• Keluarga besar intelektual muslim

    Pegangan Kami,

    Islam Dan Scientific,

    Otak Jerman

    Hati Mekkah,

    Semangat Jepang,

    Kepribadian Indonesia!

  • My Facebook

    Muhamad A Kasyfi's Facebook profile
  • My personality

    Click to view my Personality Profile page
  • Koleksi potoku

    partner for life

    early merchant

    siap lahap

    highland breakfast

    satu komando satu perlawanan

    sesaat  menjelang orasi..

    hancurkan!!!

    Tuntutan kami

    sigap

    Menua

    More Photos

[Cerber] Hanif dan Viera (II)

Mentari merambat perlahan di hari minggu pagi, sinari hamparan sawah menghijau sejauh mata memandang di dekat rumah Hanif. Hanif sudah siap dari tadi, dia tidak pernah tidur lagi setelah salat subuh, hari ini dia ada kajian ilmu agama di masjid tetangga.  Ia tak sabar ingin mendengarkan siraman rohani dari Ustadz Aziz, kiyai karismatik jebolan gontor yang baHanifnya sangat membumi, mudah dicerna, lagipula ada satu hal yang ingin dia tanyakan kepadanya, perihal rasa cinta yang terus meresapi setiap pikiran yang terlewat di kepalanya, ketika Hanif sedang makan, ia membayangkan makan bersama Viera dan dua anaknya yang lucu lucu. Ketika dia duduk di sofa, dia membayangkan Viera sedang bersandar di pundaknya bergelayut manja. Astaghfirullah, pikiran pikiran menyesatkan yang membuat salatnya kian tidak tenang. Dimana mana ada Viera, bahkan ketika dia keluar pintu rumahnya sambil menuntun sepeda federalnya, hendak berangkat menuju surau untuk mengaji pagi ini, dia membayangkan sedang pamit kepada Viera, dan Viera mencium tangannya, seraya mendoakan keselamatan dan berkata
“jangan pulang malam malam ya..”
Ya Allah, ini harus berakhir. Sepeda Hanif terus melaju di keheningan pagi.
****
Minggu Siang itu Ada Farah, Wendy, dan Gisel di kamar Viera.. Mereka berpegangan tangan, khusyuk mendengarkan Viera bercerita tentang perasaan cinta yang menderanya. Dia sudah tidak bisa memendamnya lagi, tadi malam dia bermimpi berpegangan tangan dengan Hanif dan berjalan perlahan menuju matahari terbit. Dia yakin ini adalah sebuah pertanda untuk menunjukkan bahwa Hanif memang pria yang diciptakan hanya untuknya.
“Gue gak tahu, gue udah gak bisa lagi nahan perasaan ini.. gue harus bilang.. tapi gimana?”
Viera menjelaskan dengan perlahan, suaranya melarut dalam isak tangis merindu,  genggaman tangannya dengan mereka memberikan ketenangan yang membuat Viera bisa bercerita dengan leluasa..
“Ya tapi lo tau kan siapa Hanif ? dia tuh manusia langka yang gak mungkin untuk ngejalanin yang namanya pacaran” Ujar gisel mempertanyakan perasaan cinta Viera
“Gue tahu, tapi gue juga gak tahu kenapa gue merasakan perasaan ini.. cinta ini datang dengan  sendirinya tanpa gue sadari..”
“Ah pasti gara gara kejadian lo sama Hanif sama pak Bun kmaren ya?”
diantara mereka bertiga hanya Farah yang sekelas dengan Viera.
Mendengar kata kunci Hanif-Viera dan Pak Bun, muka Viera sedikit memerah malu, lalu mendelik ke arah ketiga best friend nya sambil menahan senyumnya.
“bener kayaknya Far, liat aja tuh jadi senyum senyum sendiri dia.. emang kejadiannya gimana sih far?” Wendy ikut bicara
“Panjang kalo diceritain wen, tapi emang kalo gue jadi Viera, mungkin gue bakal jatuh cinta juga sama anak rohis kurus kering itu…”
Sepenuh hati Viera menyembunyikan senyum yang terbit di wajahnya karena teringat kejadian di hari itu.
“udah deh, gak usah dibahas lagi, pokoknya gue butuh masukan kalian, kalian kan best friend gue, yang paling ngertiin gue, sekarang gue harus gimana?”
“Gak ada jalan lain vier, lo harus nembak dia, gak ada jalan lain dari masalah ini kecuali lo nyatain cinta lo sama dia..”
Farah terdengar meyakinkan. Sebetik keraguan tersirat di mata Viera, tapi dia juga tahu bahwa ini memang satu satunya cara.
“kalian mau bantu gue kan? Gue gak bisa ngelakuin ini sendirian..”
“emang kita siapanya lo vie, tenang aja pasti kita bantu..”
“makasih ya.. kalian emang best friend gue, gue gak tahu kalo gak ada kalian gue gimana..”
Mereka berempat berpelukan dengan hangat, persahabatan mereka semakin mengantal, kejadian seperti ini yang membuat mereka semakin dekat. Dan ketiganya meneguhkan diri dalam hati akan membantu sepenuh hati best friend mereka, Viera. Selama ini Viera yang dikenal paling kuat, jadi penengah diantara mereka, dan yang melekatkan mereka berempat adalah Viera juga, maka ketika Viera tiba tiba jadi melankolis seperti ini, hati mereka terpanggil untuk mengembalikan senyumannya. Mereka berempat mengatur siasat agar esok hari, senin, selepas jam terakhir, Viera bisa menyatakan cintanya kepada Hanif.
***
“jadi, saya harus bagaimana ustadz?” Hanif bertanya dengan mimik serius setelah selesai bercerita panjang lebar mengenai perkaranya di sesi pribadi dengan ustadz azis. Dia benar benar mengharapkan jawaban yang bisa menenangkan dan meredam kegundahan hatinya.
Ustadz azis tertawa, dia jadi terkenang masa mudanya ketika dia memendam cinta kepada Annisa fitriyani, santri putri yang sering berpapasan dengannya ketika dia masih di pesantren dulu. Sekarang annisa sudah jadi pendamping setianya untuk di dunia dan mudah mudahan akhirat, mereka menikah di acara nikah massal selepas pesantren. Guru wali mereka yang menjodohkan mereka, dan entah kenapa walinya berpendapat dia cocok sekali dengan annisa, padahal setengah mati Ustadz azis memendam rasa cintanya kepada annisa. Mungkin ini yang dinamakan jodoh, tak akan lari dikejar. Ah masa muda yang penuh cinta.
Ustadz azis menghentikan nostalgia romansa cinta remajanya, dia mengubah mimik menjadi serius dan bertanya kepada Hanif yang sedari tadi menunggu jawaban dengan was was.
“Kamu siap untuk menikah, Hanif?”
“Ya ampun ustad, saya kan baru kelas dua SMA, bagaimana saya mau nikah? Saya harus kuliah, mencari kerja dulu, lalu berkarya dan berjuang di jalan Allah, baru saat itu saya menikah.. masih lama ustadz”
“Kalau begitu kamu tidak ada alasan lagi untuk memendam rasa itu Hanif, “
“Maksud ustadz?”
“Rasa itu hanya sebuah reaksi, cara tubuh seusia kamu untuk merespon kejadian yang kamu alami kemarin. “
Ustadz menunggu sebentar, Kafi terlihat mendengarkan dengan serius, lalu ia melanjutkan..
“Tidak ada obat yang paling manjur untuk cinta selain pernikahan, selain itu, kamu bisa terjerumus di tindakan yang dibenci oleh Allah, yaitu mendekati zina, nauzubillahi mindzalik
Untuk meredam rasa yang kamu rasakan ini, cobalah untuk berpuasa, atau beristighfar, dan berlindung kepada Allah dari godaan syaithan setiap bayangan bayangan itu muncul lagi. Karena memang bayangan bayangan seperti itu syaitan yang membisikkan. InsyaAllah kalau kamu mengamalkan itu, kamu akan bisa mengatasi ini. “
Hanif terdiam sejenak, keningnya terlihat berkerut. Akhirnya dia memutuskan untuk menuruti saran dari pak Ustadz ini, mudah mudahan rasa ini bisa hilang dengan sendirinya. Lagipula siapa dia? Bila dibandingkan dengan Viera, hanya prestasi akademis saja yang bisa ia banggakan. Berkali kali dia menduduki ranking satu dan Viera rangking 3, tapi diluar itu dunia mereka berbeda, dia anak tidak mampu, sedangkan Viera? Wah bagaikan pungguk merindukan bulan saja ini. Dan Rasa minder itu semakin memantapkan hati Hanif untuk melawan gejolak rasa ini.
“Baiklah Pak ustadz, saya akan coba melaksanakan sarannya, doakan saya ya..”
“InsyaAllah Hanif..”
“Assalamualaikum..”
“waalakum salam.”
Hanif sudah memantapkan hati untuk melawan rasa ini, mudah mudahan besok senin anak anak sudah lupa akan kejadian sabtu siang itu. Akhirnya Hanif pulang ke rumah dengan sedikit tenang, berharap semua kan selesai esok hari.
Hanif belum tahu apa yang sudah direncanakan oleh Viera dan Geng nya.

2. Hadapi rasa tertaut

Mentari merambat perlahan di hari minggu pagi, sinari hamparan sawah menghijau sejauh mata memandang di dekat rumah Hanif. Hanif sudah siap dari tadi, dia tidak pernah tidur lagi setelah salat subuh, hari ini dia ada kajian ilmu agama di masjid tetangga.  Ia tak sabar ingin mendengarkan siraman rohani dari Ustadz Aziz, kiyai karismatik jebolan gontor yang baHanifnya sangat membumi, mudah dicerna, lagipula ada satu hal yang ingin dia tanyakan kepadanya, perihal rasa cinta yang terus meresapi setiap pikiran yang terlewat di kepalanya, ketika Hanif sedang makan, ia membayangkan makan bersama Viera dan dua anaknya yang lucu lucu. Ketika dia duduk di sofa, dia membayangkan Viera sedang bersandar di pundaknya bergelayut manja. Astaghfirullah, pikiran pikiran menyesatkan yang membuat salatnya kian tidak tenang. Dimana mana ada Viera, bahkan ketika dia keluar pintu rumahnya sambil menuntun sepeda federalnya, hendak berangkat menuju surau untuk mengaji pagi ini, dia membayangkan sedang pamit kepada Viera, dan Viera mencium tangannya, seraya mendoakan keselamatan dan berkata

“jangan pulang malam malam ya..”

Ya Allah, ini harus berakhir. Sepeda Hanif terus melaju di keheningan pagi.

****

Minggu Siang itu Ada Farah, Wendy, dan Gisel di kamar Viera.. Mereka berpegangan tangan, khusyuk mendengarkan Viera bercerita tentang perasaan cinta yang menderanya. Dia sudah tidak bisa memendamnya lagi, tadi malam dia bermimpi berpegangan tangan dengan Hanif dan berjalan perlahan menuju matahari terbit. Dia yakin ini adalah sebuah pertanda untuk menunjukkan bahwa Hanif memang pria yang diciptakan hanya untuknya.

“Gue gak tahu, gue udah gak bisa lagi nahan perasaan ini.. gue harus bilang.. tapi gimana?”

Viera menjelaskan dengan perlahan, suaranya melarut dalam isak tangis merindu,  genggaman tangannya dengan mereka memberikan ketenangan yang membuat Viera bisa bercerita dengan leluasa..

“Ya tapi lo tau kan siapa Hanif ? dia tuh manusia langka yang gak mungkin untuk ngejalanin yang namanya pacaran” Ujar gisel mempertanyakan perasaan cinta Viera

“Gue tahu, tapi gue juga gak tahu kenapa gue merasakan perasaan ini.. cinta ini datang dengan  sendirinya tanpa gue sadari..”

“Ah pasti gara gara kejadian lo sama Hanif sama pak Bun kmaren ya?”

diantara mereka bertiga hanya Farah yang sekelas dengan Viera.

Mendengar kata kunci Hanif-Viera dan Pak Bun, muka Viera sedikit memerah malu, lalu mendelik ke arah ketiga best friend nya sambil menahan senyumnya.

“bener kayaknya Far, liat aja tuh jadi senyum senyum sendiri dia.. emang kejadiannya gimana sih far?” Wendy ikut bicara

“Panjang kalo diceritain wen, tapi emang kalo gue jadi Viera, mungkin gue bakal jatuh cinta juga sama anak rohis kurus kering itu…”

Sepenuh hati Viera menyembunyikan senyum yang terbit di wajahnya karena teringat kejadian di hari itu.

“udah deh, gak usah dibahas lagi, pokoknya gue butuh masukan kalian, kalian kan best friend gue, yang paling ngertiin gue, sekarang gue harus gimana?”

“Gak ada jalan lain vier, lo harus nembak dia, gak ada jalan lain dari masalah ini kecuali lo nyatain cinta lo sama dia..”

Farah terdengar meyakinkan. Sebetik keraguan tersirat di mata Viera, tapi dia juga tahu bahwa ini memang satu satunya cara.

“kalian mau bantu gue kan? Gue gak bisa ngelakuin ini sendirian..”

“emang kita siapanya lo vie, tenang aja pasti kita bantu..”

“makasih ya.. kalian emang best friend gue, gue gak tahu kalo gak ada kalian gue gimana..”

Mereka berempat berpelukan dengan hangat, persahabatan mereka semakin mengantal, kejadian seperti ini yang membuat mereka semakin dekat. Dan ketiganya meneguhkan diri dalam hati akan membantu sepenuh hati best friend mereka, Viera. Selama ini Viera yang dikenal paling kuat, jadi penengah diantara mereka, dan yang melekatkan mereka berempat adalah Viera juga, maka ketika Viera tiba tiba jadi melankolis seperti ini, hati mereka terpanggil untuk mengembalikan senyumannya. Mereka berempat mengatur siasat agar esok hari, senin, selepas jam terakhir, Viera bisa menyatakan cintanya kepada Hanif.

***

“jadi, saya harus bagaimana ustadz?” Hanif bertanya dengan mimik serius setelah selesai bercerita panjang lebar mengenai perkaranya di sesi pribadi dengan ustadz azis. Dia benar benar mengharapkan jawaban yang bisa menenangkan dan meredam kegundahan hatinya.

Ustadz azis tertawa, dia jadi terkenang masa mudanya ketika dia memendam cinta kepada Annisa fitriyani, santri putri yang sering berpapasan dengannya ketika dia masih di pesantren dulu. Sekarang annisa sudah jadi pendamping setianya untuk di dunia dan mudah mudahan akhirat, mereka menikah di acara nikah massal selepas pesantren. Guru wali mereka yang menjodohkan mereka, dan entah kenapa walinya berpendapat dia cocok sekali dengan annisa, padahal setengah mati Ustadz azis memendam rasa cintanya kepada annisa. Mungkin ini yang dinamakan jodoh, tak akan lari dikejar. Ah masa muda yang penuh cinta.

Ustadz azis menghentikan nostalgia romansa cinta remajanya, dia mengubah mimik menjadi serius dan bertanya kepada Hanif yang sedari tadi menunggu jawaban dengan was was.

“Kamu siap untuk menikah, Hanif?”

“Ya ampun ustad, saya kan baru kelas dua SMA, bagaimana saya mau nikah? Saya harus kuliah, mencari kerja dulu, lalu berkarya dan berjuang di jalan Allah, baru saat itu saya menikah.. masih lama ustadz”

“Kalau begitu kamu tidak ada alasan lagi untuk memendam rasa itu Hanif, “

“Maksud ustadz?”

“Rasa itu hanya sebuah reaksi, cara tubuh seusia kamu untuk merespon kejadian yang kamu alami kemarin. “

Ustadz menunggu sebentar, Kafi terlihat mendengarkan dengan serius, lalu ia melanjutkan..

“Tidak ada obat yang paling manjur untuk cinta selain pernikahan, selain itu, kamu bisa terjerumus di tindakan yang dibenci oleh Allah, yaitu mendekati zina, nauzubillahi mindzalik

Untuk meredam rasa yang kamu rasakan ini, cobalah untuk berpuasa, atau beristighfar, dan berlindung kepada Allah dari godaan syaithan setiap bayangan bayangan itu muncul lagi. Karena memang bayangan bayangan seperti itu syaitan yang membisikkan. InsyaAllah kalau kamu mengamalkan itu, kamu akan bisa mengatasi ini. “

Hanif terdiam sejenak, keningnya terlihat berkerut. Akhirnya dia memutuskan untuk menuruti saran dari pak Ustadz ini, mudah mudahan rasa ini bisa hilang dengan sendirinya. Lagipula siapa dia? Bila dibandingkan dengan Viera, hanya prestasi akademis saja yang bisa ia banggakan. Berkali kali dia menduduki ranking satu dan Viera rangking 3, tapi diluar itu dunia mereka berbeda, dia anak tidak mampu, sedangkan Viera? Wah bagaikan pungguk merindukan bulan saja ini. Dan Rasa minder itu semakin memantapkan hati Hanif untuk melawan gejolak rasa ini.

“Baiklah Pak ustadz, saya akan coba melaksanakan sarannya, doakan saya ya..”

“InsyaAllah Hanif..”

“Assalamualaikum..”

“waalakum salam.”

Hanif sudah memantapkan hati untuk melawan rasa ini, mudah mudahan besok senin anak anak sudah lupa akan kejadian sabtu siang itu. Akhirnya Hanif pulang ke rumah dengan sedikit tenang, berharap semua kan selesai esok hari.

Hanif belum tahu apa yang sudah direncanakan oleh Viera dan Geng nya.

Leave a Reply