• Keluarga besar intelektual muslim

    Pegangan Kami,

    Islam Dan Scientific,

    Otak Jerman

    Hati Mekkah,

    Semangat Jepang,

    Kepribadian Indonesia!

  • My Facebook

    Muhamad A Kasyfi's Facebook profile
  • My personality

    Click to view my Personality Profile page
  • Koleksi potoku

    partner for life

    early merchant

    siap lahap

    highland breakfast

    satu komando satu perlawanan

    sesaat  menjelang orasi..

    hancurkan!!!

    Tuntutan kami

    sigap

    Menua

    More Photos

Belajar memahami manusia (1)

Saya merasa semakin jatuh cinta dengan primata yang memiliki akal ini, karena semakin banyak observasi yang saya lakukan, semakin kompleks kesimpulan kesimpulan yang saya dapat mengenai mahluk bernama manusia ini. Apakah kesimpulan ini benar atau salah? saya mengemas kesimpulan ini sebagai sebuah pendapat yang benar dari sisi saya. dari sisi anda? entahlah, akan ada perbedaan..

Read more »

Mencari nilai diri …

Kadang kadang aku ingin bertanya kepada wanita wanita cantik yang gemar bersolek berjam jam di depan cermin, tampil dengan busana seadanya. Dan merasa puas ketika lirikan lirikan pria menatap lebih dari satu kali kepadanya. Atau mereka yang lahir dengan sendok perak, membanggakan atribut yang dia tidak berjuang sedikitpun untuk mengenakannya, atau mungkin manusia manusia berdarah biru, yang memiliki kekuasaan yang diturunkan dari orangtuanya, yang didapatkan lagi dari kakeknya terus ke atas.. Read more »

Life in a circle….

Setelah beberapa hari magang di tempat yang sekarang, rasanya saya mulai mengerti mengapa ada orang orang yang bekerja melakukan hal yang sama bertahun tahun setiap harinya dan tidak merasa bosan ataupun merasa ingin berubah atau mengharap hal yang lebih baik. Karena hidup yang rutin adalah hal yang sangat mudah, seperti halnya titik kelembaman yang selalu kembali ke point semula, ataupun seperti halnya revolusi bumi kepada matahari yang terjadi tanpa memakan energi sedikitpun. Hidup yang rutin itu begitu menggiurkan untuk dijalankan. Read more »

Sejenak di pancious pancake, memahami arti menikmati..

Jumat malam, setelah menemani seseorang mengecek instalasi lighting salah satu klien di kawasan pacific place jakarta, kami memutuskan untuk rehat sejenak di pancious pancake untuk mengistirahatkan mata dari silau cahaya lampu yang terus terusan kami tatap dari sore hari, dan mulai membuat titik titik merah kelap kelip setiap kami menebar pandangan. Read more »

Menunda Kebahagiaan..

Diceritakan kembali dari buku : Cacing dan kotoran kesayangannya (Achan Brahm)

Seorang pemuda baru saja lulus kuliah dan mulai menapai karir di pekerjaannya. Dia masih single dan merasa tidak bahagia. Dia befikir, sepertinya ketika aku mempunyai pasangan aku akan bahagia . Read more »

Onggokan Pupuk kandang di depan Rumah

Suatu hari sepasang pasangan muda baru pulang dari pergi melancong. Dan ketika mereka sampai di depan rumah, mereka kaget karena melihat pupuk kandang dengan ukuran raksasa teronggok di depan rumah mereka. Baunya menyengat sampai ratusan meter ke segala arah, dan akan bertambah beberapa ratus meter lagi bila hujan turun dan berhenti. Mereka kaget, siapa yang melakukan kejahilan ini? atas alasan apa mereka mendapat onggokan pupuk kandang ini, mereka mencari ke segala arah jejak jejak dari orang yang melakukan ini. Namun sejauh mata memandang, tidak terlihat truk bertuliskan ‘ kami menjatuhkan pupuk kandang di rumah anda secara tiba tiba‘ jalanan lengang kosong, seolah pupuk itu dijatuhkan dari langit, dan mereka mulai bertanya apa salah mereka karena mendapat pupuk kandang ini. Read more »

[Cerber] Hanif dan Viera (II)

Mentari merambat perlahan di hari minggu pagi, sinari hamparan sawah menghijau sejauh mata memandang di dekat rumah Hanif. Hanif sudah siap dari tadi, dia tidak pernah tidur lagi setelah salat subuh, hari ini dia ada kajian ilmu agama di masjid tetangga.  Ia tak sabar ingin mendengarkan siraman rohani dari Ustadz Aziz, kiyai karismatik jebolan gontor yang baHanifnya sangat membumi, mudah dicerna, lagipula ada satu hal yang ingin dia tanyakan kepadanya, perihal rasa cinta yang terus meresapi setiap pikiran yang terlewat di kepalanya, ketika Hanif sedang makan, ia membayangkan makan bersama Viera dan dua anaknya yang lucu lucu. Ketika dia duduk di sofa, dia membayangkan Viera sedang bersandar di pundaknya bergelayut manja. Astaghfirullah, pikiran pikiran menyesatkan yang membuat salatnya kian tidak tenang. Dimana mana ada Viera, bahkan ketika dia keluar pintu rumahnya sambil menuntun sepeda federalnya, hendak berangkat menuju surau untuk mengaji pagi ini, dia membayangkan sedang pamit kepada Viera, dan Viera mencium tangannya, seraya mendoakan keselamatan dan berkata
“jangan pulang malam malam ya..”
Ya Allah, ini harus berakhir. Sepeda Hanif terus melaju di keheningan pagi.
****
Minggu Siang itu Ada Farah, Wendy, dan Gisel di kamar Viera.. Mereka berpegangan tangan, khusyuk mendengarkan Viera bercerita tentang perasaan cinta yang menderanya. Dia sudah tidak bisa memendamnya lagi, tadi malam dia bermimpi berpegangan tangan dengan Hanif dan berjalan perlahan menuju matahari terbit. Dia yakin ini adalah sebuah pertanda untuk menunjukkan bahwa Hanif memang pria yang diciptakan hanya untuknya.
“Gue gak tahu, gue udah gak bisa lagi nahan perasaan ini.. gue harus bilang.. tapi gimana?”
Viera menjelaskan dengan perlahan, suaranya melarut dalam isak tangis merindu,  genggaman tangannya dengan mereka memberikan ketenangan yang membuat Viera bisa bercerita dengan leluasa..
“Ya tapi lo tau kan siapa Hanif ? dia tuh manusia langka yang gak mungkin untuk ngejalanin yang namanya pacaran” Ujar gisel mempertanyakan perasaan cinta Viera
“Gue tahu, tapi gue juga gak tahu kenapa gue merasakan perasaan ini.. cinta ini datang dengan  sendirinya tanpa gue sadari..”
“Ah pasti gara gara kejadian lo sama Hanif sama pak Bun kmaren ya?”
diantara mereka bertiga hanya Farah yang sekelas dengan Viera.
Mendengar kata kunci Hanif-Viera dan Pak Bun, muka Viera sedikit memerah malu, lalu mendelik ke arah ketiga best friend nya sambil menahan senyumnya.
“bener kayaknya Far, liat aja tuh jadi senyum senyum sendiri dia.. emang kejadiannya gimana sih far?” Wendy ikut bicara
“Panjang kalo diceritain wen, tapi emang kalo gue jadi Viera, mungkin gue bakal jatuh cinta juga sama anak rohis kurus kering itu…”
Sepenuh hati Viera menyembunyikan senyum yang terbit di wajahnya karena teringat kejadian di hari itu.
“udah deh, gak usah dibahas lagi, pokoknya gue butuh masukan kalian, kalian kan best friend gue, yang paling ngertiin gue, sekarang gue harus gimana?”
“Gak ada jalan lain vier, lo harus nembak dia, gak ada jalan lain dari masalah ini kecuali lo nyatain cinta lo sama dia..”
Farah terdengar meyakinkan. Sebetik keraguan tersirat di mata Viera, tapi dia juga tahu bahwa ini memang satu satunya cara.
“kalian mau bantu gue kan? Gue gak bisa ngelakuin ini sendirian..”
“emang kita siapanya lo vie, tenang aja pasti kita bantu..”
“makasih ya.. kalian emang best friend gue, gue gak tahu kalo gak ada kalian gue gimana..”
Mereka berempat berpelukan dengan hangat, persahabatan mereka semakin mengantal, kejadian seperti ini yang membuat mereka semakin dekat. Dan ketiganya meneguhkan diri dalam hati akan membantu sepenuh hati best friend mereka, Viera. Selama ini Viera yang dikenal paling kuat, jadi penengah diantara mereka, dan yang melekatkan mereka berempat adalah Viera juga, maka ketika Viera tiba tiba jadi melankolis seperti ini, hati mereka terpanggil untuk mengembalikan senyumannya. Mereka berempat mengatur siasat agar esok hari, senin, selepas jam terakhir, Viera bisa menyatakan cintanya kepada Hanif.
***
“jadi, saya harus bagaimana ustadz?” Hanif bertanya dengan mimik serius setelah selesai bercerita panjang lebar mengenai perkaranya di sesi pribadi dengan ustadz azis. Dia benar benar mengharapkan jawaban yang bisa menenangkan dan meredam kegundahan hatinya.
Ustadz azis tertawa, dia jadi terkenang masa mudanya ketika dia memendam cinta kepada Annisa fitriyani, santri putri yang sering berpapasan dengannya ketika dia masih di pesantren dulu. Sekarang annisa sudah jadi pendamping setianya untuk di dunia dan mudah mudahan akhirat, mereka menikah di acara nikah massal selepas pesantren. Guru wali mereka yang menjodohkan mereka, dan entah kenapa walinya berpendapat dia cocok sekali dengan annisa, padahal setengah mati Ustadz azis memendam rasa cintanya kepada annisa. Mungkin ini yang dinamakan jodoh, tak akan lari dikejar. Ah masa muda yang penuh cinta.
Ustadz azis menghentikan nostalgia romansa cinta remajanya, dia mengubah mimik menjadi serius dan bertanya kepada Hanif yang sedari tadi menunggu jawaban dengan was was.
“Kamu siap untuk menikah, Hanif?”
“Ya ampun ustad, saya kan baru kelas dua SMA, bagaimana saya mau nikah? Saya harus kuliah, mencari kerja dulu, lalu berkarya dan berjuang di jalan Allah, baru saat itu saya menikah.. masih lama ustadz”
“Kalau begitu kamu tidak ada alasan lagi untuk memendam rasa itu Hanif, “
“Maksud ustadz?”
“Rasa itu hanya sebuah reaksi, cara tubuh seusia kamu untuk merespon kejadian yang kamu alami kemarin. “
Ustadz menunggu sebentar, Kafi terlihat mendengarkan dengan serius, lalu ia melanjutkan..
“Tidak ada obat yang paling manjur untuk cinta selain pernikahan, selain itu, kamu bisa terjerumus di tindakan yang dibenci oleh Allah, yaitu mendekati zina, nauzubillahi mindzalik
Untuk meredam rasa yang kamu rasakan ini, cobalah untuk berpuasa, atau beristighfar, dan berlindung kepada Allah dari godaan syaithan setiap bayangan bayangan itu muncul lagi. Karena memang bayangan bayangan seperti itu syaitan yang membisikkan. InsyaAllah kalau kamu mengamalkan itu, kamu akan bisa mengatasi ini. “
Hanif terdiam sejenak, keningnya terlihat berkerut. Akhirnya dia memutuskan untuk menuruti saran dari pak Ustadz ini, mudah mudahan rasa ini bisa hilang dengan sendirinya. Lagipula siapa dia? Bila dibandingkan dengan Viera, hanya prestasi akademis saja yang bisa ia banggakan. Berkali kali dia menduduki ranking satu dan Viera rangking 3, tapi diluar itu dunia mereka berbeda, dia anak tidak mampu, sedangkan Viera? Wah bagaikan pungguk merindukan bulan saja ini. Dan Rasa minder itu semakin memantapkan hati Hanif untuk melawan gejolak rasa ini.
“Baiklah Pak ustadz, saya akan coba melaksanakan sarannya, doakan saya ya..”
“InsyaAllah Hanif..”
“Assalamualaikum..”
“waalakum salam.”
Hanif sudah memantapkan hati untuk melawan rasa ini, mudah mudahan besok senin anak anak sudah lupa akan kejadian sabtu siang itu. Akhirnya Hanif pulang ke rumah dengan sedikit tenang, berharap semua kan selesai esok hari.
Hanif belum tahu apa yang sudah direncanakan oleh Viera dan Geng nya.

2. Hadapi rasa tertaut

Mentari merambat perlahan di hari minggu pagi, sinari hamparan sawah menghijau sejauh mata memandang di dekat rumah Hanif. Hanif sudah siap dari tadi, dia tidak pernah tidur lagi setelah salat subuh, hari ini dia ada kajian ilmu agama di masjid tetangga.  Ia tak sabar ingin mendengarkan siraman rohani dari Ustadz Aziz, kiyai karismatik jebolan gontor yang baHanifnya sangat membumi, mudah dicerna, lagipula ada satu hal yang ingin dia tanyakan kepadanya, perihal rasa cinta yang terus meresapi setiap pikiran yang terlewat di kepalanya, ketika Hanif sedang makan, ia membayangkan makan bersama Viera dan dua anaknya yang lucu lucu. Ketika dia duduk di sofa, dia membayangkan Viera sedang bersandar di pundaknya bergelayut manja. Astaghfirullah, pikiran pikiran menyesatkan yang membuat salatnya kian tidak tenang. Dimana mana ada Viera, bahkan ketika dia keluar pintu rumahnya sambil menuntun sepeda federalnya, hendak berangkat menuju surau untuk mengaji pagi ini, dia membayangkan sedang pamit kepada Viera, dan Viera mencium tangannya, seraya mendoakan keselamatan dan berkata

“jangan pulang malam malam ya..”

Ya Allah, ini harus berakhir. Sepeda Hanif terus melaju di keheningan pagi.

Read more »

[Cerber] Hanif dan Viera

1. Sejarah yang melewati waktu

Ada yang mengganggu Hanif akhir akhir ini. Dan sebenernya dia tahu apa itu. Nilainya yang cemerlang di pelajaran biologi membuat dia mengetahui apa yang terjadi. Gejolak hormon di tubuhnya memberikan efek samping, sebuah rasa, rasa yang sulit terdefinisi, sebuah sensasi yang membuatnya tersenyum dalam kesendiriannya, lalu beristighfar setelahnya, atau membuat dia berhalusinasi mendengar sang kekasih memanggil dengan mesra..
“Hanif…”
Dan sepenuh hati dia ingin menjawab seruan itu dengan mesra..
“iya Viera sayang…”
“Hanif..”
ah suara sebening embun itu begitu halus mengalun di telinganya.
“iya sayang…”
“Hanif….  Buruan ke sini, bantuin ibu sebentar mengganti lampu depan nih, putus sepertinya, jadi ruang depan gelap sekali, takut ada tikus masuk…”
Astaghfirullah, ternyata ibu yang memanggil, pikir Hanif
“Iya bu sebentar, Hanif lagi ngerjain PR..”
Hanif menatap bukunya, seharusnya 10 soal PR itu bisa diselesaikan kurang dari 2 jam,  tapi dilihatnya baru 2 nomor pertama yang sudah dikerjakan, entah apa saja yang dia lakukan 2 jam ini, ah cinta ini mulai membunuhku.. pikirnya. Sekarang dia mengerti apa yang dirasakan D’Massive waktu menciptakan lagu itu.
Namun malam itu sebenernya Hanif tidak sendiri, di sisi lain kota bogor nan sejuk karena sorenya hujan besar, di bilangan perumahan elit taman yasmin, seorang putri jelita sedang tersudut di kasurnya seraya memeluk erat bantal wanginya. Waktu tidur sudah lewat dua jam yang lalu, tapi matanya enggan terpejam jua, karena entah kenapa bibirnya terus menyunggingkan senyum. Bibirnya sedikit dia gigit untuk menahan rasa yang terus membuncah dari relung jiwa terdalamnya, entah kenapa remaja yang kulitnya terbakar matahari dan bertubuh kurus kering itu terus terbayang di benak Viera.
Viera tidak bisa melupakan kejadian yang menyebabkan rasa itu terbit di hatinya. Saat itu siang hari sedang membakar atap atap rendah sekolah menengah atas 5 Bogor, tempat keduanya bersekolah. Bila sinar matahari tidak cukup membakar habis kesabaran siswa siswi yang sekolah di jam terakhir waktu itu, maka pelajaran sejarah yang terkenal amat sangat membosankan, ditambah lagi gurunya sudah jadi musuh bersama, makin memanaskan emosi siswa siswi saat itu. Sebagian mereka terus saja menatap jam dinding di atas papan tulis dan menyaksikan jarum detik bergerak ke angka 1 lalu 2 dan seterusnya. Sebagian yang lain mendekatkan jam tangannya ke telinga, mengecek apakah jamnya masih hidup atau kehabisan baterei, karena entah kenapa waktu terasa berhenti dan berjalan sangat lambat, mungkin inilah yang dimaksud Fisikawan tersohor Albert Einstein, bahwa waktu itu relatif.
Sudah 10 menit Jam pulang dilanggar Pak Bun, kependekan dari Bunawan, guru sejarah yang cukup sulit untuk disukai itu, kekesalan siswa siswi di kelas itu semakin menusuk nusuk di ubun ubun mereka, termasuk Viera, ditambah lagi dari tadi pagi Viera belum makan, lengkaplah sudah penderitaan lahir batin yang dialaminya. Dan Viera juga tahu, sebagai siswi yang dikenal tukang protes di kelas, saat ini dia yang jadi harapan siswa siswi yang tertindas di belakangnya. Di pundaknya tergantung harapan puluhan siswa siswi yang nasibnya ingin diperjuangkan. Dia bisa tahu karena dia mulai merasakan tatap mata yang panas terasa di belakang kepalanya, seolah mereka sama sama berkata dalam hati
“Viera!!!.. cepetan ngomong!!!!”
Dan sampai di satu titik tiba tiba tangan kanan Viera bergerak sendiri ke atas dan mulutnya tiba tiba membuka dan mengeluarkan suara.
“Pak!!”
Akhirnya Viera mengacungkan tangannya. Kalau ada yang menyentuh ujung jarinya, pasti dia bisa merasakan kegugupan yang dirasakan Viera. Tapi rasa lapar di perutnya dan desakan teman temannya membuat dia berenergi lebih untuk menantang kediktatoran Pak Bun.
Pak Bunawan mengangkat wajahnya yang terhalang oleh buku, dan bersuara seperti kodok yang obesitas. Setiap nada yang keluar dari mulutnya bertujuan untuk mengintimidasi..
“Ya.. vi-e-ra..”
Viera mengumpulkan keberaniannya dan berkata dengan lantang
“Jam sejarah sudah habis Pak, saya yakin banyak dari temen temen yang belum salat zuhur.”
Aduh, kenapa salat yang jadi alasan, pikir Viera, pasti orang orang akan berfikir bahwa dia sok agamis. Tapi mimik muka Viera pura pura yakin dengan argumentasinya, menunggu kalimat balasan dari Pak Bun dengan mata yang menohok tajam.  Pak Bun menatap Viera sekitar satu menit, membiarkan kelas larut dalam suasana yang tegang mencekam, dan tak disangka sangka akhirnya dia melanjutkan lagi pelajarannya dengan nada yang sama, datar dan membosankan.
“jadi pada zaman revolusi inggris, james watt telah…”
Merasa diabaikan, Viera berteriak sekali lagi
“Pak..!!”
“SAYA DENGAR VIERA!!”
“SAYA TIDAK TULI!!”
Suara bentakan Pak Bun yang nyaring dan tajam membahana ke setiap sisi kelas. Diteriaki seperti itu, Viera jadi terdiam, matanya nanar bersirobok dengan mata Pak Bun. Kelas hening seketika, yang dari tadi tertidur di meja dibangunkan oleh teman sebelahnya. Viera yang tersentak karena dibentak akhirnya tidak bisa berkata kata lagi. Hanya menatap lurus ke mata Pak Bun, berharap tatapannya bisa membuat Pak Bun Gentar.
Seorang laki laki kurus kering di bangku sebelah kanan belakang, Hanif, sebenarnya sudah mengumpulkan keberanian dari tadi. Tapi tangan kanannya masih berat untuk terangkat, namun suasana kelas yang semakin mendesak dan menggencet akhirnya membuatnya pita suaranya berteriak tanpa mengacungkan tangan dahulu.
“Apa Bapak melarang kita untuk salat??!!!!”
Suaranya bergetar getar karena gugup, tapi perhatian kelas telah terambil olehnya, termasuk perhatian Pak Bun kelas hening lagi. Merasa mendapat dukungan moral dari Hanif, Viera langsung merasakan gelombang kelegaan di sekujur tubuhnya. Merambati kedua tangannya, dan naik ke kedua mata, mengalirkan linangan hangat di kedua pipinya yang menentramkan, dan menyunggingkan senyum termanis yang pernah dia berikan untuk seseorang, untuk Hanif, penyelamatnya. Dia menoleh ke arah datangnya suara, di daerah kanan belakang. Dilihatnya pemuda kurus kering itu dengan rasa berbunga, matanya sedang menatap lurus ke depan, menerjang Pak Bun.
Pak Bun bisa menindas satu orang yang memprotesnya, apalagi bila yang memprotesnya perempuan, tapi ditambah satu orang lagi, siswa anak rohis yang terkenal kritis terhadap masalah agama, Hanif Hamzah, dan tatapan mata satu kelas, terlalu banyak untuknya. Dia memalingkan muka dengan hina dan meninggalkan kelas dengan terburu buru. Tas dan berkasnya ditinggalkan.
Viera masih menatap Hanif ketika Hanif sedang membereskan buku bukunya dengan tenang. Di matanya yang berkabut, Hanif tampak bercahaya. Akhirnya Viera memberanikan diri untuk berdiri, membereskan roknya, dan berjalan mendekati Hanif, menatap matanya, sambil berkata.
“Makasih ya…. Hanif” Viera tersenyum, manis sekali..
Yang diberi terima kasih hanya melongo, shock melihat sosok cantik di hadapannya tersenyum kepadanya. Senyuman termanis yang pernah dia lihat. Hanif hanya bisa berkata..
“…Kamu cantik sekali..”
Astaghfirullah!, apa yang dia katakan tadi? Hanif langsung beranjak dengan tergesa gesa, mukanya merah karena malu tidak bisa mengontrol perasaannya, dia  keluar kelas menuju masjid, dia butuh ketenangan. Sayup sayup dia mendengar teriakan riuh anak anak sekelasnya di belakangnya.. oh Tuhan apa yang sudah saya katakan tadi??.
Dan malam itu di kamar Viera, kalau kenangan Viera sudah sampai di saat dimana Hanif mengatakan kalau dia cantik, Viera akan membenamkan wajahnya ke dalam bantal, memeluknya lebih erat lagi dan menahan keinginan untuk berteriak sekeras kerasnya karena kegirangan.  Malam itu hanya ada Hanif yang bertahta di benaknya. Bulan pun tersenyum menyaksikan dua anak manusia memendam rindu kepada satu sama lain. Kalau saja mereka saling mengetahui apa yang mereka rasakan. Remaja yang saling memendam suka, bukankah itu hal yang terindah?

Ada yang mengganggu Hanif akhir akhir ini. Dan sebenernya dia tahu apa itu. Nilainya yang cemerlang di pelajaran biologi membuat dia mengetahui apa yang terjadi. Gejolak hormon di tubuhnya memberikan efek samping, sebuah rasa, rasa yang sulit terdefinisi, sebuah sensasi yang membuatnya tersenyum dalam kesendiriannya, lalu beristighfar setelahnya, atau membuat dia berhalusinasi mendengar sang kekasih memanggil dengan mesra..

“Hanif…”

Dan sepenuh hati dia ingin menjawab seruan itu dengan mesra..

“iya Viera sayang…”

“Hanif..”

ah suara sebening embun itu begitu halus mengalun di telinganya.

“iya sayang…”

“Hanif….  Buruan ke sini, bantuin ibu sebentar mengganti lampu depan nih, putus sepertinya, jadi ruang depan gelap sekali, takut ada tikus masuk…”

Astaghfirullah, ternyata ibu yang memanggil, pikir Hanif

“Iya bu sebentar, Hanif lagi ngerjain PR..”

Read more »

Ayo budayakan bilang makasih!

*******: Sy bilang,,itu kan bukan taken for granted yg udh mereka lakukan buat kita
*******: Pake tekad,keinginan untuk bikin kita puas sm service mereka
*******: Jadi sudah selayaknya kita bilang makasih

Pernah liat ada penumpang ribut sama kondektur bis gara gara masalahtempat duduk atau musik yang distel? atau pelanggan yang bertengkar sama kasir warnet gara gara salah print? orang yang senang mengintimidasi sales promotion girl/boy di counter counter leptop? atau orang yang adu omongan sama tukang tambal ban..?

Sebenernya agak malu mengakui tapi itu hal yang pernah saya lakukan, sebagai orang yang selalu merasa menetapkan standar tinggi untuk segala sesuatu termasuk pelayanan, saya selalu menuntut orang untuk selalu profesional dalam pekerjaannya, pelayan harus benar benar bisa melayani dan tidak membeda bedakan antara pelanggan yang sopan, ataupun pelanggan yang nyebelin. Kalau ada kesalahan dalam produk yang saya beli saya akan protes sekeras kerasnya, jangan sampe ada kerugian yang harus saya tanggung karena ketidakprofesionalan dia ketika mengerjakan tugasnya.

Tapi belakangan saya sepertinya agak terpengaruh sama orang yang sering berinteraksi sama saya lewat YM akhir akhir ini, dan salah satunya adalah mengenai perkara pelayanan ini, seperti bisa dilihat di cuplikan pembicaraan di atas yang di-bold, dia punya alasan yang cukup bagusdan bisa saya terima untuk bisa berterima kasih sama siapapun, berbeda dengan saya yang hanya mengucapkan terima kasih sambil lalu atau hanya tengkyu tengkyu hambar sambil lewat tanpa benar benar memberi makna pada ucapannya.

Nah, selama tiga hari saya di bandung kemarin untuk ngurus ketebelece pernilaianismeisasi, saya coba coba untuk yah agak memakai idealisme dia dan mengucapkan terima kasih sambil agak sedikit lebih menghargai mereka…

@Gramedia

sy : maaf mas (saya jarang pakek kata maap untuk meminta sesuatu karena memang tidak beralasan, hehe) kalo bukunya ngefren sama islamnya teguh iman pradana dimana ya?
si mas penjaga buku (SMPB) : oh, kalo itu kan buku karangan mizan ya, biasanya ada di sebelah sana mas, tapi bukunya memang dicampur jadi memang perlu dicari satu satu..
sy : baik mas, makasih ya.. (1 point)

LUAR BIASA!! dia ngomong lebih sopan lagi sama saya, bahkan pakek sambil sedikit nunduk nunduk segala,, saya jadi merasa dihormati dan dilayani dengan lebih baik ,, hehe…

@angkot
pas saya pulang ke rumah naek angkot saya agak kesel karena pengemudinya ugal ugalan, padahal di belakang ada pasangan muda yang bawa bayi, mo negur rada takut juga soalnya agak sangar wajahnya si emang sopirnya teh,, ternyata si supir malah lewat jalan yang diluar trayek dia, akhirnya saya harus berhenti di tengah jalan..
“kiri mang…”
saya ngasi uang ongkos yang pas sambil bilang
“mangga a.. nuhun”
karena gak lewat jalur biasanya saya harus jalan beberapa meter lagi berarti, ah sudah terbayang malas nya..
tapi tiba tiba si supir lewat rute yang saya lewati juga
“a,, bade ka payun? sareng we atuh..”
jah, ternyata dianterin lagi saya sampe depan gang deket rumah..

Ah memang manusia itu sederhana, manusia itu cuma ingin dihormati, dan bagi yang agak sulit untuk memulai duluan menghormati orang, mereka hanya perlu dihormati lebih dahulu, dan manfaatnya nanti akan balik lagi ke kita. kalo setelah bertengkar biasanya saya meninggalkan arena dengan perasaan menang dan dongkol di dalam hati, tapi selama tiga hari kemarin saya selalu meninggalkan arena dengan perasaan menang dan lega dalam hati. merasa menang karena keinginan saya dipenuhi dan lega karena sama sama merasa saling dihormati..

jadi? ayo budayakn bilang makasih sama orang orang sekeliling kita, sama kondektur bis yang tiap hari bergelantungan memegang pipa besi yang menempel di atap dengan wajah kusut, atau supir angkot yang terlihat cemberut, kata terima kasih yang sepele yang kita ucapkan akan memiliki dampak besar buat mereka.. minimal meskipun pelayanan mereka tidak profesional, dengan mengucapkan terima kasih kita seperti memberikan penyemangat yang menyenangkan, bukan cambuk..

terima kasih…. ^_^

Pendapat subjektif kontestan pilpres 2009

Calon A

Dia ini seorang phlegmatis, dalam buku raport **** merah semua yang isinya memang mengkritik pemerintahannya dengan menampilkan fakta yang memang terjadi, disitu dijelaskan bahwa dalam masa pemerintahannya, dia dikenal sebagai presiden yang cepat mengambil keputusan. karena apa? karena ketika dia diminta pendapat oleh menterinya dalam pengambilan keputusan, dia akan menanya balik. menurut bapak bagaimana? bapak yang lebih ngerti kan? hehe. kalo gitu ngapain ada presiden, udah aja menteri semua. ditambah koordinator menteri. Read more »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.