Suatu hari sepasang pasangan muda baru pulang dari pergi melancong. Dan ketika mereka sampai di depan rumah, mereka kaget karena melihat pupuk kandang dengan ukuran raksasa teronggok di depan rumah mereka. Baunya menyengat sampai ratusan meter ke segala arah, dan akan bertambah beberapa ratus meter lagi bila hujan turun dan berhenti. Mereka kaget, siapa yang melakukan kejahilan ini? atas alasan apa mereka mendapat onggokan pupuk kandang ini, mereka mencari ke segala arah jejak jejak dari orang yang melakukan ini. Namun sejauh mata memandang, tidak terlihat truk bertuliskan ‘ kami menjatuhkan pupuk kandang di rumah anda secara tiba tiba‘ jalanan lengang kosong, seolah pupuk itu dijatuhkan dari langit, dan mereka mulai bertanya apa salah mereka karena mendapat pupuk kandang ini.
Keesokan harinya mereka melumuri badan mereka dengan pupuk kandang itu, menaburkan pupuk itu di kepala mereka dan mengantongi sedikit dari pupuk itu, lalu membagi bagikan pupuk itu ke teman dan kerabat dekat mereka, menunjukkan betapa malangnya nasib mereka, namun pupuk kandang teronggok itu tidak hendak pergi, dia masih berdiri bertumpuk di depan rumah mereka, menebarkan bau menyengat ke seantero komplek, sementara si pasangan terus saja membagi bagikan pupuk itu ke orang orang terdekat mereka, berharap simpati dari teman dan kerabatnya..
Pupuk kandang itu adalah perlambang masalah dan musibah yang kita alami, kita tidak pernah meminta ia datang, dengan begitu saja ia akan hinggap di kehidupan kita. Selama manusia hidup masalah akan terus datang, tinggal bagaimana sikap kita untuk menghadapinya, apakah kita akan menenggelamkan kita dalam masalah itu? mengambil segenggam masalah, menaruhnya di kantong kita dan membagikannya ke semua orang yang kita kenal?
Yang seharusnya dilakukan pasangan itu terhadap pupuk kandang itu adalah mengambil sekop, dan menguburkan tumpukan pupuk kandang itu di taman di belakang rumah, perlahan saja, karena sekop yang kecil akan membutuhkan waktu berkali kali untuk memindahkan setumpukan besar pupuk kandang itu ke belakang. Dan dengan pasti tumpukan pupuk kandang itu akan segera mengecil dan lama lama hilang, menampilkan kembali keindahan bagian depan rumah seperti semula.
Bila kembalinya keindahan bagian depan rumah itu belum cukup sebagai balasan kegigihan mereka membersihkan pupuk kandang, tanpa mereka sadari, pupuk itu akan menyuburkan tanah di pekarangan dan menumbuhkan bunga warna warni yang menebar semerbak wangi ke seantero rumah, juga ke lingkungan sekitar, membawa keharuman yang menyenangkan untuk tetangga tetangga di sekitar mereka, dan selagi wangi wangi bunga itu memikat penciuman tetangga, pohon pohon di belakang rumah pasangan itu akan berbuah lebih banyak, lebih matang dan lebih ranum, dan sangat berlebih untuk sekedar dimakan sendiri saja, semua akan mendapatkan bagiannya, sama sama merasakan manisnya perjuangan si pasangan menguburkan pupuk kandang dibelakang.
Wangi bunga dan buah yang ranum adalah kebijakan dan kedewasaan yang akan kita peroleh ketika kita berhasil menyelesaikan masalah kita. Akan memakan waktu lama dan memerlukan kesabaran yang tinggi, tapi yakinlah bahwa kedewasaan dan kebijakan yang akan kita dapatkan akan melebihi penderitaan yang kita hadapi.. dan bukan hanya kita yang akan memetik ranumnya dan menghirup wanginya, orang orang sekitar kita juga akan tercerahkan..
Jadi ketika kita mendapatkan masalah, berbahagialah karena itu adalah pupuk kandang yang diberikan kepada kita, agar kita bisa memetik manfaatnya…
Diceritakan kembali dari buku : Si cacing dan kotoran kesayangannya (Achan Brahm)
Filed under: Uncategorized | Tagged: bahagia, filsafat, masalah











