• Keluarga besar intelektual muslim

    Pegangan Kami,

    Islam Dan Scientific,

    Otak Jerman

    Hati Mekkah,

    Semangat Jepang,

    Kepribadian Indonesia!

  • My Facebook

    Muhamad A Kasyfi's Facebook profile
  • My personality

    Click to view my Personality Profile page
  • Koleksi potoku

    partner for life

    early merchant

    siap lahap

    highland breakfast

    satu komando satu perlawanan

    sesaat  menjelang orasi..

    hancurkan!!!

    Tuntutan kami

    sigap

    Menua

    More Photos

[Cerber] Hanif dan Viera

1. Sejarah yang melewati waktu

Ada yang mengganggu Hanif akhir akhir ini. Dan sebenernya dia tahu apa itu. Nilainya yang cemerlang di pelajaran biologi membuat dia mengetahui apa yang terjadi. Gejolak hormon di tubuhnya memberikan efek samping, sebuah rasa, rasa yang sulit terdefinisi, sebuah sensasi yang membuatnya tersenyum dalam kesendiriannya, lalu beristighfar setelahnya, atau membuat dia berhalusinasi mendengar sang kekasih memanggil dengan mesra..
“Hanif…”
Dan sepenuh hati dia ingin menjawab seruan itu dengan mesra..
“iya Viera sayang…”
“Hanif..”
ah suara sebening embun itu begitu halus mengalun di telinganya.
“iya sayang…”
“Hanif….  Buruan ke sini, bantuin ibu sebentar mengganti lampu depan nih, putus sepertinya, jadi ruang depan gelap sekali, takut ada tikus masuk…”
Astaghfirullah, ternyata ibu yang memanggil, pikir Hanif
“Iya bu sebentar, Hanif lagi ngerjain PR..”
Hanif menatap bukunya, seharusnya 10 soal PR itu bisa diselesaikan kurang dari 2 jam,  tapi dilihatnya baru 2 nomor pertama yang sudah dikerjakan, entah apa saja yang dia lakukan 2 jam ini, ah cinta ini mulai membunuhku.. pikirnya. Sekarang dia mengerti apa yang dirasakan D’Massive waktu menciptakan lagu itu.
Namun malam itu sebenernya Hanif tidak sendiri, di sisi lain kota bogor nan sejuk karena sorenya hujan besar, di bilangan perumahan elit taman yasmin, seorang putri jelita sedang tersudut di kasurnya seraya memeluk erat bantal wanginya. Waktu tidur sudah lewat dua jam yang lalu, tapi matanya enggan terpejam jua, karena entah kenapa bibirnya terus menyunggingkan senyum. Bibirnya sedikit dia gigit untuk menahan rasa yang terus membuncah dari relung jiwa terdalamnya, entah kenapa remaja yang kulitnya terbakar matahari dan bertubuh kurus kering itu terus terbayang di benak Viera.
Viera tidak bisa melupakan kejadian yang menyebabkan rasa itu terbit di hatinya. Saat itu siang hari sedang membakar atap atap rendah sekolah menengah atas 5 Bogor, tempat keduanya bersekolah. Bila sinar matahari tidak cukup membakar habis kesabaran siswa siswi yang sekolah di jam terakhir waktu itu, maka pelajaran sejarah yang terkenal amat sangat membosankan, ditambah lagi gurunya sudah jadi musuh bersama, makin memanaskan emosi siswa siswi saat itu. Sebagian mereka terus saja menatap jam dinding di atas papan tulis dan menyaksikan jarum detik bergerak ke angka 1 lalu 2 dan seterusnya. Sebagian yang lain mendekatkan jam tangannya ke telinga, mengecek apakah jamnya masih hidup atau kehabisan baterei, karena entah kenapa waktu terasa berhenti dan berjalan sangat lambat, mungkin inilah yang dimaksud Fisikawan tersohor Albert Einstein, bahwa waktu itu relatif.
Sudah 10 menit Jam pulang dilanggar Pak Bun, kependekan dari Bunawan, guru sejarah yang cukup sulit untuk disukai itu, kekesalan siswa siswi di kelas itu semakin menusuk nusuk di ubun ubun mereka, termasuk Viera, ditambah lagi dari tadi pagi Viera belum makan, lengkaplah sudah penderitaan lahir batin yang dialaminya. Dan Viera juga tahu, sebagai siswi yang dikenal tukang protes di kelas, saat ini dia yang jadi harapan siswa siswi yang tertindas di belakangnya. Di pundaknya tergantung harapan puluhan siswa siswi yang nasibnya ingin diperjuangkan. Dia bisa tahu karena dia mulai merasakan tatap mata yang panas terasa di belakang kepalanya, seolah mereka sama sama berkata dalam hati
“Viera!!!.. cepetan ngomong!!!!”
Dan sampai di satu titik tiba tiba tangan kanan Viera bergerak sendiri ke atas dan mulutnya tiba tiba membuka dan mengeluarkan suara.
“Pak!!”
Akhirnya Viera mengacungkan tangannya. Kalau ada yang menyentuh ujung jarinya, pasti dia bisa merasakan kegugupan yang dirasakan Viera. Tapi rasa lapar di perutnya dan desakan teman temannya membuat dia berenergi lebih untuk menantang kediktatoran Pak Bun.
Pak Bunawan mengangkat wajahnya yang terhalang oleh buku, dan bersuara seperti kodok yang obesitas. Setiap nada yang keluar dari mulutnya bertujuan untuk mengintimidasi..
“Ya.. vi-e-ra..”
Viera mengumpulkan keberaniannya dan berkata dengan lantang
“Jam sejarah sudah habis Pak, saya yakin banyak dari temen temen yang belum salat zuhur.”
Aduh, kenapa salat yang jadi alasan, pikir Viera, pasti orang orang akan berfikir bahwa dia sok agamis. Tapi mimik muka Viera pura pura yakin dengan argumentasinya, menunggu kalimat balasan dari Pak Bun dengan mata yang menohok tajam.  Pak Bun menatap Viera sekitar satu menit, membiarkan kelas larut dalam suasana yang tegang mencekam, dan tak disangka sangka akhirnya dia melanjutkan lagi pelajarannya dengan nada yang sama, datar dan membosankan.
“jadi pada zaman revolusi inggris, james watt telah…”
Merasa diabaikan, Viera berteriak sekali lagi
“Pak..!!”
“SAYA DENGAR VIERA!!”
“SAYA TIDAK TULI!!”
Suara bentakan Pak Bun yang nyaring dan tajam membahana ke setiap sisi kelas. Diteriaki seperti itu, Viera jadi terdiam, matanya nanar bersirobok dengan mata Pak Bun. Kelas hening seketika, yang dari tadi tertidur di meja dibangunkan oleh teman sebelahnya. Viera yang tersentak karena dibentak akhirnya tidak bisa berkata kata lagi. Hanya menatap lurus ke mata Pak Bun, berharap tatapannya bisa membuat Pak Bun Gentar.
Seorang laki laki kurus kering di bangku sebelah kanan belakang, Hanif, sebenarnya sudah mengumpulkan keberanian dari tadi. Tapi tangan kanannya masih berat untuk terangkat, namun suasana kelas yang semakin mendesak dan menggencet akhirnya membuatnya pita suaranya berteriak tanpa mengacungkan tangan dahulu.
“Apa Bapak melarang kita untuk salat??!!!!”
Suaranya bergetar getar karena gugup, tapi perhatian kelas telah terambil olehnya, termasuk perhatian Pak Bun kelas hening lagi. Merasa mendapat dukungan moral dari Hanif, Viera langsung merasakan gelombang kelegaan di sekujur tubuhnya. Merambati kedua tangannya, dan naik ke kedua mata, mengalirkan linangan hangat di kedua pipinya yang menentramkan, dan menyunggingkan senyum termanis yang pernah dia berikan untuk seseorang, untuk Hanif, penyelamatnya. Dia menoleh ke arah datangnya suara, di daerah kanan belakang. Dilihatnya pemuda kurus kering itu dengan rasa berbunga, matanya sedang menatap lurus ke depan, menerjang Pak Bun.
Pak Bun bisa menindas satu orang yang memprotesnya, apalagi bila yang memprotesnya perempuan, tapi ditambah satu orang lagi, siswa anak rohis yang terkenal kritis terhadap masalah agama, Hanif Hamzah, dan tatapan mata satu kelas, terlalu banyak untuknya. Dia memalingkan muka dengan hina dan meninggalkan kelas dengan terburu buru. Tas dan berkasnya ditinggalkan.
Viera masih menatap Hanif ketika Hanif sedang membereskan buku bukunya dengan tenang. Di matanya yang berkabut, Hanif tampak bercahaya. Akhirnya Viera memberanikan diri untuk berdiri, membereskan roknya, dan berjalan mendekati Hanif, menatap matanya, sambil berkata.
“Makasih ya…. Hanif” Viera tersenyum, manis sekali..
Yang diberi terima kasih hanya melongo, shock melihat sosok cantik di hadapannya tersenyum kepadanya. Senyuman termanis yang pernah dia lihat. Hanif hanya bisa berkata..
“…Kamu cantik sekali..”
Astaghfirullah!, apa yang dia katakan tadi? Hanif langsung beranjak dengan tergesa gesa, mukanya merah karena malu tidak bisa mengontrol perasaannya, dia  keluar kelas menuju masjid, dia butuh ketenangan. Sayup sayup dia mendengar teriakan riuh anak anak sekelasnya di belakangnya.. oh Tuhan apa yang sudah saya katakan tadi??.
Dan malam itu di kamar Viera, kalau kenangan Viera sudah sampai di saat dimana Hanif mengatakan kalau dia cantik, Viera akan membenamkan wajahnya ke dalam bantal, memeluknya lebih erat lagi dan menahan keinginan untuk berteriak sekeras kerasnya karena kegirangan.  Malam itu hanya ada Hanif yang bertahta di benaknya. Bulan pun tersenyum menyaksikan dua anak manusia memendam rindu kepada satu sama lain. Kalau saja mereka saling mengetahui apa yang mereka rasakan. Remaja yang saling memendam suka, bukankah itu hal yang terindah?

Ada yang mengganggu Hanif akhir akhir ini. Dan sebenernya dia tahu apa itu. Nilainya yang cemerlang di pelajaran biologi membuat dia mengetahui apa yang terjadi. Gejolak hormon di tubuhnya memberikan efek samping, sebuah rasa, rasa yang sulit terdefinisi, sebuah sensasi yang membuatnya tersenyum dalam kesendiriannya, lalu beristighfar setelahnya, atau membuat dia berhalusinasi mendengar sang kekasih memanggil dengan mesra..

“Hanif…”

Dan sepenuh hati dia ingin menjawab seruan itu dengan mesra..

“iya Viera sayang…”

“Hanif..”

ah suara sebening embun itu begitu halus mengalun di telinganya.

“iya sayang…”

“Hanif….  Buruan ke sini, bantuin ibu sebentar mengganti lampu depan nih, putus sepertinya, jadi ruang depan gelap sekali, takut ada tikus masuk…”

Astaghfirullah, ternyata ibu yang memanggil, pikir Hanif

“Iya bu sebentar, Hanif lagi ngerjain PR..”

Hanif menatap bukunya, seharusnya 10 soal PR itu bisa diselesaikan kurang dari 2 jam,  tapi dilihatnya baru 2 nomor pertama yang sudah dikerjakan, entah apa saja yang dia lakukan 2 jam ini, ah cinta ini mulai membunuhku.. pikirnya. Sekarang dia mengerti apa yang dirasakan D’Massive waktu menciptakan lagu itu.

Namun malam itu sebenernya Hanif tidak sendiri, di sisi lain kota bogor nan sejuk karena sorenya hujan besar, di bilangan perumahan elit taman yasmin, seorang putri jelita sedang tersudut di kasurnya seraya memeluk erat bantal wanginya. Waktu tidur sudah lewat dua jam yang lalu, tapi matanya enggan terpejam jua, karena entah kenapa bibirnya terus menyunggingkan senyum. Bibirnya sedikit dia gigit untuk menahan rasa yang terus membuncah dari relung jiwa terdalamnya, entah kenapa remaja yang kulitnya terbakar matahari dan bertubuh kurus kering itu terus terbayang di benak Viera.

Viera tidak bisa melupakan kejadian yang menyebabkan rasa itu terbit di hatinya. Saat itu siang hari sedang membakar atap atap rendah sekolah menengah atas 5 Bogor, tempat keduanya bersekolah. Bila sinar matahari tidak cukup membakar habis kesabaran siswa siswi yang sekolah di jam terakhir waktu itu, maka pelajaran sejarah yang terkenal amat sangat membosankan, ditambah lagi gurunya sudah jadi musuh bersama, makin memanaskan emosi siswa siswi saat itu. Sebagian mereka terus saja menatap jam dinding di atas papan tulis dan menyaksikan jarum detik bergerak ke angka 1 lalu 2 dan seterusnya. Sebagian yang lain mendekatkan jam tangannya ke telinga, mengecek apakah jamnya masih hidup atau kehabisan baterei, karena entah kenapa waktu terasa berhenti dan berjalan sangat lambat, mungkin inilah yang dimaksud Fisikawan tersohor Albert Einstein, bahwa waktu itu relatif.

Sudah 10 menit Jam pulang dilanggar Pak Bun, kependekan dari Bunawan, guru sejarah yang cukup sulit untuk disukai itu, kekesalan siswa siswi di kelas itu semakin menusuk nusuk di ubun ubun mereka, termasuk Viera, ditambah lagi dari tadi pagi Viera belum makan, lengkaplah sudah penderitaan lahir batin yang dialaminya. Dan Viera juga tahu, sebagai siswi yang dikenal tukang protes di kelas, saat ini dia yang jadi harapan siswa siswi yang tertindas di belakangnya. Di pundaknya tergantung harapan puluhan siswa siswi yang nasibnya ingin diperjuangkan. Dia bisa tahu karena dia mulai merasakan tatap mata yang panas terasa di belakang kepalanya, seolah mereka sama sama berkata dalam hati

“Viera!!!.. cepetan ngomong!!!!”

Dan sampai di satu titik tiba tiba tangan kanan Viera bergerak sendiri ke atas dan mulutnya tiba tiba membuka dan mengeluarkan suara.

“Pak!!”

Akhirnya Viera mengacungkan tangannya. Kalau ada yang menyentuh ujung jarinya, pasti dia bisa merasakan kegugupan yang dirasakan Viera. Tapi rasa lapar di perutnya dan desakan teman temannya membuat dia berenergi lebih untuk menantang kediktatoran Pak Bun.

Pak Bunawan mengangkat wajahnya yang terhalang oleh buku, dan bersuara seperti kodok yang obesitas. Setiap nada yang keluar dari mulutnya bertujuan untuk mengintimidasi..

“Ya.. vi-e-ra..”

Viera mengumpulkan keberaniannya dan berkata dengan lantang

“Jam sejarah sudah habis Pak, saya yakin banyak dari temen temen yang belum salat zuhur.”

Aduh, kenapa salat yang jadi alasan, pikir Viera, pasti orang orang akan berfikir bahwa dia sok agamis. Tapi mimik muka Viera pura pura yakin dengan argumentasinya, menunggu kalimat balasan dari Pak Bun dengan mata yang menohok tajam.  Pak Bun menatap Viera sekitar satu menit, membiarkan kelas larut dalam suasana yang tegang mencekam, dan tak disangka sangka akhirnya dia melanjutkan lagi pelajarannya dengan nada yang sama, datar dan membosankan.

“jadi pada zaman revolusi inggris, james watt telah…”

Merasa diabaikan, Viera berteriak sekali lagi

“Pak..!!”

“SAYA DENGAR VIERA!!”

“SAYA TIDAK TULI!!”

Suara bentakan Pak Bun yang nyaring dan tajam membahana ke setiap sisi kelas. Diteriaki seperti itu, Viera jadi terdiam, matanya nanar bersirobok dengan mata Pak Bun. Kelas hening seketika, yang dari tadi tertidur di meja dibangunkan oleh teman sebelahnya. Viera yang tersentak karena dibentak akhirnya tidak bisa berkata kata lagi. Hanya menatap lurus ke mata Pak Bun, berharap tatapannya bisa membuat Pak Bun Gentar.

Seorang laki laki kurus kering di bangku sebelah kanan belakang, Hanif, sebenarnya sudah mengumpulkan keberanian dari tadi. Tapi tangan kanannya masih berat untuk terangkat, namun suasana kelas yang semakin mendesak dan menggencet akhirnya membuatnya pita suaranya berteriak tanpa mengacungkan tangan dahulu.

“Apa Bapak melarang kita untuk salat??!!!!”

Suaranya bergetar getar karena gugup, tapi perhatian kelas telah terambil olehnya, termasuk perhatian Pak Bun kelas hening lagi. Merasa mendapat dukungan moral dari Hanif, Viera langsung merasakan gelombang kelegaan di sekujur tubuhnya. Merambati kedua tangannya, dan naik ke kedua mata, mengalirkan linangan hangat di kedua pipinya yang menentramkan, dan menyunggingkan senyum termanis yang pernah dia berikan untuk seseorang, untuk Hanif, penyelamatnya. Dia menoleh ke arah datangnya suara, di daerah kanan belakang. Dilihatnya pemuda kurus kering itu dengan rasa berbunga, matanya sedang menatap lurus ke depan, menerjang Pak Bun.

Pak Bun bisa menindas satu orang yang memprotesnya, apalagi bila yang memprotesnya perempuan, tapi ditambah satu orang lagi, siswa anak rohis yang terkenal kritis terhadap masalah agama, Hanif Hamzah, dan tatapan mata satu kelas, terlalu banyak untuknya. Dia memalingkan muka dengan hina dan meninggalkan kelas dengan terburu buru. Tas dan berkasnya ditinggalkan.

Viera masih menatap Hanif ketika Hanif sedang membereskan buku bukunya dengan tenang. Di matanya yang berkabut, Hanif tampak bercahaya. Akhirnya Viera memberanikan diri untuk berdiri, membereskan roknya, dan berjalan mendekati Hanif, menatap matanya, sambil berkata.

“Makasih ya…. Hanif” Viera tersenyum, manis sekali..

Yang diberi terima kasih hanya melongo, shock melihat sosok cantik di hadapannya tersenyum kepadanya. Senyuman termanis yang pernah dia lihat. Hanif hanya bisa berkata..

“…Kamu cantik sekali..”

Astaghfirullah!, apa yang dia katakan tadi? Hanif langsung beranjak dengan tergesa gesa, mukanya merah karena malu tidak bisa mengontrol perasaannya, dia  keluar kelas menuju masjid, dia butuh ketenangan. Sayup sayup dia mendengar teriakan riuh anak anak sekelasnya di belakangnya.. oh Tuhan apa yang sudah saya katakan tadi??.

Dan malam itu di kamar Viera, kalau kenangan Viera sudah sampai di saat dimana Hanif mengatakan kalau dia cantik, Viera akan membenamkan wajahnya ke dalam bantal, memeluknya lebih erat lagi dan menahan keinginan untuk berteriak sekeras kerasnya karena kegirangan.  Malam itu hanya ada Hanif yang bertahta di benaknya. Bulan pun tersenyum menyaksikan dua anak manusia memendam rindu kepada satu sama lain. Kalau saja mereka saling mengetahui apa yang mereka rasakan. Remaja yang saling memendam suka, bukankah itu hal yang terindah?

to be continued..

Leave a Reply