• Keluarga besar intelektual muslim

    Pegangan Kami,

    Islam Dan Scientific,

    Otak Jerman

    Hati Mekkah,

    Semangat Jepang,

    Kepribadian Indonesia!

  • My Facebook

    Muhamad A Kasyfi's Facebook profile
  • My personality

    Click to view my Personality Profile page
  • Koleksi potoku

    partner for life

    early merchant

    siap lahap

    highland breakfast

    satu komando satu perlawanan

    sesaat  menjelang orasi..

    hancurkan!!!

    Tuntutan kami

    sigap

    Menua

    More Photos

Stasiun manggarai, dan sebuah teguran Tuhan

Setiap melewati stasiun manggarai dengan menggunakan kereta parahyangan trayek bandung – gambir aku selalu penasaran, kenapa kecepatan kereta selalu melambat. kupikir agar membiarkan orang yang mau turun di manggarai untuk segera melompat saja, agar tidak perlu menunggu sampai gambir. mungkin, kupikir…

Karena untuk pulang ke rumahku di bogor aku harus mencegat kereta jakarta bogor ekonomi yang tidak berhenti di gambir. Sehingga , setelah turun di gambir  aku harus naik busway sampai terminal gondangdia  atau bila tidak ke gondangdia, aku harus  naik kereta pakuan jakarta bogor yang tarif karcisnya lebih mahal 5 kali lipat ketimbang tarif kereta eonomi.

Hari minggu 8 desember  akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah, setelah buntu mengerjakan artikel pendidikan yang tidak tahu harus mulai dari mana. Berjalan ke luar ITB, aku harus menerjang hujan deras, peringatan pertama dari Tuhan muncul, aku bertemu anak FT angkatan 2003 yang biasa bercokol di lab manajemen energi..

“kemana pi?”

“mau pulang mas heri,..”

“Hujan lho,,,”

“Gak pa pa,,”

aku melambaikan tangan dan terus berlalu menuju jalan taman sari untuk mencegat mobil sadang serang caringin menuju stasiun kereta.

Sampai di stasiun, aku memesan tiket kereta parahyangan ke operator penjual karcis.

“mbak, kalo yang ke jakarta jam berapa mbak?”

“15.05 pak ” sambil menunjukkan papan kecil pemberitahuan bertuliskan kereta parahyangan bandung jakarta : 15.05

Aku melirik jam di hape ku, 14.40 masih 25 menit lagi sebelum jam 15.05. kalau aku ambil yang jam 15.05, berarti aku tidak bisa pulang dulu untuk membawa baju kotor supaya bisa dicuci di rumah, atau menyiapkan barang barang yang seharusnya kubawa dan baru teringat setengah jam setelah kereta melaju.

Pelajaran ke dua muncul, aku tergesa gesa. Akhirnya aku memutuskan pergi saja dengan kereta yang jam 15.05, paling aku akan berada di rumah untuk tidak lebih dari 2 hari, jadi baju tidak perlu ganti.

“ya udah, yang 15.05 ya mbak, bisnis satu orang “

stasiun bandung lagi sepi

stasiun bandung lagi sepi

Si mbak menyerahkan tiket tanpa menagih harganya, angka tiga pulu ribu tertera di kolom harga yang harus dibayar, arrgh, baru saja hari raya kemarin naik 25.000 setelah sebelumnya 20.000, sekarang sudah naik lagi menjadi 30.000. saya sama sekali tidak tahu apa alasan mereka menaikkan harga, karena dengan pelayanan yang buruk dan waktu sampai yang tidak pernah tepat , kupikir harga 20.o0 adalah harga yang sudah cukup pantas.

Tapi kubayar juga tiket itu, aku langsung melesat ke jalur 6, jalur tempat kereta parahyangan sedang ngetem menunggu penumpang, kata si satpam penjaga pintu.

Tiga jam duduk di kereta sudah berlalu dari tadi, namun kereta baru sampai bekasi, masih beberapa stasiun lagi sebelum kereta memasuki gambir, aku sudah berjaga di koridor antar gerbong, membuka pintu dan membiarkan angin sore  menerpa. Karena aku sedang bersiap, bersiap melakukan sebuah tindakan yang kusadari nanti sebagai sebuah kebodohan namun tidak kusesali, karena bila aku tidak melakukan ini, mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa aku tidak bisa melakukannya. Orang bilang learning the hard way.

Stasiun manggarai semakin dekat, karena mulai banyak kawat kawat penyuplai tegangan di langit, bergelantungan tanpa pembungkus, siap menyengat siapa saja yang lengah menyentuhnya. permukaan trotoar juga semakin mendekat, dan benar! kereta mulai melambat, terus melambat sampai kecepatannya sudah tepat, aku langsung berusaha menjejakkan kaki kiriku di trotoar stasiun,,ssssrtttt… ia terseret, kereta tidak berhenti, ia terus melaju, akhirnya aku sadar kalau kereta masih terlalu cepat untuk aku bisa melompat, tapi aku ingat pengamen pengamen yang biasa turun dari kereta dengan berlari, persis yang dilakukan peterjun payung yang kecepatannya masih tinggi ketika menabrak bumi, mereka berlari, dan bila aku bisa berlari, mungkin aku juga akan melompat dengan selamat, dari kereta yang sedang angkuh melaju, mungkin bisa jadi cerita untuk oleh oleh  ketika aku sampai di rumah, dan aku bertekad, sekarang!,, atau tidak selamanya!.

Aku mengumpulkan segenap nyaliku untuk melepaskan pegangan tangan kananku di gagang pinggir kereta seraya bersiap untuk berlari, berlari sekencang kencangnya,

satu……dua …..tig,,

pegangan kulepaskan, aku menjejakkan kaki kiri pertama di trotoar, lalu kaki kanan, dan berusaha berlari, berlari sekuat kuatnya ketika tiba tiba inersia tubuhku mendorongku dengan sangar ke depan dan membuat kaki kiri dan kananku meleset untuk menjejak lantai beton dengan keras, tubuhku limbung ke depan, melayangkan sejenak tubuhku di udara, hanya sejenak, karena selanjutnya aku jatuh terjerembab dengan pipi kiri, sisi  dalam tangan kananku dan lutut kiri menggesek trotoar, menggesek dengan keras, memarut lapisan terluar kulit yang berwarna, menyisakan warna putih bagian dalam yang khas, dan rasa sakit baru datang beberapa saat kemudian, seperti perih yang tiba tiba menyebar merata di semua titik cedera, membakar dan tak tertahankan, memompa adrenalinku untuk bangkit….

Aku berusaha berdiri, kulihat bagian dalam tangan kiriku  berwarna putih di beberaa titik cedera, seperti daging ayam,  ah, aku belum makan, aku melingkis celana jeansku dan melihat hal yang serupa di lutut kiri.

Stasiun manggarai, TKP

Stasiun manggarai, TKP

Aku melihat keadaan, kanan dan kiri, kosong! tidak ada orang, hanya gelandangan yang tadi sedikit mengangkat kepalanya untuk menoleh ke arahku, mungkin dia mendengar bunyi debum keras ketika tubuhku menabrak trotoar tadi, lalu dia berpaling lagi, he? tak apalah, mungkin dia sudah mafhum dengan orang yang kecelakaan di stasiun manggarai ini, mungkin aku orang bodoh nomor tiga hari ini yang mengalami kecelakaan karena kebodohan diri sendiri.

Aku bangkit seperti tidak terjadi apa apa, lalu menyebrang rel kereta setelah sebelumnya  melihat kanan kiri, karena kereta yang melaju tidak bisa di stop dengan lambaian tangan seperti ketika kita menyebrang jalan, setelah kosong aku bertanya pada si penjaga pintu dengan roman muka senatural mungkin…

“pak, musholla dimana yah pak?”

aku harus mencuci lukaku, supaya tidak mengalami infeksi,

“sebelah sana mas, ada musholla kok,,,”

“tengkyu mas,,,”

aku berjalan perlahan ke musholla, mempertahankan figur tegap agar tidak ada orang yang tahu, bukan berusaha terlihat gagah, hanya kalau orang tahu apa yang terjadi padaku, mungkin mereka akan panik, dan panik tidak pernah menyelesaikan masalah. Sampai di tempat wudhu aku langsung membasuh daging daging yang kehilangan perlindungan kulit terluarnya di tangan kiriku, lalu lutut, pelipis kiri dan sedikit bagian tangan kanan,, ALLAH! perih sekali, sebegitu perihnya sampai rasa sakitnya harus kutampakkan sedikit di mukaku, aku meringis, namun wudhu harus dilanjutkan karena sudah tiba waktu maghrib.

Akhirnya aku solat, solat yang kehilangan ruhnya, karena aku lebih berkonsentrasi untuk menahan sakit dibanding berkonsentrasi kepadaNya. Ya Allah, kau sudah beri aku 2 tanda, dan aku masih juga mengingkarinya, kejadian ini salahku ya Allah, karena kesalahanku… mudah mudahan Engkau masih sudi memaafkan hambamu yang naif  ini…

6 Responses

  1. hati-hati kasy, kalau mau memulai yang baru….

  2. gak akan gw ulang lagi kali,,

    namanya juga kecelakaan karena kebodohan sendiri..

    hampir tiga hari gw gak bisa salat dengan gerakan sempurna gara gara ini,,

    heu heu

    memang,,
    sebuah kebodohan,,

  3. btw, gw beberapa kali naek parahyangan ampe gambir, on time loh!! paling cuma miss 5 menit. Keren kereta jaman skarang Kas..

  4. Pak hermawan juga katanya kalo naek bandung gambir selalu on time,,

    tapi gw sekalipun gak pernah on time,, pernah si,, tapi yang jam 5 pagi. nyampenya pas jam 8 pagi

    kalo di luar itu ngaret mulu..

  5. jangan dicuci pake aer sembarangan lukanya, ntar bisa kena infeksi sekunder. coba pake alkohol atau revanol.

  6. ga ada yang jual revanol mas di manggarai,, makanya saya langsung ke masjid,,

    tapi alhamdulillah sudah sembuh sekarang,,

Leave a Reply