Untuk mempermudah memahami apa yang saya tuliskan, saya akan jabarkan beberapa istilah yang sering digunakan :
Input : artinya modal awal yang kita miliki. Masukan yang akan kita proses untuk mendapatkan output yang diinginkan.
Proses : proses yang akan mengubah input menjadi hasil (output )yang kita inginkan
Output : hasil yang keluar setelah input dimasukkan ke sistem proses
Manipulated variable : artinya parameter parameter yang digunakan untuk memperbaiki sistem proses
Kasus :
Katakanlah suatu saat kita tiba di suatu titik dimana kita menyadari sudah saatnya mencari akhwat utuk mendampingi hidup kita. Maka disini set point yang kita target adalah mendapatkan pasangan. Inputnya adalah diri kita dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang kita miliki. Manipulated variabel (parameter) nya adalah segala macam usaha yang kita lakukan, dari mulai komunikasi, agresifitas, proses tarik menarik , proses ulur mengulur, dan terakhir pengkhitbahan.
Untuk mendapatkan taget yang diarah (mendapatkan pendamping hidup) kita harus mengontrol parameter parameter manipulated variabel diatas agar hasil yang kita dapat setelah input melalui proses bisa sesuai dengan target yang kita inginkan.
Feedback control
Pengontrolan ini adalah pengontrolan yang paling sederhana, pengontrolan dengan umpan balik. Katakanlah kita sudah mendekati seseorang dan mengontrol setiap parameter yang kita punya sehingga proses bisa mengeluarkan hasil yang kita inginkan. Lalu apa yang terjadi? Ternyata pinangan kita ditolak!! Apa yang harus kita lakukan? Sedangkan target kita untuk memiliki pendamping harus tetap dipenuhi?
Solusinya adalah kita harus mengumpankan keadaan hasil yang muncul, walaupun tidak sesuai, ke pengontrol. Sehingga di kesempatan lain (kalau ada kesempatan lagi lho ya, hehe..) parameter parameter yang mengendalikan proses bisa kita sesuaikan dan perbaiki agar hasilnya bisa sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Itu adalah inti dari pengontrolan dengan umpan balik.
Cascade control
Kembali ke skenario fikti kita, suatu saat akhwat yang kita kejar itu memberikan kesempatan kedua kepada kita. Sehingga kita bisa punya kesempatan untuk memperbaiki metode kita, sehingga hasil yang diharapkan bisa sesuai target.
Akhirnya kita sudah memanipulasi satu variabel, yaitu agresifitas. Agresifitas yang dulu katakanlah memiliki skala 8 kita turunkan menjadi 5 saja. Dan kita melihat hasil yang muncul. Apa yang terjadi? Ternyata respon si akhwat malah lambat sekali. Tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Apa yang kita lakukan?
Lalu bagaimana agar waktu setling time bisa sesuai dengan yang kita inginkan? Maka variabel yang dimanipulasi harus ditambah, selain merubah skala agresifitas dari 8 menjadi 5, kita juga harus merubah komunikasi kita yang mungkin tadinya memiliki skala 5 menjadi skala 10 sehingga setling time bisa menjadi lebih cepat.
Itu yang dinamakan cascade control, jadi selain mengontrol agresifitas sebagai pengontrolan master, pengontrolan komunikasi juga ditambah sebagai pengontrolan slave, sehingga setling time dari output bisa lebih cepat, atau dengan kata lain, jawaban dari si akhwat bisa lebih cepat kita dengar (menunggu adalah kegiatan yang paling mengesalkan, trust me..)
Override control
Katakanlah setelah kita melakukan pengkhitbahan yang kedua, ternyata hasilnya memang sudah cepat, tapi ternyata kita ditolak lagi untuk yang kedua kalinya, namun si akhwat masih memberikan kita kesempatan ketiga. Maka bagaimana caranya? strategi harus diubah (selain harus kuat mental menahan malu dan gengsi, hehe..)
Tapi ada fakta lain yang muncul, setelah ditolak sebanyak dua kali, ternyata kita jadi ragu ragu untuk bertindak, atau dalam bahasa kontrol, terdapat perubahan kondisi input dari yang semula. kalo di plant mungkin tiba tiba tekanan atau temperatur dari iput naik , sehingga perlu dilakukan pengkondisian ulang parameter parameter untuk bisa menyesuaikan parameter proses.
Maka disinilah pengontrolan override digunakan.
Selektor ini bisa menentukan umpan mana yang digunakan untuk menyesuaikan parameter. Bila dalam contoh kasus diatas tiba tiba rasa ragu ragu muncul dalam diri kita (artinya ada perubahan paramter input), maka selektor akan memilih umpan dari indikator input tersebut untuk menyesuaikan parameter proses. artinya karena kita menjadi ragu ragu, maka agresifitas harus ditingkatkan untuk mengimbangi pengurangan agresifitas secara otomatis akibat keragu raguan yang mulai muncul dalam diri kita.
Hasilnya, kita bisa memberikan kompensasi pada parameter proses terhadap perubahan properti input.
Feedforward control
Apa boleh buat, ternyata Tuhan memang tidak mentakdirkan akhwat didekati sebelumnya untuk bisa mendampingi kita, dengan kata lain kita ditolak untuk ketiga kalinya. and to make matter worse, ada ikhwan lain yang meminang dia dan langsung saja diterima oleh akhwat itu. artinya kita tidak punya kesempatan lagi kepada akhwat itu.
hehe,, sebelum kita membahas mengenai feedforward kontrol, mari kita kesampingkan segala sensasi melankolia yang muncul, perasaan yang abstrak dan tidak bisa terkuantifikasi hanya akan mengacaukan sistem yang teratur, karena pengambilan keputusan berdasarkan perasaan tidak bisa agak sulit untuk dianalisis.
Kembali ke subjek, pengontrolan dengan feedforward dilakukan ketika hasil output tidak bisa kita evaluasi, entah karena keadaan output tidak memungkinkan untuk diukur, atau, tidak akan ada kesempatan lagi untuk bisa mengevaluasi hasil (hanya ada satu kesempatan untuk mengontrol parameter proses)
Pengontrolan feedforward tidak membutuhkan pengukuran hasil output untuk mengevaluasi parameter proses. Di dalam pengontrol feedforward, terdapat memori yang menyimpan proporsi yang sesuai agar output bisa sesuai dengan yang dihasilkan. Bila kita loncat lagi ke cerita kita, hal inibisa dianalogikan dengan yang namanya “pengalaman”.
Dengan pengalaman yang sudah didapat setelah 3 kali ditolak,pastinya kita akan punya proporsi ideal untuk mengontrol parameter proses. kita akan punya standar sendiri untuk memberikan berapa skala parameter proses yang diperlukan. sehingga dengan sekali jalan, kita bisa mendapatkan output yang kita inginkan tanpa harus mengevaluasi output atau hasil.
Atau bila kita kembalikan ke kisah ini, ketika kita sudah menemukan akhwat baru untuk kita kenakan proses pendekatan, kita akan sudah tahu berapa skala komunikasi yang sesuai, berapa skala keagresifitas yang harus dilancarkan dan terakhir kita sudah tahu kapan waktu pengkhitbahan yang tepat, sehingga kita bisa mendapatkan hasil yang kita inginkan, dan waktu respon yang sesuai dengan yang kita inginkan.
Akhirnya kita bisa hidup bahagia selamanya bersama pendamping yang kita inginkan mendampingi kita, Hidup berkarya seraya menjalani hidup penuh cinta dan kasih sayang sampai akhir zaman.
-semoga bermanfaat -
Filed under: Uncategorized
















hmm.. menarik ka..
analoginya pake pengendalian proses kaya di pabrik
semester kmrn baru dapet mata kuliah ini soalnya..
jadi pas liat diagram blok fb dan ff control (plus override dan cascade pula) langsung pengen baca..
=)
hehe, makasih makasih…
hai fi, udah lama ga mampir ke blog lu..
wuaah, nyari pasangan aja pake teori kaya gini… buset dah,, dasar anak itb! nyari pasangan itu yang paling penting pake hati fi
hehe, kisah cintanya cuma untuk menjelaskan konsep dis,,
intinya ya sistem pengontrolan itu..
tengkyu tengkyu