
<p>Saya bisa membayangkan kalo saya kerja di sana, akan sangat mudah bagi saya untuk terjebak rutinitas yang sama setiap hari. dan saya bisa akan sangat lembam untuk berubah sehingga 40 tahun dari hari pertama saya kerja di sana, saya akan terbangun dan sadar bahwa saya belum melakukan apa apa . Ah jangan sampai terjadi. Saya harus mencapai impian saya dulu, harus memancangkan karya karya saya di dunia ini, dan harus membuat hidup saya menjadi tidak biasa. sehingga saya bisa menjalankan hari setiap harinya dengan sadar tanpa tertaut pada rutinitas yang bisa dijalankan tanpa berfikir.  Karena itu saya akan sedikit terlambat untuk masuk hari ini, untuk memecah rutinitas, dan membuat menjalani hari hari berikutnya dengan sadar, berbeda, dan penuh energi.</p>
<p>Kasyfi Muhammad</p>
<p>Rawamangun, 15 Desember 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kasyfisme.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kasyfisme.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kasyfisme.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kasyfisme.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kasyfisme.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kasyfisme.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kasyfisme.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kasyfisme.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kasyfisme.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kasyfisme.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kasyfisme.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kasyfisme.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kasyfisme.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kasyfisme.wordpress.com/593/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=593&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/12/15/life-in-a-circle/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a0a9cc6eb541a88ad9abeb0caf16115?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">M. A. Kasyfi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejenak di pancious pancake, memahami arti menikmati..</title>
		<link>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/12/12/sejenak-di-pancious-pancake-memahami-arti-menikmati/</link>
		<comments>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/12/12/sejenak-di-pancious-pancake-memahami-arti-menikmati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 00:43:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kasyfi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[arti kehidupan kenikmatan]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[kue pancake]]></category>
		<category><![CDATA[pacific place]]></category>
		<category><![CDATA[pancious pancake]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kasyfisme.wordpress.com/2009/12/12/sejenak-di-pancious-pancake-memahami-arti-menikmati/</guid>
		<description><![CDATA[Jumat malam, setelah menemani seseorang mengecek instalasi lighting salah satu klien di kawasan pacific place jakarta, kami memutuskan untuk rehat sejenak di pancious pancake untuk mengistirahatkan mata dari silau cahaya lampu yang terus terusan kami tatap dari sore hari, dan mulai membuat titik titik merah kelap kelip setiap kami menebar pandangan. Saya memesan coco pancake [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=591&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Jumat malam, setelah menemani seseorang mengecek instalasi lighting salah satu klien di kawasan pacific place jakarta, kami memutuskan untuk rehat sejenak di pancious pancake untuk mengistirahatkan mata dari silau cahaya lampu yang terus terusan kami tatap dari sore hari, dan mulai membuat titik titik merah kelap kelip setiap kami menebar pandangan.<span id="more-591"></span><br />
Saya memesan <em>coco pancake something</em>, pancake dengan ice cream vanilla dilumuri saus cokelat dan taburan coklat bubuk. Setelah beberapa lama, pesanan pun datang, dan ketika cuplikan pertama dari pancake menyentuh lidah dan rasanya menyebar ke seantero indra pengecap, ketika itu pula seluruh tubuh saya luluh melebur dalam tekstur lembut pancake beraroma susu yang bersimfoni dengan saus coklat. Sentuhan suhu dingin ice cream vanilla merangkum keseluruhan pancake menjadi sebuah maestro citarasa, hilangkan penat dan terbitkan senyum kepuasan, <em>aku akan menikmati perlahan..</em>, kubilang.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2946412&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=237966276368&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=237966276368&amp;id=668265679"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs025.snc3/11242_198372050679_668265679_2946412_1102526_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Tapi saya jadi berfikir, apa yang membuat pancake ini begitu lezat? apa saus coklatnya? saya pikir tidak, karena saya pernah mengecap susu kental manis coklat yang rasanya begitu manis. Tapi ya manis saja, tidak lantas membuat saya memejamkan mata dan menikmati. Apa ice cream vanilla? kupikir rasanya tidak begitu jauh dengan ice cream yang biasa saya rasakan di hajatan perkawinan.</p>
<p>Maka saya pikir justru pancake yang rasanya cenderung datar dan sama sekali tidak memberikan rasa inilah yang membuat hidangan ini menjadi istimewa. Karena dengan mengecap sesuatu yang rasanya datar terlebih dahulu, kenikmatan yang dirasakan akan langsung melonjak begitu lidah kita mengecap hal hal yang memiliki rasa seperti coklat dan vanilla. jadi, sebenarnya pancake yang tidak memiliki rasa inilah yang merangkum sensasi coklat dan vanilla ini menjadi sebuah orkestrasi citarasa yang begitu cantik.</p>
<p>Dan bukankah begitu pula halnya dengan hidup? Nikmat kemenangan hanya bisa dirasakan kalau kita sudah berjuang habis habisan sampai titik darah penghabisan untuk meraih itu. Dan kesulitan kesulitan yang saat ini sedang kita rasakan, untuk mencapai impian impian kita hanya akan membuat garis finish semakin manis ketika dia tiba pada saatnya.</p>
<p>Kesimpulannya, bila kita saat ini sedang mengalami kepahitan dalam hidup kita, sedang mengalami masalah yang menarik narik urat stres kita, maka percayalah, semakin sakit hal ini kalian rasakan, semakin manis pancake yang kalian nikmati ketika kemenangan itu tiba..</p>
<p>Kasyfi Muhammad<br />
Rawamangun, 12 Desember 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kasyfisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kasyfisme.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kasyfisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kasyfisme.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kasyfisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kasyfisme.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kasyfisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kasyfisme.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kasyfisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kasyfisme.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kasyfisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kasyfisme.wordpress.com/591/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kasyfisme.wordpress.com/591/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kasyfisme.wordpress.com/591/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=591&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/12/12/sejenak-di-pancious-pancake-memahami-arti-menikmati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a0a9cc6eb541a88ad9abeb0caf16115?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">M. A. Kasyfi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs025.snc3/11242_198372050679_668265679_2946412_1102526_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Menunda Kebahagiaan..</title>
		<link>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/11/12/menunda-kebahagiaan/</link>
		<comments>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/11/12/menunda-kebahagiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 10:25:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kasyfi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[achan brahm]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[budha]]></category>
		<category><![CDATA[cacing]]></category>
		<category><![CDATA[filasafat]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kasyfisme.wordpress.com/2009/11/12/menunda-kebahagiaan/</guid>
		<description><![CDATA[Diceritakan kembali dari buku : Cacing dan kotoran kesayangannya (Achan Brahm) Seorang pemuda baru saja lulus kuliah dan mulai menapai karir di pekerjaannya. Dia masih single dan merasa tidak bahagia. Dia befikir, sepertinya ketika aku mempunyai pasangan aku akan bahagia . Mereka bertemu di tempat kerjanya, entah kenapa mereka baru saling tertarik saat ini, padahal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=590&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diceritakan kembali dari buku : Cacing dan kotoran kesayangannya (Achan Brahm)</p>
<p>Seorang pemuda baru saja lulus kuliah dan mulai menapai karir di pekerjaannya. Dia masih single dan merasa tidak bahagia. Dia befikir, <em>sepertinya ketika  aku mempunyai pasangan aku akan bahagia </em>.<span id="more-590"></span></p>
<p>Mereka bertemu di tempat  kerjanya, entah kenapa mereka baru saling tertarik saat ini, padahal mereka sudah beberapa bulan berada di satu divisi yang sama. Mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk bersama. Namun si pemuda merasa bahwa  hubungan mereka sangat terbatas, disini dan disana terpancang norma norma susila dan agama yang tidak bisa mereka langgar, kecuali mereka menikah.Dan si pemuda ini  berfikir, <em>saya akan bahagia bila kami sudah menikah nanti </em>.</p>
<p>Pernikahan itu dilakukan dengan sederhana, hanya mengundang kerabat dekat dan teman teman sekantor.  Mereka mendeklarasikan ikrar untuk bersama sehidup semati, orangtua mereka menitikkan air mata, pertanda melepas buah hati mereka ke dunia baru, masa pernikahan. Mereka bulan madu di tempat tempat wisata terkemuka dan menghabiskan malam malam penuh sukacita. Bulan madu berakhir dan mereka kembali ke kehidupan semula, si pemuda ini sadar bahwa dia mendambakan seorang anak untuk dia bisa mencurahkan kasih sayangnya. Dia berfikir, <em> Alangkah indahnya bila kami memiliki anak </em></p>
<p>Setelah satu tahun menikah, mereka dikaruniai anak kembar yang lucu lucu, namun si  pemuda berfikir bahwa mereka harus mencicil rumah sendiri agar bisa leluasa, lalu setelah itu dia  terus saja menunda kebahagaiannya sampai mereka bisa mencicil mobil pertama mereka, menunggu anak mereka besar dan masuk kuliah, lalu menikah, sampai menimang cucu, dan cucunya tumbuh dewasa. Akhirnya di pembaringan terakhirnya si pemuda berkata lagi. <em> Sepertinya ketika aku mati aku akan  bahagia </em></p>
<p>***</p>
<p>Kita sering sekali menunda kebahagiaan kita, kita merasa kita akan merasa bahagia bila sudah memiliki pekerjaan, bila sudah memiliki pasangan, bila kita sudah menikah, bila memiliki kekayaan  berlimpah. Bahkan contoh yang paling banyak adalah mahasiswa yang sedang berkuliah berfikir bahwa ketika mereka memiliki pekerjaan hidup mereka akan berbahagia, sementara yang  sudah bekerja berfikir untuk mengambil S2 karena jenuh dengan pekerjaannya.</p>
<p>Kenapa harus ditunda? setiap masa memiliki sisi pahit dan manisnya, masalahnya adalah apakah kita lebih memfokuskan diri kita pada pahit yang kita rasakan saat ini dan mendambakan manis yang akan kita rasakan nanti, yang belum pasti akan kita dapat? karena bila ini yang dipilih, kita akan seperti mengejar matahari, sebuah pengejaran tanpa akhir yang tidak akan berujung ke arah manapun. Sebuah pengejaran yang akan membuat kita banyak melewatkan manisnya hidup yang sedang kita jalani saat ini.</p>
<p>&#8220;Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah&#8221;<br />
Ini adalah definisi sebenar benarnya dari  mensyukuri hidup, dan kunci untuk mencapai kebahagiaan. dengan mensyukuri keadaan kita saat ini, menikmati hidup kita saat ini, kita akan tahu sejauh mana ktia sudah berlari, hal apa saja yang sudah kita  lewati, dan pencapaian apa yang sudah kita lampaui. silahkan duduk sejenak dan merenungi sudah sampai mana kita  ini? meresapi setiap manis yang saat ini kita rasakan.</p>
<p>Hiduplah saat ini, ini akan membuat  kita punya energi lebih untuk mencapai mimpi mimpi kita berikutnya, jangan terjebak di pengejaran tanpa akhir, sesekali berhentilah sejenak untuk menikmati saat ini, dan bermimpi untukmanisnya  masa depan, sekali lagi jangan menunda nunda untuk merasa bahagia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kasyfisme.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kasyfisme.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kasyfisme.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kasyfisme.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kasyfisme.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kasyfisme.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kasyfisme.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kasyfisme.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kasyfisme.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kasyfisme.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kasyfisme.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kasyfisme.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kasyfisme.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kasyfisme.wordpress.com/590/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=590&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/11/12/menunda-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a0a9cc6eb541a88ad9abeb0caf16115?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">M. A. Kasyfi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Onggokan Pupuk kandang di depan Rumah</title>
		<link>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/11/12/onggokan-pupuk-kandang-di-depan-rumah/</link>
		<comments>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/11/12/onggokan-pupuk-kandang-di-depan-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 10:24:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kasyfi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kasyfisme.wordpress.com/2009/11/12/onggokan-pupuk-kandang-di-depan-rumah/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari sepasang pasangan muda baru pulang dari pergi melancong. Dan ketika mereka sampai di depan rumah, mereka kaget karena melihat pupuk kandang dengan ukuran raksasa teronggok di depan rumah mereka. Baunya menyengat sampai ratusan meter ke segala arah, dan akan bertambah beberapa ratus meter lagi bila hujan turun dan berhenti. Mereka kaget, siapa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=589&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari sepasang pasangan muda baru pulang dari pergi melancong. Dan ketika mereka sampai di depan rumah, mereka kaget karena melihat pupuk kandang dengan ukuran raksasa  teronggok di depan rumah mereka. Baunya menyengat sampai ratusan meter ke segala arah, dan akan bertambah beberapa ratus meter lagi bila hujan turun dan berhenti. Mereka kaget, siapa yang melakukan kejahilan ini? atas alasan apa mereka mendapat onggokan pupuk kandang ini, mereka mencari ke segala arah jejak jejak dari orang yang melakukan ini. Namun sejauh mata memandang, tidak terlihat truk bertuliskan <em>&#8216; kami menjatuhkan pupuk kandang di rumah anda secara tiba tiba</em>&#8216; jalanan lengang kosong, seolah pupuk itu dijatuhkan dari langit, dan mereka mulai bertanya apa salah mereka karena mendapat pupuk kandang ini.<span id="more-589"></span></p>
<p>Keesokan harinya mereka melumuri badan mereka dengan pupuk kandang itu, menaburkan pupuk itu di kepala mereka dan mengantongi sedikit dari pupuk itu, lalu membagi bagikan pupuk itu ke teman dan kerabat dekat mereka, menunjukkan betapa malangnya nasib mereka, namun pupuk kandang teronggok itu tidak hendak pergi, dia masih berdiri bertumpuk di depan rumah mereka, menebarkan bau menyengat ke seantero komplek, sementara si pasangan terus saja membagi bagikan pupuk itu ke orang orang terdekat mereka, berharap  simpati dari teman dan kerabatnya..</p>
<p>Pupuk kandang itu adalah perlambang masalah dan musibah yang kita alami, kita tidak pernah meminta ia datang, dengan begitu saja ia akan hinggap di kehidupan kita. Selama manusia hidup masalah akan terus datang, tinggal bagaimana sikap kita untuk menghadapinya, apakah kita akan menenggelamkan kita dalam masalah itu? mengambil segenggam masalah, menaruhnya di kantong kita  dan membagikannya ke  semua orang yang kita kenal?</p>
<p>Yang seharusnya  dilakukan pasangan itu terhadap  pupuk kandang itu adalah mengambil sekop, dan menguburkan tumpukan pupuk kandang itu di taman di belakang rumah, perlahan saja, karena sekop yang kecil akan membutuhkan waktu berkali kali untuk memindahkan setumpukan besar pupuk kandang itu ke belakang. Dan dengan pasti tumpukan pupuk kandang itu akan segera mengecil dan lama lama hilang, menampilkan kembali keindahan bagian  depan rumah seperti semula.</p>
<p>Bila kembalinya keindahan bagian depan rumah itu belum cukup sebagai balasan kegigihan mereka membersihkan pupuk kandang, tanpa mereka sadari,  pupuk itu akan menyuburkan tanah di pekarangan dan menumbuhkan bunga warna  warni yang menebar semerbak wangi ke seantero rumah, juga ke lingkungan sekitar, membawa keharuman yang menyenangkan untuk tetangga tetangga di sekitar mereka, dan selagi wangi wangi bunga itu memikat penciuman tetangga, pohon pohon di belakang rumah pasangan itu akan berbuah lebih banyak, lebih matang dan lebih ranum, dan sangat berlebih untuk sekedar dimakan sendiri saja,  semua akan  mendapatkan bagiannya, sama sama merasakan manisnya perjuangan si pasangan menguburkan pupuk kandang dibelakang.</p>
<p>Wangi bunga dan buah yang ranum adalah kebijakan dan kedewasaan yang akan kita peroleh ketika kita berhasil menyelesaikan masalah kita. Akan memakan waktu lama dan memerlukan kesabaran yang tinggi, tapi yakinlah bahwa kedewasaan dan kebijakan yang  akan kita dapatkan akan melebihi penderitaan yang kita hadapi.. dan bukan hanya kita yang akan memetik ranumnya dan menghirup wanginya, orang orang sekitar kita juga akan tercerahkan..</p>
<p>Jadi ketika kita mendapatkan  masalah, berbahagialah karena itu adalah pupuk kandang yang diberikan kepada kita, agar kita bisa memetik manfaatnya&#8230;</p>
<p>Diceritakan kembali dari buku : Si cacing dan kotoran kesayangannya (Achan  Brahm)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kasyfisme.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kasyfisme.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kasyfisme.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kasyfisme.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kasyfisme.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kasyfisme.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kasyfisme.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kasyfisme.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kasyfisme.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kasyfisme.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kasyfisme.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kasyfisme.wordpress.com/589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kasyfisme.wordpress.com/589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kasyfisme.wordpress.com/589/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=589&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/11/12/onggokan-pupuk-kandang-di-depan-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a0a9cc6eb541a88ad9abeb0caf16115?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">M. A. Kasyfi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Cerber] Hanif dan Viera (II)</title>
		<link>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/10/12/cerber-hanif-dan-viera/</link>
		<comments>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/10/12/cerber-hanif-dan-viera/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 06:39:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kasyfi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerber]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta monyet]]></category>
		<category><![CDATA[remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kasyfisme.wordpress.com/?p=583</guid>
		<description><![CDATA[Mentari merambat perlahan di hari minggu pagi, sinari hamparan sawah menghijau sejauh mata memandang di dekat rumah Hanif. Hanif sudah siap dari tadi, dia tidak pernah tidur lagi setelah salat subuh, hari ini dia ada kajian ilmu agama di masjid tetangga.  Ia tak sabar ingin mendengarkan siraman rohani dari Ustadz Aziz, kiyai karismatik jebolan gontor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=583&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Mentari merambat perlahan di hari minggu pagi, sinari hamparan sawah menghijau sejauh mata memandang di dekat rumah Hanif. Hanif sudah siap dari tadi, dia tidak pernah tidur lagi setelah salat subuh, hari ini dia ada kajian ilmu agama di masjid tetangga.  Ia tak sabar ingin mendengarkan siraman rohani dari Ustadz Aziz, kiyai karismatik jebolan gontor yang baHanifnya sangat membumi, mudah dicerna, lagipula ada satu hal yang ingin dia tanyakan kepadanya, perihal rasa cinta yang terus meresapi setiap pikiran yang terlewat di kepalanya, ketika Hanif sedang makan, ia membayangkan makan bersama Viera dan dua anaknya yang lucu lucu. Ketika dia duduk di sofa, dia membayangkan Viera sedang bersandar di pundaknya bergelayut manja. Astaghfirullah, pikiran pikiran menyesatkan yang membuat salatnya kian tidak tenang. Dimana mana ada Viera, bahkan ketika dia keluar pintu rumahnya sambil menuntun sepeda federalnya, hendak berangkat menuju surau untuk mengaji pagi ini, dia membayangkan sedang pamit kepada Viera, dan Viera mencium tangannya, seraya mendoakan keselamatan dan berkata</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“jangan pulang malam malam ya..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Ya Allah, ini harus berakhir. Sepeda Hanif terus melaju di keheningan pagi.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">****</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Minggu Siang itu Ada Farah, Wendy, dan Gisel di kamar Viera.. Mereka berpegangan tangan, khusyuk mendengarkan Viera bercerita tentang perasaan cinta yang menderanya. Dia sudah tidak bisa memendamnya lagi, tadi malam dia bermimpi berpegangan tangan dengan Hanif dan berjalan perlahan menuju matahari terbit. Dia yakin ini adalah sebuah pertanda untuk menunjukkan bahwa Hanif memang pria yang diciptakan hanya untuknya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Gue gak tahu, gue udah gak bisa lagi nahan perasaan ini.. gue harus bilang.. tapi gimana?”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Viera menjelaskan dengan perlahan, suaranya melarut dalam isak tangis merindu,  genggaman tangannya dengan mereka memberikan ketenangan yang membuat Viera bisa bercerita dengan leluasa..</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Ya tapi lo tau kan siapa Hanif ? dia tuh manusia langka yang gak mungkin untuk ngejalanin yang namanya pacaran” Ujar gisel mempertanyakan perasaan cinta Viera</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Gue tahu, tapi gue juga gak tahu kenapa gue merasakan perasaan ini.. cinta ini datang dengan  sendirinya tanpa gue sadari..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Ah pasti gara gara kejadian lo sama Hanif sama pak Bun kmaren ya?”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">diantara mereka bertiga hanya Farah yang sekelas dengan Viera.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Mendengar kata kunci Hanif-Viera dan Pak Bun, muka Viera sedikit memerah malu, lalu mendelik ke arah ketiga best friend nya sambil menahan senyumnya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“bener kayaknya Far, liat aja tuh jadi senyum senyum sendiri dia.. emang kejadiannya gimana sih far?” Wendy ikut bicara</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Panjang kalo diceritain wen, tapi emang kalo gue jadi Viera, mungkin gue bakal jatuh cinta juga sama anak rohis kurus kering itu…”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Sepenuh hati Viera menyembunyikan senyum yang terbit di wajahnya karena teringat kejadian di hari itu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“udah deh, gak usah dibahas lagi, pokoknya gue butuh masukan kalian, kalian kan best friend gue, yang paling ngertiin gue, sekarang gue harus gimana?”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Gak ada jalan lain vier, lo harus nembak dia, gak ada jalan lain dari masalah ini kecuali lo nyatain cinta lo sama dia..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Farah terdengar meyakinkan. Sebetik keraguan tersirat di mata Viera, tapi dia juga tahu bahwa ini memang satu satunya cara.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“kalian mau bantu gue kan? Gue gak bisa ngelakuin ini sendirian..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“emang kita siapanya lo vie, tenang aja pasti kita bantu..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“makasih ya.. kalian emang best friend gue, gue gak tahu kalo gak ada kalian gue gimana..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Mereka berempat berpelukan dengan hangat, persahabatan mereka semakin mengantal, kejadian seperti ini yang membuat mereka semakin dekat. Dan ketiganya meneguhkan diri dalam hati akan membantu sepenuh hati best friend mereka, Viera. Selama ini Viera yang dikenal paling kuat, jadi penengah diantara mereka, dan yang melekatkan mereka berempat adalah Viera juga, maka ketika Viera tiba tiba jadi melankolis seperti ini, hati mereka terpanggil untuk mengembalikan senyumannya. Mereka berempat mengatur siasat agar esok hari, senin, selepas jam terakhir, Viera bisa menyatakan cintanya kepada Hanif.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">***</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“jadi, saya harus bagaimana ustadz?” Hanif bertanya dengan mimik serius setelah selesai bercerita panjang lebar mengenai perkaranya di sesi pribadi dengan ustadz azis. Dia benar benar mengharapkan jawaban yang bisa menenangkan dan meredam kegundahan hatinya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Ustadz azis tertawa, dia jadi terkenang masa mudanya ketika dia memendam cinta kepada Annisa fitriyani, santri putri yang sering berpapasan dengannya ketika dia masih di pesantren dulu. Sekarang annisa sudah jadi pendamping setianya untuk di dunia dan mudah mudahan akhirat, mereka menikah di acara nikah massal selepas pesantren. Guru wali mereka yang menjodohkan mereka, dan entah kenapa walinya berpendapat dia cocok sekali dengan annisa, padahal setengah mati Ustadz azis memendam rasa cintanya kepada annisa. Mungkin ini yang dinamakan jodoh, tak akan lari dikejar. Ah masa muda yang penuh cinta.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Ustadz azis menghentikan nostalgia romansa cinta remajanya, dia mengubah mimik menjadi serius dan bertanya kepada Hanif yang sedari tadi menunggu jawaban dengan was was.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Kamu siap untuk menikah, Hanif?”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Ya ampun ustad, saya kan baru kelas dua SMA, bagaimana saya mau nikah? Saya harus kuliah, mencari kerja dulu, lalu berkarya dan berjuang di jalan Allah, baru saat itu saya menikah.. masih lama ustadz”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Kalau begitu kamu tidak ada alasan lagi untuk memendam rasa itu Hanif, “</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Maksud ustadz?”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Rasa itu hanya sebuah reaksi, cara tubuh seusia kamu untuk merespon kejadian yang kamu alami kemarin. “</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Ustadz menunggu sebentar, Kafi terlihat mendengarkan dengan serius, lalu ia melanjutkan..</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Tidak ada obat yang paling manjur untuk cinta selain pernikahan, selain itu, kamu bisa terjerumus di tindakan yang dibenci oleh Allah, yaitu mendekati zina, nauzubillahi mindzalik</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Untuk meredam rasa yang kamu rasakan ini, cobalah untuk berpuasa, atau beristighfar, dan berlindung kepada Allah dari godaan syaithan setiap bayangan bayangan itu muncul lagi. Karena memang bayangan bayangan seperti itu syaitan yang membisikkan. InsyaAllah kalau kamu mengamalkan itu, kamu akan bisa mengatasi ini. “</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Hanif terdiam sejenak, keningnya terlihat berkerut. Akhirnya dia memutuskan untuk menuruti saran dari pak Ustadz ini, mudah mudahan rasa ini bisa hilang dengan sendirinya. Lagipula siapa dia? Bila dibandingkan dengan Viera, hanya prestasi akademis saja yang bisa ia banggakan. Berkali kali dia menduduki ranking satu dan Viera rangking 3, tapi diluar itu dunia mereka berbeda, dia anak tidak mampu, sedangkan Viera? Wah bagaikan pungguk merindukan bulan saja ini. Dan Rasa minder itu semakin memantapkan hati Hanif untuk melawan gejolak rasa ini.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Baiklah Pak ustadz, saya akan coba melaksanakan sarannya, doakan saya ya..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“InsyaAllah Hanif..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Assalamualaikum..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“waalakum salam.”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Hanif sudah memantapkan hati untuk melawan rasa ini, mudah mudahan besok senin anak anak sudah lupa akan kejadian sabtu siang itu. Akhirnya Hanif pulang ke rumah dengan sedikit tenang, berharap semua kan selesai esok hari.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Hanif belum tahu apa yang sudah direncanakan oleh Viera dan Geng nya.</div>
<p>2. Hadapi rasa tertaut</p>
<p>Mentari merambat perlahan di hari minggu pagi, sinari hamparan sawah menghijau sejauh mata memandang di dekat rumah Hanif. Hanif sudah siap dari tadi, dia tidak pernah tidur lagi setelah salat subuh, hari ini dia ada kajian ilmu agama di masjid tetangga.  Ia tak sabar ingin mendengarkan siraman rohani dari Ustadz Aziz, kiyai karismatik jebolan gontor yang baHanifnya sangat membumi, mudah dicerna, lagipula ada satu hal yang ingin dia tanyakan kepadanya, perihal rasa cinta yang terus meresapi setiap pikiran yang terlewat di kepalanya, ketika Hanif sedang makan, ia membayangkan makan bersama Viera dan dua anaknya yang lucu lucu. Ketika dia duduk di sofa, dia membayangkan Viera sedang bersandar di pundaknya bergelayut manja. Astaghfirullah, pikiran pikiran menyesatkan yang membuat salatnya kian tidak tenang. Dimana mana ada Viera, bahkan ketika dia keluar pintu rumahnya sambil menuntun sepeda federalnya, hendak berangkat menuju surau untuk mengaji pagi ini, dia membayangkan sedang pamit kepada Viera, dan Viera mencium tangannya, seraya mendoakan keselamatan dan berkata</p>
<p>“jangan pulang malam malam ya..”</p>
<p>Ya Allah, ini harus berakhir. Sepeda Hanif terus melaju di keheningan pagi.</p>
<p><span id="more-583"></span></p>
<p style="text-align:center;">****</p>
<p>Minggu Siang itu Ada Farah, Wendy, dan Gisel di kamar Viera.. Mereka berpegangan tangan, khusyuk mendengarkan Viera bercerita tentang perasaan cinta yang menderanya. Dia sudah tidak bisa memendamnya lagi, tadi malam dia bermimpi berpegangan tangan dengan Hanif dan berjalan perlahan menuju matahari terbit. Dia yakin ini adalah sebuah pertanda untuk menunjukkan bahwa Hanif memang pria yang diciptakan hanya untuknya.</p>
<p>“Gue gak tahu, gue udah gak bisa lagi nahan perasaan ini.. gue harus bilang.. tapi gimana?”</p>
<p>Viera menjelaskan dengan perlahan, suaranya melarut dalam isak tangis merindu,  genggaman tangannya dengan mereka memberikan ketenangan yang membuat Viera bisa bercerita dengan leluasa..</p>
<p>“Ya tapi lo tau kan siapa Hanif ? dia tuh manusia langka yang gak mungkin untuk ngejalanin yang namanya pacaran” Ujar gisel mempertanyakan perasaan cinta Viera</p>
<p>“Gue tahu, tapi gue juga gak tahu kenapa gue merasakan perasaan ini.. cinta ini datang dengan  sendirinya tanpa gue sadari..”</p>
<p>“Ah pasti gara gara kejadian lo sama Hanif sama pak Bun kmaren ya?”</p>
<p>diantara mereka bertiga hanya Farah yang sekelas dengan Viera.</p>
<p>Mendengar kata kunci Hanif-Viera dan Pak Bun, muka Viera sedikit memerah malu, lalu mendelik ke arah ketiga best friend nya sambil menahan senyumnya.</p>
<p>“bener kayaknya Far, liat aja tuh jadi senyum senyum sendiri dia.. emang kejadiannya gimana sih far?” Wendy ikut bicara</p>
<p>“Panjang kalo diceritain wen, tapi emang kalo gue jadi Viera, mungkin gue bakal jatuh cinta juga sama anak rohis kurus kering itu…”</p>
<p>Sepenuh hati Viera menyembunyikan senyum yang terbit di wajahnya karena teringat kejadian di hari itu.</p>
<p>“udah deh, gak usah dibahas lagi, pokoknya gue butuh masukan kalian, kalian kan best friend gue, yang paling ngertiin gue, sekarang gue harus gimana?”</p>
<p>“Gak ada jalan lain vier, lo harus nembak dia, gak ada jalan lain dari masalah ini kecuali lo nyatain cinta lo sama dia..”</p>
<p>Farah terdengar meyakinkan. Sebetik keraguan tersirat di mata Viera, tapi dia juga tahu bahwa ini memang satu satunya cara.</p>
<p>“kalian mau bantu gue kan? Gue gak bisa ngelakuin ini sendirian..”</p>
<p>“emang kita siapanya lo vie, tenang aja pasti kita bantu..”</p>
<p>“makasih ya.. kalian emang best friend gue, gue gak tahu kalo gak ada kalian gue gimana..”</p>
<p>Mereka berempat berpelukan dengan hangat, persahabatan mereka semakin mengantal, kejadian seperti ini yang membuat mereka semakin dekat. Dan ketiganya meneguhkan diri dalam hati akan membantu sepenuh hati best friend mereka, Viera. Selama ini Viera yang dikenal paling kuat, jadi penengah diantara mereka, dan yang melekatkan mereka berempat adalah Viera juga, maka ketika Viera tiba tiba jadi melankolis seperti ini, hati mereka terpanggil untuk mengembalikan senyumannya. Mereka berempat mengatur siasat agar esok hari, senin, selepas jam terakhir, Viera bisa menyatakan cintanya kepada Hanif.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>“jadi, saya harus bagaimana ustadz?” Hanif bertanya dengan mimik serius setelah selesai bercerita panjang lebar mengenai perkaranya di sesi pribadi dengan ustadz azis. Dia benar benar mengharapkan jawaban yang bisa menenangkan dan meredam kegundahan hatinya.</p>
<p>Ustadz azis tertawa, dia jadi terkenang masa mudanya ketika dia memendam cinta kepada Annisa fitriyani, santri putri yang sering berpapasan dengannya ketika dia masih di pesantren dulu. Sekarang annisa sudah jadi pendamping setianya untuk di dunia dan mudah mudahan akhirat, mereka menikah di acara nikah massal selepas pesantren. Guru wali mereka yang menjodohkan mereka, dan entah kenapa walinya berpendapat dia cocok sekali dengan annisa, padahal setengah mati Ustadz azis memendam rasa cintanya kepada annisa. Mungkin ini yang dinamakan jodoh, tak akan lari dikejar. Ah masa muda yang penuh cinta.</p>
<p>Ustadz azis menghentikan nostalgia romansa cinta remajanya, dia mengubah mimik menjadi serius dan bertanya kepada Hanif yang sedari tadi menunggu jawaban dengan was was.</p>
<p>“Kamu siap untuk menikah, Hanif?”</p>
<p>“Ya ampun ustad, saya kan baru kelas dua SMA, bagaimana saya mau nikah? Saya harus kuliah, mencari kerja dulu, lalu berkarya dan berjuang di jalan Allah, baru saat itu saya menikah.. masih lama ustadz”</p>
<p>“Kalau begitu kamu tidak ada alasan lagi untuk memendam rasa itu Hanif, “</p>
<p>“Maksud ustadz?”</p>
<p>“Rasa itu hanya sebuah reaksi, cara tubuh seusia kamu untuk merespon kejadian yang kamu alami kemarin. “</p>
<p>Ustadz menunggu sebentar, Kafi terlihat mendengarkan dengan serius, lalu ia melanjutkan..</p>
<p>“Tidak ada obat yang paling manjur untuk cinta selain pernikahan, selain itu, kamu bisa terjerumus di tindakan yang dibenci oleh Allah, yaitu mendekati zina, nauzubillahi mindzalik</p>
<p>Untuk meredam rasa yang kamu rasakan ini, cobalah untuk berpuasa, atau beristighfar, dan berlindung kepada Allah dari godaan syaithan setiap bayangan bayangan itu muncul lagi. Karena memang bayangan bayangan seperti itu syaitan yang membisikkan. InsyaAllah kalau kamu mengamalkan itu, kamu akan bisa mengatasi ini. “</p>
<p>Hanif terdiam sejenak, keningnya terlihat berkerut. Akhirnya dia memutuskan untuk menuruti saran dari pak Ustadz ini, mudah mudahan rasa ini bisa hilang dengan sendirinya. Lagipula siapa dia? Bila dibandingkan dengan Viera, hanya prestasi akademis saja yang bisa ia banggakan. Berkali kali dia menduduki ranking satu dan Viera rangking 3, tapi diluar itu dunia mereka berbeda, dia anak tidak mampu, sedangkan Viera? Wah bagaikan pungguk merindukan bulan saja ini. Dan Rasa minder itu semakin memantapkan hati Hanif untuk melawan gejolak rasa ini.</p>
<p>“Baiklah Pak ustadz, saya akan coba melaksanakan sarannya, doakan saya ya..”</p>
<p>“InsyaAllah Hanif..”</p>
<p>“Assalamualaikum..”</p>
<p>“waalakum salam.”</p>
<p>Hanif sudah memantapkan hati untuk melawan rasa ini, mudah mudahan besok senin anak anak sudah lupa akan kejadian sabtu siang itu. Akhirnya Hanif pulang ke rumah dengan sedikit tenang, berharap semua kan selesai esok hari.</p>
<p>Hanif belum tahu apa yang sudah direncanakan oleh Viera dan Geng nya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kasyfisme.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kasyfisme.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kasyfisme.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kasyfisme.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kasyfisme.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kasyfisme.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kasyfisme.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kasyfisme.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kasyfisme.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kasyfisme.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kasyfisme.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kasyfisme.wordpress.com/583/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kasyfisme.wordpress.com/583/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kasyfisme.wordpress.com/583/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=583&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/10/12/cerber-hanif-dan-viera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a0a9cc6eb541a88ad9abeb0caf16115?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">M. A. Kasyfi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Cerber] Hanif dan Viera</title>
		<link>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/10/10/cerber-hasan-dan-vira/</link>
		<comments>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/10/10/cerber-hasan-dan-vira/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 10:24:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kasyfi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerber]]></category>
		<category><![CDATA[cerita remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta monyet]]></category>
		<category><![CDATA[sma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kasyfisme.wordpress.com/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[1. Sejarah yang melewati waktu Ada yang mengganggu Hanif akhir akhir ini. Dan sebenernya dia tahu apa itu. Nilainya yang cemerlang di pelajaran biologi membuat dia mengetahui apa yang terjadi. Gejolak hormon di tubuhnya memberikan efek samping, sebuah rasa, rasa yang sulit terdefinisi, sebuah sensasi yang membuatnya tersenyum dalam kesendiriannya, lalu beristighfar setelahnya, atau membuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=577&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Sejarah yang melewati waktu</p>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Ada yang mengganggu Hanif akhir akhir ini. Dan sebenernya dia tahu apa itu. Nilainya yang cemerlang di pelajaran biologi membuat dia mengetahui apa yang terjadi. Gejolak hormon di tubuhnya memberikan efek samping, sebuah rasa, rasa yang sulit terdefinisi, sebuah sensasi yang membuatnya tersenyum dalam kesendiriannya, lalu beristighfar setelahnya, atau membuat dia berhalusinasi mendengar sang kekasih memanggil dengan mesra..</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Hanif…”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Dan sepenuh hati dia ingin menjawab seruan itu dengan mesra..</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“iya Viera sayang…”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Hanif..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">ah suara sebening embun itu begitu halus mengalun di telinganya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“iya sayang…”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Hanif….  Buruan ke sini, bantuin ibu sebentar mengganti lampu depan nih, putus sepertinya, jadi ruang depan gelap sekali, takut ada tikus masuk…”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Astaghfirullah, ternyata ibu yang memanggil, pikir Hanif</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Iya bu sebentar, Hanif lagi ngerjain PR..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Hanif menatap bukunya, seharusnya 10 soal PR itu bisa diselesaikan kurang dari 2 jam,  tapi dilihatnya baru 2 nomor pertama yang sudah dikerjakan, entah apa saja yang dia lakukan 2 jam ini, ah cinta ini mulai membunuhku.. pikirnya. Sekarang dia mengerti apa yang dirasakan D’Massive waktu menciptakan lagu itu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Namun malam itu sebenernya Hanif tidak sendiri, di sisi lain kota bogor nan sejuk karena sorenya hujan besar, di bilangan perumahan elit taman yasmin, seorang putri jelita sedang tersudut di kasurnya seraya memeluk erat bantal wanginya. Waktu tidur sudah lewat dua jam yang lalu, tapi matanya enggan terpejam jua, karena entah kenapa bibirnya terus menyunggingkan senyum. Bibirnya sedikit dia gigit untuk menahan rasa yang terus membuncah dari relung jiwa terdalamnya, entah kenapa remaja yang kulitnya terbakar matahari dan bertubuh kurus kering itu terus terbayang di benak Viera.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Viera tidak bisa melupakan kejadian yang menyebabkan rasa itu terbit di hatinya. Saat itu siang hari sedang membakar atap atap rendah sekolah menengah atas 5 Bogor, tempat keduanya bersekolah. Bila sinar matahari tidak cukup membakar habis kesabaran siswa siswi yang sekolah di jam terakhir waktu itu, maka pelajaran sejarah yang terkenal amat sangat membosankan, ditambah lagi gurunya sudah jadi musuh bersama, makin memanaskan emosi siswa siswi saat itu. Sebagian mereka terus saja menatap jam dinding di atas papan tulis dan menyaksikan jarum detik bergerak ke angka 1 lalu 2 dan seterusnya. Sebagian yang lain mendekatkan jam tangannya ke telinga, mengecek apakah jamnya masih hidup atau kehabisan baterei, karena entah kenapa waktu terasa berhenti dan berjalan sangat lambat, mungkin inilah yang dimaksud Fisikawan tersohor Albert Einstein, bahwa waktu itu relatif.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Sudah 10 menit Jam pulang dilanggar Pak Bun, kependekan dari Bunawan, guru sejarah yang cukup sulit untuk disukai itu, kekesalan siswa siswi di kelas itu semakin menusuk nusuk di ubun ubun mereka, termasuk Viera, ditambah lagi dari tadi pagi Viera belum makan, lengkaplah sudah penderitaan lahir batin yang dialaminya. Dan Viera juga tahu, sebagai siswi yang dikenal tukang protes di kelas, saat ini dia yang jadi harapan siswa siswi yang tertindas di belakangnya. Di pundaknya tergantung harapan puluhan siswa siswi yang nasibnya ingin diperjuangkan. Dia bisa tahu karena dia mulai merasakan tatap mata yang panas terasa di belakang kepalanya, seolah mereka sama sama berkata dalam hati</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Viera!!!.. cepetan ngomong!!!!”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Dan sampai di satu titik tiba tiba tangan kanan Viera bergerak sendiri ke atas dan mulutnya tiba tiba membuka dan mengeluarkan suara.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Pak!!”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Akhirnya Viera mengacungkan tangannya. Kalau ada yang menyentuh ujung jarinya, pasti dia bisa merasakan kegugupan yang dirasakan Viera. Tapi rasa lapar di perutnya dan desakan teman temannya membuat dia berenergi lebih untuk menantang kediktatoran Pak Bun.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Pak Bunawan mengangkat wajahnya yang terhalang oleh buku, dan bersuara seperti kodok yang obesitas. Setiap nada yang keluar dari mulutnya bertujuan untuk mengintimidasi..</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Ya.. vi-e-ra..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Viera mengumpulkan keberaniannya dan berkata dengan lantang</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Jam sejarah sudah habis Pak, saya yakin banyak dari temen temen yang belum salat zuhur.”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Aduh, kenapa salat yang jadi alasan, pikir Viera, pasti orang orang akan berfikir bahwa dia sok agamis. Tapi mimik muka Viera pura pura yakin dengan argumentasinya, menunggu kalimat balasan dari Pak Bun dengan mata yang menohok tajam.  Pak Bun menatap Viera sekitar satu menit, membiarkan kelas larut dalam suasana yang tegang mencekam, dan tak disangka sangka akhirnya dia melanjutkan lagi pelajarannya dengan nada yang sama, datar dan membosankan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“jadi pada zaman revolusi inggris, james watt telah…”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Merasa diabaikan, Viera berteriak sekali lagi</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Pak..!!”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“SAYA DENGAR VIERA!!”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“SAYA TIDAK TULI!!”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Suara bentakan Pak Bun yang nyaring dan tajam membahana ke setiap sisi kelas. Diteriaki seperti itu, Viera jadi terdiam, matanya nanar bersirobok dengan mata Pak Bun. Kelas hening seketika, yang dari tadi tertidur di meja dibangunkan oleh teman sebelahnya. Viera yang tersentak karena dibentak akhirnya tidak bisa berkata kata lagi. Hanya menatap lurus ke mata Pak Bun, berharap tatapannya bisa membuat Pak Bun Gentar.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Seorang laki laki kurus kering di bangku sebelah kanan belakang, Hanif, sebenarnya sudah mengumpulkan keberanian dari tadi. Tapi tangan kanannya masih berat untuk terangkat, namun suasana kelas yang semakin mendesak dan menggencet akhirnya membuatnya pita suaranya berteriak tanpa mengacungkan tangan dahulu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Apa Bapak melarang kita untuk salat??!!!!”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Suaranya bergetar getar karena gugup, tapi perhatian kelas telah terambil olehnya, termasuk perhatian Pak Bun kelas hening lagi. Merasa mendapat dukungan moral dari Hanif, Viera langsung merasakan gelombang kelegaan di sekujur tubuhnya. Merambati kedua tangannya, dan naik ke kedua mata, mengalirkan linangan hangat di kedua pipinya yang menentramkan, dan menyunggingkan senyum termanis yang pernah dia berikan untuk seseorang, untuk Hanif, penyelamatnya. Dia menoleh ke arah datangnya suara, di daerah kanan belakang. Dilihatnya pemuda kurus kering itu dengan rasa berbunga, matanya sedang menatap lurus ke depan, menerjang Pak Bun.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Pak Bun bisa menindas satu orang yang memprotesnya, apalagi bila yang memprotesnya perempuan, tapi ditambah satu orang lagi, siswa anak rohis yang terkenal kritis terhadap masalah agama, Hanif Hamzah, dan tatapan mata satu kelas, terlalu banyak untuknya. Dia memalingkan muka dengan hina dan meninggalkan kelas dengan terburu buru. Tas dan berkasnya ditinggalkan.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Viera masih menatap Hanif ketika Hanif sedang membereskan buku bukunya dengan tenang. Di matanya yang berkabut, Hanif tampak bercahaya. Akhirnya Viera memberanikan diri untuk berdiri, membereskan roknya, dan berjalan mendekati Hanif, menatap matanya, sambil berkata.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“Makasih ya…. Hanif” Viera tersenyum, manis sekali..</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Yang diberi terima kasih hanya melongo, shock melihat sosok cantik di hadapannya tersenyum kepadanya. Senyuman termanis yang pernah dia lihat. Hanif hanya bisa berkata..</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">“…Kamu cantik sekali..”</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Astaghfirullah!, apa yang dia katakan tadi? Hanif langsung beranjak dengan tergesa gesa, mukanya merah karena malu tidak bisa mengontrol perasaannya, dia  keluar kelas menuju masjid, dia butuh ketenangan. Sayup sayup dia mendengar teriakan riuh anak anak sekelasnya di belakangnya.. oh Tuhan apa yang sudah saya katakan tadi??.</div>
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Dan malam itu di kamar Viera, kalau kenangan Viera sudah sampai di saat dimana Hanif mengatakan kalau dia cantik, Viera akan membenamkan wajahnya ke dalam bantal, memeluknya lebih erat lagi dan menahan keinginan untuk berteriak sekeras kerasnya karena kegirangan.  Malam itu hanya ada Hanif yang bertahta di benaknya. Bulan pun tersenyum menyaksikan dua anak manusia memendam rindu kepada satu sama lain. Kalau saja mereka saling mengetahui apa yang mereka rasakan. Remaja yang saling memendam suka, bukankah itu hal yang terindah?</div>
<p>Ada yang mengganggu Hanif akhir akhir ini. Dan sebenernya dia tahu apa itu. Nilainya yang cemerlang di pelajaran biologi membuat dia mengetahui apa yang terjadi. Gejolak hormon di tubuhnya memberikan efek samping, sebuah rasa, rasa yang sulit terdefinisi, sebuah sensasi yang membuatnya tersenyum dalam kesendiriannya, lalu beristighfar setelahnya, atau membuat dia berhalusinasi mendengar sang kekasih memanggil dengan mesra..</p>
<p>“Hanif…”</p>
<p>Dan sepenuh hati dia ingin menjawab seruan itu dengan mesra..</p>
<p>“iya Viera sayang…”</p>
<p>“Hanif..”</p>
<p>ah suara sebening embun itu begitu halus mengalun di telinganya.</p>
<p>“iya sayang…”</p>
<p>“Hanif….  Buruan ke sini, bantuin ibu sebentar mengganti lampu depan nih, putus sepertinya, jadi ruang depan gelap sekali, takut ada tikus masuk…”</p>
<p>Astaghfirullah, ternyata ibu yang memanggil, pikir Hanif</p>
<p>“Iya bu sebentar, Hanif lagi ngerjain PR..”</p>
<p><span id="more-577"></span></p>
<p>Hanif menatap bukunya, seharusnya 10 soal PR itu bisa diselesaikan kurang dari 2 jam,  tapi dilihatnya baru 2 nomor pertama yang sudah dikerjakan, entah apa saja yang dia lakukan 2 jam ini, ah cinta ini mulai membunuhku.. pikirnya. Sekarang dia mengerti apa yang dirasakan D’Massive waktu menciptakan lagu itu.</p>
<p>Namun malam itu sebenernya Hanif tidak sendiri, di sisi lain kota bogor nan sejuk karena sorenya hujan besar, di bilangan perumahan elit taman yasmin, seorang putri jelita sedang tersudut di kasurnya seraya memeluk erat bantal wanginya. Waktu tidur sudah lewat dua jam yang lalu, tapi matanya enggan terpejam jua, karena entah kenapa bibirnya terus menyunggingkan senyum. Bibirnya sedikit dia gigit untuk menahan rasa yang terus membuncah dari relung jiwa terdalamnya, entah kenapa remaja yang kulitnya terbakar matahari dan bertubuh kurus kering itu terus terbayang di benak Viera.</p>
<p>Viera tidak bisa melupakan kejadian yang menyebabkan rasa itu terbit di hatinya. Saat itu siang hari sedang membakar atap atap rendah sekolah menengah atas 5 Bogor, tempat keduanya bersekolah. Bila sinar matahari tidak cukup membakar habis kesabaran siswa siswi yang sekolah di jam terakhir waktu itu, maka pelajaran sejarah yang terkenal amat sangat membosankan, ditambah lagi gurunya sudah jadi musuh bersama, makin memanaskan emosi siswa siswi saat itu. Sebagian mereka terus saja menatap jam dinding di atas papan tulis dan menyaksikan jarum detik bergerak ke angka 1 lalu 2 dan seterusnya. Sebagian yang lain mendekatkan jam tangannya ke telinga, mengecek apakah jamnya masih hidup atau kehabisan baterei, karena entah kenapa waktu terasa berhenti dan berjalan sangat lambat, mungkin inilah yang dimaksud Fisikawan tersohor Albert Einstein, bahwa waktu itu relatif.</p>
<p>Sudah 10 menit Jam pulang dilanggar Pak Bun, kependekan dari Bunawan, guru sejarah yang cukup sulit untuk disukai itu, kekesalan siswa siswi di kelas itu semakin menusuk nusuk di ubun ubun mereka, termasuk Viera, ditambah lagi dari tadi pagi Viera belum makan, lengkaplah sudah penderitaan lahir batin yang dialaminya. Dan Viera juga tahu, sebagai siswi yang dikenal tukang protes di kelas, saat ini dia yang jadi harapan siswa siswi yang tertindas di belakangnya. Di pundaknya tergantung harapan puluhan siswa siswi yang nasibnya ingin diperjuangkan. Dia bisa tahu karena dia mulai merasakan tatap mata yang panas terasa di belakang kepalanya, seolah mereka sama sama berkata dalam hati</p>
<p>“Viera!!!.. cepetan ngomong!!!!”</p>
<p>Dan sampai di satu titik tiba tiba tangan kanan Viera bergerak sendiri ke atas dan mulutnya tiba tiba membuka dan mengeluarkan suara.</p>
<p>“Pak!!”</p>
<p>Akhirnya Viera mengacungkan tangannya. Kalau ada yang menyentuh ujung jarinya, pasti dia bisa merasakan kegugupan yang dirasakan Viera. Tapi rasa lapar di perutnya dan desakan teman temannya membuat dia berenergi lebih untuk menantang kediktatoran Pak Bun.</p>
<p>Pak Bunawan mengangkat wajahnya yang terhalang oleh buku, dan bersuara seperti kodok yang obesitas. Setiap nada yang keluar dari mulutnya bertujuan untuk mengintimidasi..</p>
<p>“Ya.. vi-e-ra..”</p>
<p>Viera mengumpulkan keberaniannya dan berkata dengan lantang</p>
<p>“Jam sejarah sudah habis Pak, saya yakin banyak dari temen temen yang belum salat zuhur.”</p>
<p>Aduh, kenapa salat yang jadi alasan, pikir Viera, pasti orang orang akan berfikir bahwa dia sok agamis. Tapi mimik muka Viera pura pura yakin dengan argumentasinya, menunggu kalimat balasan dari Pak Bun dengan mata yang menohok tajam.  Pak Bun menatap Viera sekitar satu menit, membiarkan kelas larut dalam suasana yang tegang mencekam, dan tak disangka sangka akhirnya dia melanjutkan lagi pelajarannya dengan nada yang sama, datar dan membosankan.</p>
<p>“jadi pada zaman revolusi inggris, james watt telah…”</p>
<p>Merasa diabaikan, Viera berteriak sekali lagi</p>
<p>“Pak..!!”</p>
<p>“SAYA DENGAR VIERA!!”</p>
<p>“SAYA TIDAK TULI!!”</p>
<p>Suara bentakan Pak Bun yang nyaring dan tajam membahana ke setiap sisi kelas. Diteriaki seperti itu, Viera jadi terdiam, matanya nanar bersirobok dengan mata Pak Bun. Kelas hening seketika, yang dari tadi tertidur di meja dibangunkan oleh teman sebelahnya. Viera yang tersentak karena dibentak akhirnya tidak bisa berkata kata lagi. Hanya menatap lurus ke mata Pak Bun, berharap tatapannya bisa membuat Pak Bun Gentar.</p>
<p>Seorang laki laki kurus kering di bangku sebelah kanan belakang, Hanif, sebenarnya sudah mengumpulkan keberanian dari tadi. Tapi tangan kanannya masih berat untuk terangkat, namun suasana kelas yang semakin mendesak dan menggencet akhirnya membuatnya pita suaranya berteriak tanpa mengacungkan tangan dahulu.</p>
<p>“Apa Bapak melarang kita untuk salat??!!!!”</p>
<p>Suaranya bergetar getar karena gugup, tapi perhatian kelas telah terambil olehnya, termasuk perhatian Pak Bun kelas hening lagi. Merasa mendapat dukungan moral dari Hanif, Viera langsung merasakan gelombang kelegaan di sekujur tubuhnya. Merambati kedua tangannya, dan naik ke kedua mata, mengalirkan linangan hangat di kedua pipinya yang menentramkan, dan menyunggingkan senyum termanis yang pernah dia berikan untuk seseorang, untuk Hanif, penyelamatnya. Dia menoleh ke arah datangnya suara, di daerah kanan belakang. Dilihatnya pemuda kurus kering itu dengan rasa berbunga, matanya sedang menatap lurus ke depan, menerjang Pak Bun.</p>
<p>Pak Bun bisa menindas satu orang yang memprotesnya, apalagi bila yang memprotesnya perempuan, tapi ditambah satu orang lagi, siswa anak rohis yang terkenal kritis terhadap masalah agama, Hanif Hamzah, dan tatapan mata satu kelas, terlalu banyak untuknya. Dia memalingkan muka dengan hina dan meninggalkan kelas dengan terburu buru. Tas dan berkasnya ditinggalkan.</p>
<p>Viera masih menatap Hanif ketika Hanif sedang membereskan buku bukunya dengan tenang. Di matanya yang berkabut, Hanif tampak bercahaya. Akhirnya Viera memberanikan diri untuk berdiri, membereskan roknya, dan berjalan mendekati Hanif, menatap matanya, sambil berkata.</p>
<p>“Makasih ya…. Hanif” Viera tersenyum, manis sekali..</p>
<p>Yang diberi terima kasih hanya melongo, shock melihat sosok cantik di hadapannya tersenyum kepadanya. Senyuman termanis yang pernah dia lihat. Hanif hanya bisa berkata..</p>
<p>“…Kamu cantik sekali..”</p>
<p>Astaghfirullah!, apa yang dia katakan tadi? Hanif langsung beranjak dengan tergesa gesa, mukanya merah karena malu tidak bisa mengontrol perasaannya, dia  keluar kelas menuju masjid, dia butuh ketenangan. Sayup sayup dia mendengar teriakan riuh anak anak sekelasnya di belakangnya.. oh Tuhan apa yang sudah saya katakan tadi??.</p>
<p>Dan malam itu di kamar Viera, kalau kenangan Viera sudah sampai di saat dimana Hanif mengatakan kalau dia cantik, Viera akan membenamkan wajahnya ke dalam bantal, memeluknya lebih erat lagi dan menahan keinginan untuk berteriak sekeras kerasnya karena kegirangan.  Malam itu hanya ada Hanif yang bertahta di benaknya. Bulan pun tersenyum menyaksikan dua anak manusia memendam rindu kepada satu sama lain. Kalau saja mereka saling mengetahui apa yang mereka rasakan. Remaja yang saling memendam suka, bukankah itu hal yang terindah?</p>
<div><em>to be continued..</em></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kasyfisme.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kasyfisme.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kasyfisme.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kasyfisme.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kasyfisme.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kasyfisme.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kasyfisme.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kasyfisme.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kasyfisme.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kasyfisme.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kasyfisme.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kasyfisme.wordpress.com/577/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kasyfisme.wordpress.com/577/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kasyfisme.wordpress.com/577/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=577&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/10/10/cerber-hasan-dan-vira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a0a9cc6eb541a88ad9abeb0caf16115?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">M. A. Kasyfi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ayo budayakan bilang makasih!</title>
		<link>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/09/30/ayo-budayakan-bilang-makasih/</link>
		<comments>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/09/30/ayo-budayakan-bilang-makasih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 17:09:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kasyfi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[budaya berterima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[budi pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[sopan]]></category>
		<category><![CDATA[sopan santun]]></category>
		<category><![CDATA[tata krama]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kasyfisme.wordpress.com/2009/09/30/ayo-budayakan-bilang-makasih/</guid>
		<description><![CDATA[*******: Sy bilang,,itu kan bukan taken for granted yg udh mereka lakukan buat kita *******: Pake tekad,keinginan untuk bikin kita puas sm service mereka *******: Jadi sudah selayaknya kita bilang makasih Pernah liat ada penumpang ribut sama kondektur bis gara gara masalahtempat duduk atau musik yang distel? atau pelanggan yang bertengkar sama kasir warnet gara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=575&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>*******: Sy bilang,,itu kan bukan taken for granted yg udh mereka lakukan buat kita<br />
*******: Pake tekad,keinginan untuk bikin kita puas sm service mereka<br />
*******: Jadi sudah selayaknya kita bilang makasih</p>
<p>Pernah liat ada penumpang ribut sama kondektur bis gara gara masalahtempat duduk atau musik yang distel? atau pelanggan yang bertengkar sama kasir warnet gara gara salah print? orang yang senang mengintimidasi sales promotion girl/boy di counter counter leptop? atau orang yang adu omongan sama tukang tambal ban..?</p>
<p>Sebenernya agak malu mengakui tapi itu hal yang pernah saya lakukan, sebagai orang yang selalu merasa menetapkan standar tinggi untuk segala sesuatu termasuk pelayanan, saya selalu menuntut orang untuk selalu profesional dalam pekerjaannya, pelayan harus benar benar bisa melayani dan tidak membeda bedakan antara pelanggan yang sopan, ataupun pelanggan yang nyebelin. Kalau ada kesalahan dalam produk yang saya beli saya akan protes sekeras kerasnya, jangan sampe ada kerugian yang harus saya tanggung karena ketidakprofesionalan dia ketika mengerjakan tugasnya.</p>
<p>Tapi belakangan saya sepertinya agak terpengaruh sama orang yang sering berinteraksi sama saya lewat YM akhir akhir ini, dan salah satunya adalah mengenai perkara pelayanan ini, seperti bisa dilihat di cuplikan pembicaraan di atas yang di-bold, dia punya alasan yang cukup bagusdan bisa saya terima untuk bisa berterima kasih sama siapapun, berbeda dengan saya yang hanya mengucapkan terima kasih sambil lalu atau hanya tengkyu tengkyu hambar sambil lewat tanpa benar benar memberi makna pada ucapannya.</p>
<p>Nah, selama tiga hari saya di bandung kemarin untuk ngurus ketebelece pernilaianismeisasi, saya coba coba untuk yah agak memakai idealisme dia dan mengucapkan terima kasih sambil agak sedikit lebih menghargai mereka&#8230;</p>
<p>@Gramedia</p>
<p>sy : maaf mas (saya jarang pakek kata maap untuk meminta sesuatu karena memang tidak beralasan, hehe) kalo bukunya ngefren sama islamnya teguh iman pradana dimana ya?<br />
si mas penjaga buku (SMPB) : oh, kalo itu kan buku karangan mizan ya, biasanya ada di sebelah sana mas, tapi bukunya memang dicampur jadi memang perlu dicari satu satu..<br />
sy : baik mas, makasih ya.. (1 point)</p>
<p>LUAR BIASA!! dia ngomong lebih sopan lagi sama saya, bahkan pakek sambil sedikit nunduk nunduk segala,, saya jadi merasa dihormati dan dilayani dengan lebih baik ,, hehe&#8230;</p>
<p>@angkot<br />
pas saya pulang ke rumah naek angkot saya agak kesel karena pengemudinya ugal ugalan, padahal di belakang ada pasangan muda yang bawa bayi, mo negur rada takut juga soalnya agak sangar wajahnya si emang sopirnya teh,, ternyata si supir malah lewat jalan yang diluar trayek dia, akhirnya saya harus berhenti di tengah jalan..<br />
&#8220;kiri mang&#8230;&#8221;<br />
saya ngasi uang ongkos yang pas sambil bilang<br />
&#8220;mangga a.. nuhun&#8221;<br />
karena gak lewat jalur biasanya saya harus jalan beberapa meter lagi berarti, ah sudah terbayang malas nya..<br />
tapi tiba tiba si supir lewat rute yang saya lewati juga<br />
&#8220;a,, bade ka payun? sareng we atuh..&#8221;<br />
jah, ternyata dianterin lagi saya sampe depan gang deket rumah..</p>
<p>Ah memang manusia itu sederhana, manusia itu cuma ingin dihormati, dan bagi yang agak sulit untuk memulai duluan menghormati orang, mereka hanya perlu dihormati lebih dahulu, dan manfaatnya nanti akan balik lagi ke kita. kalo setelah bertengkar biasanya saya meninggalkan arena dengan perasaan menang dan dongkol di dalam hati, tapi selama tiga hari kemarin saya selalu meninggalkan arena dengan perasaan menang dan lega dalam hati. merasa menang karena keinginan saya dipenuhi dan lega karena sama sama merasa saling dihormati..</p>
<p>jadi? ayo budayakn bilang makasih sama orang orang sekeliling kita, sama kondektur bis yang tiap hari bergelantungan memegang pipa besi yang menempel di atap dengan wajah kusut, atau supir angkot yang terlihat cemberut, kata terima kasih yang sepele yang kita ucapkan akan memiliki dampak besar buat mereka.. minimal meskipun pelayanan mereka tidak profesional, dengan mengucapkan terima kasih kita seperti memberikan penyemangat yang menyenangkan, bukan cambuk..</p>
<p>terima kasih&#8230;. ^_^</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kasyfisme.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kasyfisme.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kasyfisme.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kasyfisme.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kasyfisme.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kasyfisme.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kasyfisme.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kasyfisme.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kasyfisme.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kasyfisme.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kasyfisme.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kasyfisme.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kasyfisme.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kasyfisme.wordpress.com/575/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=575&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/09/30/ayo-budayakan-bilang-makasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a0a9cc6eb541a88ad9abeb0caf16115?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">M. A. Kasyfi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendapat subjektif kontestan pilpres 2009</title>
		<link>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/07/03/pendapat-subjektif-kontestan-pilpres-2009/</link>
		<comments>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/07/03/pendapat-subjektif-kontestan-pilpres-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 17:44:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kasyfi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[jusuf kalla]]></category>
		<category><![CDATA[megawati]]></category>
		<category><![CDATA[pilpres]]></category>
		<category><![CDATA[pilpres 2009]]></category>
		<category><![CDATA[presiden]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kasyfisme.wordpress.com/?p=568</guid>
		<description><![CDATA[Calon A Dia ini seorang phlegmatis, dalam buku raport **** merah semua yang isinya memang mengkritik pemerintahannya dengan menampilkan fakta yang memang terjadi, disitu dijelaskan bahwa dalam masa pemerintahannya, dia dikenal sebagai presiden yang cepat mengambil keputusan. karena apa? karena ketika dia diminta pendapat oleh menterinya dalam pengambilan keputusan, dia akan menanya balik. menurut bapak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=568&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Calon A</strong></p>
<p>Dia ini seorang phlegmatis, dalam buku raport **** merah semua yang isinya memang mengkritik pemerintahannya dengan menampilkan fakta yang memang terjadi, disitu dijelaskan bahwa dalam masa pemerintahannya, dia dikenal sebagai presiden yang cepat mengambil keputusan. karena apa? karena ketika dia diminta pendapat oleh menterinya dalam pengambilan keputusan, dia akan menanya balik. menurut bapak bagaimana? bapak yang lebih ngerti kan? hehe. kalo gitu ngapain ada presiden, udah aja menteri semua. ditambah koordinator menteri.<span id="more-568"></span></p>
<p>Kembali ke masalah perdebatan, calon A ini terlihat senang sekali berputar putar dalam kata kata fancy, yang akhirnya malah menghindari jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh moderator. jawaban langganannya adalah <em>ini harus diperbaiki, ini harus dicari solusinya</em>, tapi dia tidak menjelaskan lebih lanjut apa solusi yang sudah dia fikirkan, ataupun hal spesifik apa yang mungkin bisa dia perbaiki sekiranya dia terpilih. Tapi setidaknya dia sudah menyelesaikan setengah dari masalah dengan memetakan masalahnya..</p>
<p>Hal positif yang saya soroti dari calon ini adalah ketika dia berbicara mengenai nasionalisme, saya melihat emosi yang berapi api di nada bicaranya. Jadi setidaknya saya tahu bahwa dia memiliki satu dari banyak kriteria yang saya pikir dibutuhkan untuk memimpin bangsa.</p>
<p>Tapi dari hati terdalam saya berharap beliau tidak diikutkan lagi dalam debat capres selanjutnya..<br />
dia beruntung hidup di indonesia yang masyarakatnya sangat toleran..</p>
<p>Satu tempat yang saya pikir cocok untuknya mungkin adalah sebagai actuator dan sebagai lidah penyambung hati rakyat. Dia mungkin tidak punya gaya bicara yang berapi api, dia mungkin bukan seorang mastermind, tapi dia punya kharisma dan image yang berwibawa di hadapan rakyat yang dia dapat secara cuma cuma. Yang harus dia lakukan hanyalah  dilahirkan&#8230;</p>
<p>Iklan :</p>
<p>Saya tidak suka iklan dia yang bernada black campaign tentang pendidikan itu.. benar? mungkin saja, tapi ya kenapa sih harus menginjak kepala calon lain untuk berdiri lebih tinggi?</p>
<p>Dalam iklan lain, dia menyiapkan para selebriti untuk mengkampanyekan bahwa dia yang terbak dalam segala hal, tanpa menyebutkan kenapa dia yang terbaik? atau fakta riwayat hidup yang mendukung premis bahwa dia adalah yang terbaik. Saya menyimpulkan bahwa disini, segmentasi pasar dia adalah masyarakat yang cuma harus diyakinkan, bukan diberi pencerdasan, agar memilih dia nanti..<br />
<strong>Calon B</strong></p>
<p>Yang ini seorang sanguinis koleris, orangnya terlihat sangat temperamental, seorang penampil, maka dia terlihat sangat menguasai panggung. Bila dia mendapat giliran yang terakhir dalam berbicara setelah dua calon sebelumnya, dia akan memberikan pendapat yang dimulai dengan kalimat yang terdengar sangat berbeda dengan dua pendapat sebelumnya. Upaya ini saya kira merupakan mekanisme untuk mendistinguish dirinya dari dua calonnya, dan dia berhasil.</p>
<p>Tidak berlebihan kalo saya bilang dalam berbicara, orang ini mirip hitler, bisa menyampaikan suatu pidato dengan emosi yang membakar pendengarnya. Dia adalah pembicara yang paling bersemangat diantara ketiga calon. Tapi tentunya bicara masalah temperamen, pembicara yang membakar seperti ini akan selalu [i]short tempered[/i]. Karena pembicara yang bisa memasukkan emosi dalam pidatonya membutuhkan karakter yang gampang tersulut dalam topik apapun yang dia bicarakan.</p>
<p>Saya tidak melihat keseluruhan acara, tapi dalam interval yang saya tonton, calon ini melontarkan argumen yang cukup decent dalam perdebatan. jargon utama, yakni waktu yang lebih sedikit untuk pengambilan keputusan betul betul dia gunakan dalam mendasari semua janjinya. Dan saya menyukai hal itu.</p>
<p>Saya pernah membaca salah satu artikelnya di koran nasional, yang mengatakan bahwa salah satu alasan dia mencalonkan diri adalah karena dia merasa geram sekali dalam proses pengambilen keputusan di kabinet sebelumnya yang dia nilai berlarut larut, tanpa keputusan yang jelas. Karena sebagai businessman, mungkin dia menganut asas keputusan yang baik adalah yang cepat, karena keputusan yang cepat walaupun salah bisa segera diperbaiki.</p>
<p>Mengenai iklan :</p>
<p>Pose senyum terbaik akan saya anugerahkan kepada calon ini. Dia memiliki wajah dan karakter yang lovable, ekspresi wajah yang karismatik, dan kemampuan yang natural untuk menjadi public figure.</p>
<p>Saya tinggal di Bogor, perjalanan dari Bogor ke Bandung sekitar 3 jam. Dan dari mulai dekat tempat tinggal saya di Pagelaran, Bogor,  sampai bis mendekati terminal leuwipanjang, poster poster kharismatik calon ini dalam berbagai pose, dari mulai bersama anak anak sampai bersama istri, yang tersebar sepanjang perjalanan, cukup membuat saya simpatik dengan kepribadian tokoh ini.</p>
<p>Saya selalu suka testimoni. Termasuk iklan dia yang merupakan kumpulan testimoni dari berbagai tokoh masyarakat yang mendukung kepemimpinannya. Juga latar musik yang menggunakan lagu familiar dengan aransemen yang harmonik. manis sekali&#8230;</p>
<p>pokoknya dari sisi  iklan, secara umum calon ini punya nilai yang baik..</p>
<p><strong>Calon C</strong></p>
<p>Hal pertama yang saya komentari dari calon ini adalah nada bicaranya. Tenang, teratur, namun intimidatif di saat yang sama. Untuk menekankan pendapatnya dia tidak perlu nada yang lebih tinggi karena tersulut emosi, dia hanya perlu menekan lebih dalam. Hebat sekali..</p>
<p>Yang paling saya suka tentunya adalah karena pendapat dia selalu didukung oleh fakta fakta renyah yang tidak bisa dilontarkan kecuali oleh orang orang yang memang pernah bermukim di dalam sistem dan bekerja lama sekali dengannya untuk bisa sangat familiar dengan sistem tersebut. Pendapat subjektif memang  bisa dibantah, tapi pendapat yang didukung fakta fakat teknis seperti itu? wow&#8230; akan membutuhkan effort lebih untuk menyangkalnya.</p>
<p>Bila kita sedang berusaha memperbaiki diri dan berusaha sekeras mungkin untuk menjadi yang terbaik, namun hasilnya masih jauh dari target yang dipancangkan, saya akan lebih suka menggunakan kata &#8220;continuous improvement&#8221;  dibandingkan hanya &#8220;continue &#8221; saja. Saya tidak melihat makna dari kata melanjutkan yang diteriakkan sebagai jargon utama, karena kata melanjutkan berarti menjalankan pemerintahan dengan gaya dan pencapaian yang sama dengan pemerintahan sebelumnya, dengan tidak meletakkan kata perbaikan dan evaluasi pada fokus utama.</p>
<p>Melanjutkan berarti juga secara tidak langsung mengatakan bahwa pemerintahan sebelumnya telah dihentikan untuk sementara dan baru akan mencapai titik final, jika dan hanya jika dalam periode selanjutnya ybs terpilih lagi. Maka tidak berlebihan kalau saya berpendapat bahwa di pemerintahan yang lalu, dia tidak menyelesaikan semua PR yang harus dikerjakan, dia hanya menyelesaikan beberapa dan sisanya akan diselesaikan bila dia terpilih lagi di periode selanjutnya.</p>
<p>Menurut saya jika pemerintahan awal lebih baik dari pemerintahan selanjutnya, meskipun keduanya masi memiliki kekurangan, itu berarti ada mekanisme perbaikan, mungkin slogan yang pas adalah &#8220;Lanjutkan dan perbaiki!&#8221;</p>
<p>Jika pemerintahan Awal dan akhir sama sama sempuna, itu berarti ada mekanisme mempertahankan, mungkin slogannya adalah &#8220;pertahankan!&#8221;</p>
<p>Jika pemerintahan Awal dan akhir sama sama memiliki kekurangan dan sama sekali tidak ada perbaikan? baru itu yang namanya &#8220;melanjutkan&#8221;</p>
<p>Ah, ada yang terlupa, ada dua pendukung calon ini yang mengungkapkan komentar rasialis yang memojokkan salah satu calon lain, dan itu sangat saya sesalkan&#8230;  Bila satu oknum saja mengatakan hal demikian, ini bisa dikatakan kesalahan, namun kesalahan yang berulang dua kali secara identik bisa dikatakan konsistensi.. dan konsistensi seperti ini bukan faktor yang akan memenangkan calon ybs dalam pilpres nanti.</p>
<p>karakternya? menurut saya dia adalah seorang melankolis koleris, seorang mastermind, pengkonsep. Kelebihan orang dengan karakter ini adalah dia akan sangat sistematis dan penuh pertimbangan, namun sebagai efek sampingnya, proses pengambilan keputusan akan memakan waktu lebih lama.<br />
Iklan :</p>
<p>Iklan faforit saya adalah iklan mereka yang menjabarkan premis bahwa mereka sangat dekat dengan rakyat. Saya tersentuh dengan riwayat hidup mereka yang tidak dimulai dengan sendok perak di mulut mereka. Mereka adalah self-made man yang sama sama mengabdi kepada negara, meskipun lewat jalur yang berbeda. &#8220;Yang satu jadi prajurit, yang satu jadi guru&#8221; pemilihan kata prajurit alih alih tentara dan guru alih alih PNS memberikan pencitraan kata yang sempurna untuk meraih simpati lewat penjelasan profesi mereka.</p>
<p>kalo calon B saya anugerahkan memiliki senyum terbaik, calon C ini saya anugerahkan senyum terhambar. Saya tidak pernah melihat senyum yang tulus dari calon ini, ini bukan berarti dia memiliki sesuatu di balik batu, ini cuma menandakan bahwa dia orang yang sangat jujur, pembohong terbaik memiliki senyum senyum terbaik karena mereka belajar untuk itu, berlatih di depan cermin untuk bisa memberikan senyum tertulus, tanpa harus ada pemicu rasa yang menyertainya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kasyfisme.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kasyfisme.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kasyfisme.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kasyfisme.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kasyfisme.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kasyfisme.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kasyfisme.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kasyfisme.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kasyfisme.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kasyfisme.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kasyfisme.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kasyfisme.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kasyfisme.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kasyfisme.wordpress.com/568/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kasyfisme.wordpress.com&amp;blog=4450340&amp;post=568&amp;subd=kasyfisme&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kasyfisme.wordpress.com/2009/07/03/pendapat-subjektif-kontestan-pilpres-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5a0a9cc6eb541a88ad9abeb0caf16115?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">M. A. Kasyfi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
