• Keluarga besar intelektual muslim

    Pegangan Kami,

    Islam Dan Scientific,

    Otak Jerman

    Hati Mekkah,

    Semangat Jepang,

    Kepribadian Indonesia!

  • My Facebook

    Muhamad A Kasyfi's Facebook profile
  • My personality

    Click to view my Personality Profile page
  • Koleksi potoku

    partner for life

    early merchant

    siap lahap

    highland breakfast

    satu komando satu perlawanan

    sesaat  menjelang orasi..

    hancurkan!!!

    Tuntutan kami

    sigap

    Menua

    More Photos

Pendapat subjektif kontestan pilpres 2009

Calon A

Dia ini seorang phlegmatis, dalam buku raport **** merah semua yang isinya memang mengkritik pemerintahannya dengan menampilkan fakta yang memang terjadi, disitu dijelaskan bahwa dalam masa pemerintahannya, dia dikenal sebagai presiden yang cepat mengambil keputusan. karena apa? karena ketika dia diminta pendapat oleh menterinya dalam pengambilan keputusan, dia akan menanya balik. menurut bapak bagaimana? bapak yang lebih ngerti kan? hehe. kalo gitu ngapain ada presiden, udah aja menteri semua. ditambah koordinator menteri.

Kembali ke masalah perdebatan, calon A ini terlihat senang sekali berputar putar dalam kata kata fancy, yang akhirnya malah menghindari jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh moderator. jawaban langganannya adalah ini harus diperbaiki, ini harus dicari solusinya, tapi dia tidak menjelaskan lebih lanjut apa solusi yang sudah dia fikirkan, ataupun hal spesifik apa yang mungkin bisa dia perbaiki sekiranya dia terpilih. Tapi setidaknya dia sudah menyelesaikan setengah dari masalah dengan memetakan masalahnya..

Hal positif yang saya soroti dari calon ini adalah ketika dia berbicara mengenai nasionalisme, saya melihat emosi yang berapi api di nada bicaranya. Jadi setidaknya saya tahu bahwa dia memiliki satu dari banyak kriteria yang saya pikir dibutuhkan untuk memimpin bangsa.

Tapi dari hati terdalam saya berharap beliau tidak diikutkan lagi dalam debat capres selanjutnya..
dia beruntung hidup di indonesia yang masyarakatnya sangat toleran..

Satu tempat yang saya pikir cocok untuknya mungkin adalah sebagai actuator dan sebagai lidah penyambung hati rakyat. Dia mungkin tidak punya gaya bicara yang berapi api, dia mungkin bukan seorang mastermind, tapi dia punya kharisma dan image yang berwibawa di hadapan rakyat yang dia dapat secara cuma cuma. Yang harus dia lakukan hanyalah  dilahirkan…

Iklan :

Saya tidak suka iklan dia yang bernada black campaign tentang pendidikan itu.. benar? mungkin saja, tapi ya kenapa sih harus menginjak kepala calon lain untuk berdiri lebih tinggi?

Dalam iklan lain, dia menyiapkan para selebriti untuk mengkampanyekan bahwa dia yang terbak dalam segala hal, tanpa menyebutkan kenapa dia yang terbaik? atau fakta riwayat hidup yang mendukung premis bahwa dia adalah yang terbaik. Saya menyimpulkan bahwa disini, segmentasi pasar dia adalah masyarakat yang cuma harus diyakinkan, bukan diberi pencerdasan, agar memilih dia nanti..
Calon B

Yang ini seorang sanguinis koleris, orangnya terlihat sangat temperamental, seorang penampil, maka dia terlihat sangat menguasai panggung. Bila dia mendapat giliran yang terakhir dalam berbicara setelah dua calon sebelumnya, dia akan memberikan pendapat yang dimulai dengan kalimat yang terdengar sangat berbeda dengan dua pendapat sebelumnya. Upaya ini saya kira merupakan mekanisme untuk mendistinguish dirinya dari dua calonnya, dan dia berhasil.

Tidak berlebihan kalo saya bilang dalam berbicara, orang ini mirip hitler, bisa menyampaikan suatu pidato dengan emosi yang membakar pendengarnya. Dia adalah pembicara yang paling bersemangat diantara ketiga calon. Tapi tentunya bicara masalah temperamen, pembicara yang membakar seperti ini akan selalu [i]short tempered[/i]. Karena pembicara yang bisa memasukkan emosi dalam pidatonya membutuhkan karakter yang gampang tersulut dalam topik apapun yang dia bicarakan.

Saya tidak melihat keseluruhan acara, tapi dalam interval yang saya tonton, calon ini melontarkan argumen yang cukup decent dalam perdebatan. jargon utama, yakni waktu yang lebih sedikit untuk pengambilan keputusan betul betul dia gunakan dalam mendasari semua janjinya. Dan saya menyukai hal itu.

Saya pernah membaca salah satu artikelnya di koran nasional, yang mengatakan bahwa salah satu alasan dia mencalonkan diri adalah karena dia merasa geram sekali dalam proses pengambilen keputusan di kabinet sebelumnya yang dia nilai berlarut larut, tanpa keputusan yang jelas. Karena sebagai businessman, mungkin dia menganut asas keputusan yang baik adalah yang cepat, karena keputusan yang cepat walaupun salah bisa segera diperbaiki.

Mengenai iklan :

Pose senyum terbaik akan saya anugerahkan kepada calon ini. Dia memiliki wajah dan karakter yang lovable, ekspresi wajah yang karismatik, dan kemampuan yang natural untuk menjadi public figure.

Saya tinggal di Bogor, perjalanan dari Bogor ke Bandung sekitar 3 jam. Dan dari mulai dekat tempat tinggal saya di Pagelaran, Bogor,  sampai bis mendekati terminal leuwipanjang, poster poster kharismatik calon ini dalam berbagai pose, dari mulai bersama anak anak sampai bersama istri, yang tersebar sepanjang perjalanan, cukup membuat saya simpatik dengan kepribadian tokoh ini.

Saya selalu suka testimoni. Termasuk iklan dia yang merupakan kumpulan testimoni dari berbagai tokoh masyarakat yang mendukung kepemimpinannya. Juga latar musik yang menggunakan lagu familiar dengan aransemen yang harmonik. manis sekali…

pokoknya dari sisi  iklan, secara umum calon ini punya nilai yang baik..

Calon C

Hal pertama yang saya komentari dari calon ini adalah nada bicaranya. Tenang, teratur, namun intimidatif di saat yang sama. Untuk menekankan pendapatnya dia tidak perlu nada yang lebih tinggi karena tersulut emosi, dia hanya perlu menekan lebih dalam. Hebat sekali..

Yang paling saya suka tentunya adalah karena pendapat dia selalu didukung oleh fakta fakta renyah yang tidak bisa dilontarkan kecuali oleh orang orang yang memang pernah bermukim di dalam sistem dan bekerja lama sekali dengannya untuk bisa sangat familiar dengan sistem tersebut. Pendapat subjektif memang  bisa dibantah, tapi pendapat yang didukung fakta fakat teknis seperti itu? wow… akan membutuhkan effort lebih untuk menyangkalnya.

Bila kita sedang berusaha memperbaiki diri dan berusaha sekeras mungkin untuk menjadi yang terbaik, namun hasilnya masih jauh dari target yang dipancangkan, saya akan lebih suka menggunakan kata “continuous improvement”  dibandingkan hanya “continue ” saja. Saya tidak melihat makna dari kata melanjutkan yang diteriakkan sebagai jargon utama, karena kata melanjutkan berarti menjalankan pemerintahan dengan gaya dan pencapaian yang sama dengan pemerintahan sebelumnya, dengan tidak meletakkan kata perbaikan dan evaluasi pada fokus utama.

Melanjutkan berarti juga secara tidak langsung mengatakan bahwa pemerintahan sebelumnya telah dihentikan untuk sementara dan baru akan mencapai titik final, jika dan hanya jika dalam periode selanjutnya ybs terpilih lagi. Maka tidak berlebihan kalau saya berpendapat bahwa di pemerintahan yang lalu, dia tidak menyelesaikan semua PR yang harus dikerjakan, dia hanya menyelesaikan beberapa dan sisanya akan diselesaikan bila dia terpilih lagi di periode selanjutnya.

Menurut saya jika pemerintahan awal lebih baik dari pemerintahan selanjutnya, meskipun keduanya masi memiliki kekurangan, itu berarti ada mekanisme perbaikan, mungkin slogan yang pas adalah “Lanjutkan dan perbaiki!”

Jika pemerintahan Awal dan akhir sama sama sempuna, itu berarti ada mekanisme mempertahankan, mungkin slogannya adalah “pertahankan!”

Jika pemerintahan Awal dan akhir sama sama memiliki kekurangan dan sama sekali tidak ada perbaikan? baru itu yang namanya “melanjutkan”

Ah, ada yang terlupa, ada dua pendukung calon ini yang mengungkapkan komentar rasialis yang memojokkan salah satu calon lain, dan itu sangat saya sesalkan…  Bila satu oknum saja mengatakan hal demikian, ini bisa dikatakan kesalahan, namun kesalahan yang berulang dua kali secara identik bisa dikatakan konsistensi.. dan konsistensi seperti ini bukan faktor yang akan memenangkan calon ybs dalam pilpres nanti.

karakternya? menurut saya dia adalah seorang melankolis koleris, seorang mastermind, pengkonsep. Kelebihan orang dengan karakter ini adalah dia akan sangat sistematis dan penuh pertimbangan, namun sebagai efek sampingnya, proses pengambilan keputusan akan memakan waktu lebih lama.
Iklan :

Iklan faforit saya adalah iklan mereka yang menjabarkan premis bahwa mereka sangat dekat dengan rakyat. Saya tersentuh dengan riwayat hidup mereka yang tidak dimulai dengan sendok perak di mulut mereka. Mereka adalah self-made man yang sama sama mengabdi kepada negara, meskipun lewat jalur yang berbeda. “Yang satu jadi prajurit, yang satu jadi guru” pemilihan kata prajurit alih alih tentara dan guru alih alih PNS memberikan pencitraan kata yang sempurna untuk meraih simpati lewat penjelasan profesi mereka.

kalo calon B saya anugerahkan memiliki senyum terbaik, calon C ini saya anugerahkan senyum terhambar. Saya tidak pernah melihat senyum yang tulus dari calon ini, ini bukan berarti dia memiliki sesuatu di balik batu, ini cuma menandakan bahwa dia orang yang sangat jujur, pembohong terbaik memiliki senyum senyum terbaik karena mereka belajar untuk itu, berlatih di depan cermin untuk bisa memberikan senyum tertulus, tanpa harus ada pemicu rasa yang menyertainya.

Liburan, bergelung di zona nyaman…

Aku kan bangun pagi sekali, rata rata 2 rakaat setelah para jamaah di masjid memulai salat subuh, ya, masbuk. tapi itupun kemajuan pesat. karena ibuku selalu punya cara untuk membangunkanku. biasanya dia bertanya hal yang selalu menarik perhatianku, yang sebenarnya sudah dia tahu jawabannya. tapi entah kenapa aku selalu menjawab. dan ketika selesai menjawab biasanya keinginanku untuk kembali bergelung di selimut menjadi berkurang. tinggal dia menarik tanganku sambil membacakan doa untuk segera mendorongku ke kamar mandi untuk berwudhu. ayahku biasanya sudah ada di masjid sejak adzan pertama. bahkan dia sudah terjaga sejak setengah jam sebelum azan subuh dikumandangkan. Salat malam, hal yang membuatnya kuat menahan segala hal yang dia alami dalam hidupnya, dan membuat setiap kata kata yang dia keluarkan setiap berceramah menjadi memiliki kekuatan ruh.

biasanya aku akan solat subuh di masjid, karena ibuku akan langsung teriak teriak kalau aku menggelar sajadah untuk solat subuh di rumah, sedangkan masjid hanya beberapa langkah dari rumah kami. selesai salat subuh di masjid, aku akan menyalami ayahku yang selalu menetap di masjid sampai waktu duha, terkadang hanya berzikir al-ma’tsurat, atau terkadang menjaga hapoalan qurannya yang sudah beberapa juzz. menyalami dia juga sebagai semacam absen bahwa aku sudah salat subuh.

biasanya sampai menjelang pagi hari kalau aku isa menahan diri untuk tidak tidur lagi aku akan bermain dengan kucingku, si bogi, membuatnya sedikit marah sampai dia mecakar cakar tanganku, kadang sampai berdarah, tapi entah kenapa itu terasa menyenangkan. mungkin karena kucing tidak pernah menyimpan dendam. karena satu detik setelah aku memberinya tongkol yang diaduk aduk dengan nasi, dia akan jinak lagi, atau tertidur, yang akhirnya bisa kuganggu lagi. apa jadinya ya kalau manusia tidak mendendam? sepertinya tidak mungkin, karena pencapaian terbaiknya mungkin hanya menutup kotoran atau air seni yang baru dibuang dengan pasir, atau mengenali borax yang dicampurkan pada baso. ya, seperti kucing itu.. mungkin kita mendendam karena kita terlalu pintar..

setelah puas bermain kucing, ibuku akan memanggil kami untuk makan pagi. dan kucing kami taruh di dalam rumah agar tidak memakan yang tidak menjadi haknya. selama kami makan akan ada nenek nenek tua yang berjualan gorenagan lewat depan rumah kami
“gorengan…gorengan…”
kami akan menyetopnya dan membeli 6 bala bala, serta sambalnya yang khas…

selesai makan, adik adikku akan sibuk dengan kegiatannya sendiri. Ayahku akan ke kantor, ibu biasanya masih akan di rumah menghitung keuangan TK yang dia urus. dan aku kan bersntai di bale bale depan rumah, membaca buku buku koleksi ayahku sampai tertidur, atau bahkan tertidur sebelum membuka halaman pertama… atau pergi ke warnet untuk melihat kabar kabar handai taulan di jejaring pertemanan.

begitu terus sampai sore tiba. hidup berbahagia tanpa beban, tanpa deadline, tanpa konflik… tanpa apapun yang memberatkan pikiran..

berkutat di zona nyaman..
ah aku harus segera balik ke bandung..

Pengontrolan system dan proses mencari pasangan..

Setelah beberapa kali membahas sistem pengontrolan industri ketika mengikuti kuliah instrumentasi industri di program studi, saya jadi ingin menganalogikan apa yang dibahas disana, dengan kejadian di kehidupan sehari hari. Acuannya cukup sederhana, karena dalam kehidupan, proses pengontrolan sudah kita alami setiap hari. Hanya saja kita tidak tahu kalau ternyata proses pengontrolan itu ada teorinya dan juga digunakan untuk pengontrolan plant.

Untuk mempermudah memahami apa yang saya tuliskan, saya akan jabarkan beberapa istilah yang sering digunakan :
Input : artinya modal awal yang kita miliki. Masukan yang akan kita proses untuk mendapatkan output yang diinginkan.
Proses : proses yang akan mengubah input menjadi hasil (output )yang kita inginkan
Output : hasil yang keluar setelah input dimasukkan ke sistem proses
Manipulated variable : artinya parameter parameter yang digunakan untuk memperbaiki sistem proses

Kasus :
Katakanlah suatu saat kita tiba di suatu titik dimana kita menyadari sudah saatnya mencari akhwat utuk mendampingi hidup kita. Maka disini set point yang kita target adalah mendapatkan pasangan. Inputnya adalah diri kita dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang kita miliki. Manipulated variabel (parameter) nya adalah segala macam usaha yang kita lakukan, dari mulai komunikasi, agresifitas, proses tarik menarik , proses ulur mengulur, dan terakhir pengkhitbahan.

Untuk mendapatkan taget yang diarah (mendapatkan pendamping hidup) kita harus mengontrol parameter parameter manipulated variabel diatas agar hasil yang kita dapat setelah input melalui proses bisa sesuai dengan target yang kita inginkan.

Feedback control

Pengontrolan ini adalah pengontrolan yang paling sederhana, pengontrolan dengan umpan balik. Katakanlah kita sudah mendekati seseorang dan mengontrol setiap parameter yang kita punya sehingga proses bisa mengeluarkan hasil yang kita inginkan. Lalu apa yang terjadi? Ternyata pinangan kita ditolak!! Apa yang harus kita lakukan? Sedangkan target kita untuk memiliki pendamping harus tetap dipenuhi?

Solusinya adalah kita harus mengumpankan keadaan hasil yang muncul, walaupun tidak sesuai, ke pengontrol. Sehingga di kesempatan lain (kalau ada kesempatan lagi lho ya, hehe..) parameter parameter yang mengendalikan proses bisa kita sesuaikan dan perbaiki agar hasilnya bisa sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Itu adalah inti dari pengontrolan dengan umpan balik.

Cascade control
Kembali ke skenario fikti kita, suatu saat akhwat yang kita kejar itu memberikan kesempatan kedua kepada kita. Sehingga kita bisa punya kesempatan untuk memperbaiki metode kita, sehingga hasil yang diharapkan bisa sesuai target.

Akhirnya kita sudah memanipulasi satu variabel, yaitu agresifitas. Agresifitas yang dulu katakanlah memiliki skala 8 kita turunkan menjadi 5 saja. Dan kita melihat hasil yang muncul. Apa yang terjadi? Ternyata respon si akhwat malah lambat sekali. Tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Apa yang kita lakukan?

Settling time adalah waktu yang dibutuhkan sistem untuk mencapai 63,2 % dari set point yang diinginkan. Setling time ini saya analogikan dengan waktu yang dibutuhkan oleh si akhwat untuk menjawab pinangan kita yang kedua, setelah yang pertama ditolak mentah mentah, setelah kita sudah merubah satu parameter dari proses pendekatan kita, yaitu agresifitas.

Lalu bagaimana agar waktu setling time bisa sesuai dengan yang kita inginkan? Maka variabel yang dimanipulasi harus ditambah, selain merubah skala agresifitas dari 8 menjadi 5, kita juga harus merubah komunikasi kita yang mungkin tadinya memiliki skala 5 menjadi skala 10 sehingga setling time bisa menjadi lebih cepat.

Itu yang dinamakan cascade control, jadi selain mengontrol agresifitas sebagai pengontrolan master, pengontrolan komunikasi juga ditambah sebagai pengontrolan slave, sehingga setling time dari output bisa lebih cepat, atau dengan kata lain, jawaban dari si akhwat bisa lebih cepat kita dengar (menunggu adalah kegiatan yang paling mengesalkan, trust me..)

Override control

Katakanlah setelah kita melakukan pengkhitbahan yang kedua, ternyata hasilnya memang sudah cepat, tapi ternyata kita ditolak lagi untuk yang kedua kalinya, namun si akhwat masih memberikan kita kesempatan ketiga. Maka bagaimana caranya? strategi harus diubah (selain harus kuat mental menahan malu dan gengsi, hehe..)

Tapi ada fakta lain yang muncul, setelah ditolak sebanyak dua kali, ternyata kita jadi ragu ragu untuk bertindak, atau dalam bahasa kontrol, terdapat perubahan kondisi input dari yang semula. kalo di plant mungkin tiba tiba tekanan atau temperatur dari iput naik , sehingga perlu dilakukan pengkondisian ulang parameter parameter untuk bisa menyesuaikan parameter proses.

Maka disinilah pengontrolan override digunakan.

Yang istimewa dari pengontrolan override ini adalah munculnya selektor (bagian yang bertanda < )

Selektor ini bisa menentukan umpan mana yang digunakan untuk menyesuaikan parameter. Bila dalam contoh kasus diatas tiba tiba rasa ragu ragu muncul dalam diri kita (artinya ada perubahan paramter input), maka selektor akan memilih umpan dari indikator input tersebut untuk menyesuaikan parameter proses. artinya karena kita menjadi ragu ragu, maka agresifitas harus ditingkatkan untuk mengimbangi pengurangan agresifitas secara otomatis akibat keragu raguan yang mulai muncul dalam diri kita.

Hasilnya, kita bisa memberikan kompensasi pada parameter proses terhadap perubahan properti input.

Feedforward control
Apa boleh buat, ternyata Tuhan memang tidak mentakdirkan akhwat didekati sebelumnya untuk bisa mendampingi kita, dengan kata lain kita ditolak untuk ketiga kalinya. and to make matter worse, ada ikhwan lain yang meminang dia dan langsung saja diterima oleh akhwat itu. artinya kita tidak punya kesempatan lagi kepada akhwat itu.

hehe,, sebelum kita membahas mengenai feedforward kontrol, mari kita kesampingkan segala sensasi melankolia yang muncul, perasaan yang abstrak dan tidak bisa terkuantifikasi hanya akan mengacaukan sistem yang teratur, karena pengambilan keputusan berdasarkan perasaan tidak bisa agak sulit untuk dianalisis.

Kembali ke subjek, pengontrolan dengan feedforward dilakukan ketika hasil output tidak bisa kita evaluasi, entah karena keadaan output tidak memungkinkan untuk diukur, atau, tidak akan ada kesempatan lagi untuk bisa mengevaluasi hasil (hanya ada satu kesempatan untuk mengontrol parameter proses)

Pengontrolan feedforward tidak membutuhkan pengukuran hasil output untuk mengevaluasi parameter proses. Di dalam pengontrol feedforward, terdapat memori yang menyimpan proporsi yang sesuai agar output bisa sesuai dengan yang dihasilkan. Bila kita loncat lagi ke cerita kita, hal inibisa dianalogikan dengan yang namanya “pengalaman”.

Dengan pengalaman yang sudah didapat setelah 3 kali ditolak,pastinya kita akan punya proporsi ideal untuk mengontrol parameter proses. kita akan punya standar sendiri untuk memberikan berapa skala parameter proses yang diperlukan. sehingga dengan sekali jalan, kita bisa mendapatkan output yang kita inginkan tanpa harus mengevaluasi output atau hasil.

Atau bila kita kembalikan ke kisah ini, ketika kita sudah menemukan akhwat baru untuk kita kenakan proses pendekatan, kita akan sudah tahu berapa skala komunikasi yang sesuai, berapa skala keagresifitas yang harus dilancarkan dan terakhir kita sudah tahu kapan waktu pengkhitbahan yang tepat, sehingga kita bisa mendapatkan hasil yang kita inginkan, dan waktu respon yang sesuai dengan yang kita inginkan.

Akhirnya kita bisa hidup bahagia selamanya bersama pendamping yang kita inginkan mendampingi kita, Hidup berkarya seraya menjalani hidup penuh cinta dan kasih sayang sampai akhir zaman.

-semoga bermanfaat -

Menerima pendapat orang lain

Tahu gak bagaimana manusia menerima pendapat orang lain adalah sesuatu yang unik? karena definisi menerima pendapat itu berbeda – beda tergantung dari mana kita memandang.

Bila dengan mudahnya kita menerima pendapat orang lain. Di satu sisi kita akan dikatakan plin plan oleh orang lain, dan di sisi lain, kita akan dikatakan orang yang sangat mudah menerima saran. Pandangan mana yang benar? sayangnya manusia yang relatif juga menghasilkan pandangan yang relatif. Yang benar adalah yang tidak bertentangan dengan hati nurani kita yang juga relatif.

Bila kita orang yang selalu mempertahankan pendapat, orang akan mengatakan kita orang yang keras kepala, dan tidak mau menerima kebenaran. Tapi dari sudut pandang lain. kita adalah orang yang bisa mempertahankan pendapat dan punya prinsip. apa ini benar? sekali lagi yang benar adalah yang tidak bertentangan dengan hati nurani kamu yang relatif.

Nah disini saya ingin mengeluarkan pendapat saya mengenai hal yang seharusnya menjadi pertimbangan ketika kamu ingin menerima/ menolak pendapat orang lain :

- Jangan pernah memandang status orang yang mengeluarkan pendapat. Kata kata anak kecil mungkin bisa memiliki lebih banyak kebenaran dibanding ulama. dan mungkin sekali sebaliknya. Yang pasti jangan pernah menolak pendapat seseorang karena dia anak kecil, seperti halnya jangan dengan mudah menerima pendapat orang walaupun dia ulama besar, atau sekedar orang yang lebih tua dari kamu. Kamu gak akan pernah tahu dari mana kebenaran akan datang..

- Jangan pernah meremehkan keyakinan diri sendiri. yang ini sebenarnya berkaitan sama poin pertama di atas. terkadang karena yang mengatakan pendapat itu adalah orang yang sangat berilmu, dan berpengetahuan luas sekali, kita jadi meremehkan diri kita sendiri dan taqlid kepadanya seraya berkata dia yang lebih tahu banyak dari saya. hey!! cuma kamu yang paling tahu tentang diri kamu sendiri. karena kamu yang hidup dengan dirimu sendiri sejak pertama kali kamu dilahirkan.

-Jangan takut dengan stigma yang akan diberikan orang lain ketika kita akan menerima atau menolak pendapat. Karena ini hal yang benar benar tidak perlu dipertimbangkan dalam menerima atau menolak pendapat. singkatnya, jangan pernah menolak pendapat karena kita ingin terlihat keras kepala dan memiliki prinsip. Seperti halnya jangan menerma pendapat karena kita ingin dikatakan flexible. terima / tolak pendapat karena akal dan hati kita mengatakan demikian..

- Hanya Tuhan yang mutlak. Benar dan salah manusia sangat sangat relatif. jadi jangan takut untuk berubah haluan bila kamu rasa keputusan kamu itu salah. Dan seperti halnya di atas, jangan takut dikatakan plin plan karena kamu berubah haluan. Kamu berubah haluan karena kamu percaya itu jalan yang terbaik.

- Bila kamu pikir atau rasa pendapat orang lain itu adalah sebuah kebenaran, jangan takut untuk menerima pendapat itu. Tahu definisi kafir? kafir itu artinya ingkar artinya kita sebenarnya tahu bahwa pendapat itu adalah pendapat yang benar, tapi hati kita mengingkari karena kesombongan ataupun gengsi dalam hati kita. Maka jangan jadi orang yang kafir. Bila kamu tahu atau rasa pendapat itu benar maka langsung ikutilah.

kurang lebih seperti itu pendapat saya.

Mudah mudahan kita selalu dituntun Tuhan ke jalan kebenaran.

Where did i go wrong?

After the “thursday incident” i’ve been keep wondering where did i go wrong? a lot of scenario went through my head. Some part of me said that maybe the process isn’t long enough, i might have rush this egoistic feeling toward her, and she’s not ready yet…

Another thought crossed my mind, that maybe we’re not meant to be together in the first place, i was just assuming things on my own, while i don’t have any idea what’s in her mind, i was keep assuming for my own sakes untill i suddenly have enough courage to confess..

“please don’t focus on me..” she said, and she said also that she allready has someone to fill en empty space inside her heart. But in the same time, she said that they’ve made up their mind to forget each other..

complicated is it not? well, i don’t know the right answer regarding her true feeling towards me, is it really just as a friend? or a premature growing serious relationship going to be. But the fact still remain, clearly she said that she is not interested of taking this relationship growing any further.. well i couldn’t force her to embrace my feeling could i? even if i could, our relationship would be based on force, not even love..

But the interesting thing about this event is, finnally i could feel what had usually the dangdut singer wrote in their lyric about falling in love..

lost appetite,,,

i didn’t bother to take a bath, or even sleep at night..

keep on finding a place to run from my problem, (game, in my case)

it’s a very interesting sensation, but yeah, it’s not fun at all.. but still, interesting things doesn’t always felt fun..

God..

i don’t know what to do…

i hope i can overcome this irritating feeling really soon, cause i got a whole lot of things to do, instead of wallowing in this pathetique self pity..

God help me..

Belajar cinta dari Ali dan Fathimah

Sudah lama sekali blog ini terlantar karena TA dan lain hal.

tulisan ini saya salin dari http://aisyahkecil.wordpress.com/

bagus, dan menyentuh… :)

—————————————————————————————————————————

Kisah pertama ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah

chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama,
mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.
Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur,
datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa,
seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,
seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq,
sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan,
sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu,
’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya.
Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.
Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung.
Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak.
Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati.
Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,
“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,

dalam suatu riwayat dikisahkan

bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)

Fathimah berkata kepada ‘Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kisah ini disampaikan disini,

bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an

Kisah ini disampaikan

agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah

bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi

dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu

Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba

Cinta, kelemahan superhero

Memiliki hobi menonton membuat saya sering memikirkan banyak hal mengenai skenario film. saking banyaknya, sampai terkadang bila film itu tidak berkualitas, saya sudah bisa menebak jalan akhirnya. apakah bahagia atau tidak. Sehingga film yang benar benar bisa menghibur saya semakin hari semakin sedikit. seiring dengan selera film saya yang semakin tinggi, kepuasan ketika menonon terus menurun. http://kasyfisme.files.wordpress.com/2009/02/97df6afaaa70054ebfa480e3aec1e23f8d6db9145556db5edcb51db7e1a870c8429047eb228f080db7bad5a31d54755ef2bdb4e64e46c825d1523c256828e3dfe948b32db02b24574b868a362e85736d122bb2b3556af8d515240.jpeg?w=179&h=136

Sebagai contoh, dalam film superhero, jagoan yang memiliki kekuatan super, atau memiliki bakat khusus yang tidak dimiliki semua orang, dan pada awal awal film selalu terlihat sangat invincible, luar biasa tidak terkalahkan, biasanya akan tiba tiba bertekuk lutut di hadapan musuh di tengah perjalanan karena hal sepele. Ada yang tahu biasanya karena apa? ya, salah satunya adalah karena cinta.

Seperti halnya Spiderman dan Mary jane, Hulk dan Betty ross, Cyclops dan Jean grey, Hancock dan Mary Embrey, Superboy dan Lana lang, cinta diantara superhero dan pasangannya adalah  sesuatu yang biasanya jadi andalan para penulis skenario untuk memulai fase konflik dalam film , yang akan membawa penonton ke fase klimaks, anti klimaks, dan akhirnya penutup.

Bila dilihat sekilas, mungkin masalah cinta ini hanya masalah yang dibuat buat saja oleh para penulis, namun bila kita tilik lebih dalam, sebenarnya, boleh jadi cinta ini bukan semata permulaan konflik, bahkan mungkin tanpa ada cinta, jati diri seorang  superhero tidak akan pernah ada.

Ketika kecil, saya selalu berfikir seperti ini, bila saya jadi superhero, atau presiden, atau jendral perang, saya tidak akan mencintai siapapun. Sehingga tidak akan ada siapapun yang bisa disandera oleh musuh saya, untuk memaksa saya menyerah. Sehingga saya akan menjadi jagoan yang tidak terkalahkan. Namun setelah saya agak dewasa, saya mulai menyadari bahwa cinta itu adalah suatu hal yang fitrah dari manusia. Karena manusia itu butuh untuk mencintai, dan dicintai.

Saya belum pernah punya anak, ataupun istri, tapi saya bisa membayangkan semangat macam apa yang akan ketika saya berangkat untuk berkaryapagi hari seraya menatap ke dalam mata anak dan istri saya. Minimal saya tahu siapa yang akan saya bahagiakan dengan hasil dari karya saya. Dan karena saya mencintai mereka, pastinya kebahagiaan mereka akan memberikan efek kebahagiaan yag berkali kali lipat kepada saya.

Kalo saya beri sebuah analogi, mencintai dan tidak mencintai itu seperti sebuah neraca. Ketika kita tidak mencintai sesuatu, maka kita tidak akan kekurangan suatu apapun, neraca kita akan berada di posisi netral. Hidup kita akan datar dan mungkin tidak akan ada potensi potensi luar biasa yang meluap luap dari diri kita. Namun bila neraca itu kita miringkan, entah karena kita mencintai sesuatu atau sangat membenci sesuatu, maka neraca akan mulai bergeser, akan ada sisi yang lebih tinggi dari yang lain. Maka sisi yang tinggi itu adalah potensi diri yang melonjak karena kita memiliki cinta atau apapun itu. Dan sisi yang merendah adalah kelemahan kelemahan yang tiba tiba muncul sebagai kompensasi dari kelebihan yang kita terima.

Cinta  adalah motivasi internal yang bisa disebabkan faktor luar.  Entah itu adalah cinta kepada seseorang, objek, kecintaan terhadap negara, suatu ideologi, ataupun kecintaan kepada Tuhan dan rasulNya, segala bentuk cinta, bisa menjadi sebuah motivasi yang akan terus menjadi bahan bakar kita untuk selalu bersemangat mengerjakan hal yang kita cinta, atau hal lain demi yang kita cintai.

Maka kawanku, temukanlah siapa atau apa yang bisa engkau cintai sepenuh hati, sehingga kau kan bisa lejitkan potensi dirimu berkali kali lipat. Jangan khawatirkan efek samping berupa kelemahan kelamahan yang akan muncul, karena dunia akan selalu butuh sebuah konflik.

=)

Kuliah di SBM..

UNION labor dst…dst…http://farm4.static.flickr.com/3189/2574857946_1438b53ee2.jpg?v=0

Lupa saya judul kuliahnya apa. Yang pasti ini pertama kalinya saya nyoba ngambil mata kuliah di luar teknik fisika.

Kuliah dimulai jam tujuh (setidaknya di jadwal) saya dateng ke gedung sbm tepat jam tujuh kurang lima belas. Menaiki tangga tanpa lift ke lantai tiga cukup sedikit melelahkan untuk saya yang jarang olahraga.

“Pak ruangan 3 A yang mana ya pak?”

“yang ini mas “

“oh iya. makasih pak ya..”

Saya memasuki ruangan 3 a. Beuh!! ruangan yang mantap sekali, tertata artistik, lengkap dengan lantai berkarpet,  air conditioner yang baru dinyalakan teknisinya ketika saya masuk, dan jumlah kursi yang hanya 30 kursi saja satu ruangannya, lengkap dengan bantalan duduk yang empuk punya.

Ah, saya tidak melihat seorang bule yang sedang asik menggunakan komputer di meja dosen. saya melempar senyum sopan. Usianya mungkin sekitar 22 tahunan. Saya melempar pertanyaan untuk membuka pembicaraan.

“are you going to be my lecturer?”

dia tertawa..

“nah, i’m a student also…”

Dari situ pembicaraan mengalir, namanya stephen, mahasiswa pertukaran pelajar dari Holland. saat ini dia sedang duduk di tingkat tiga. Ketika saa tanya kenapa dia memilih indonesia, dia bilang, sebenarnya dia punya beberapa negara tujuan, thailand, brazil, dan beberap negara lainnya. tapi dia memilih indonesia karena bahasa inggris di indonesia sudah cukup banyak yang menguasai.

“i don’t  wanna go to class.. i really want to go to this places”

Dia bilang, sambil membuka buka google map, kubilang kalau kamu tidak mau ke sini untuk belajar ya jangan menggunakan beasiswa.

“you should use your own money..”

Pukul tujuh lima belas dan kelas belum juga di mulai. saya mulai khawatir jangan jangan salah kelas. Beberap kali orang datang dan bertanya.

“ini kelas apa ya?”

“Union labor” jawabku

Mungkin mereka bingung kok ada mahasiswa sipit dekil bergaya proletar masuk ke kelas itu. Tapi akhirnya mereka masuk juga ke kelas, sambil bergumam bingung.

“kuliahnya dimulai jam setengah delapan mas.. minggu kemarin gak masuk ya?”

Oalah, ternyata saya terlalu cepat setengah jam.

Jam setengah delapan tepat dosen memasuki ruangan.

“Are you sure you’re in this class?”

cleb! langsung ketahuan saya gak ada tampang anak sbm, hehe. saya langsung jelaskan bahwa saya anak teknik fisika yang sedang mengambil kuliah pilihan di sbm. Dia menjelaskan bahwa kuliah ini adalah kuliah yang sangat spesifik.

“do i got to have some basic knowledge before i can get to this class?”

“no, actually..”

“so it’s going to be Okay if i take this class?”

yup, dia bilang.

Akhirnya kelas dimulai. Bahasannya mengenai kapitalis dan komunis. Kita disuruh untuk ke lab komputer dan mengetes kepribadian dalam diri kita, apakah kita benar benar seorang kapitalis? atau seorang sosialis murni. (hasil tes saya, saya 36 % kapitalis dan 64 persen sosialis)

Setelah tes  dilaksanakan, dia menekankan bahwa keberadaan SBM di ITb adalah untuk menyebarkan paham kapitalis di sini. saya tidak sanggup untuk menahan tawa..

“ah, dia ni yang orang fisika ketawa, coba perkenalkan diri dulu mas..” katanya

Terakhir kali saya memperkenalkan diri itu ketika saya di kelas presentasi bahas inggris, setelah itu, tidak pernah lagi saya memperkenalkan diri di dpan kelas.

“perkenalkan, nama kasyfi dari teknik fisika..(siapa?) .. kasyfi”

“and you..”

dia menunjuk stephen di sebelahku

“stephen..”

Kelas dimulai lagi…

***

Saya menandai beberapa hal menarik yang saya alami ketika saya kuliah di sbm hari ini :

  • Dosen, Ms Yuni,  sangat terlihat untuk mengupayakan komunikasi 2 arah antara dosen dan mahasiswanya. tidak seperti kebanyakan dosen di prodi saya yang agak sedikit menjaga jarak dengan mahasiswanya.
  • Bahasa pengantar yang digunakan, bahasa inggris sangat saya nikmati. karena akhirnya saya merasakan manfaat dari hobi saya  menonton pilem di rileks.
  • Dosen adalah seorang praktisi juga. ternyata Ms Yuni ini adalah seorang banker sukses lsebelum akhirnya ditarik unuk mengajar di SBM ITB. Sumber daya yang lar biasa sekali.
  • Suasana di kelas entah kenapa sangat positif. saya hampir merasaakan atmosfer menyenangkan ketika saya masih duduk di bangku SD. semuanya bebas mengeluarkan pendapat, nyeletuk, dan pasti ditanggapi oleh dosennya. benar benar tidak ada jarak. sehingga proses belajar mengajar benar benar sangat kondusif

Hari ini adalah hari minggu kedua kuliah. Masih ada sekitar 14 minggu lagi untuk saya bisa menghimpun ilmu gratisan di SBM tanpa harus membayar sks mahal. yah, mudah mudahan akan lebih banyak lagi ilmu  yang saya dapatkan di minggu minggu berikutnya. amin

Keyakinan itu pilihan

Beberapa waktu yang lalu saya sempat diskusi dengan teman saya, imamul. topik yang dibahas adalah bagaimana kita tahu bahwa Tuhan mengatur kehihdupan kita. Post ini mungkin berkaitan dengan post saya sebelumnya yang mengenai inspirasi sebagai campur tangan Tuhan dengan kehidupan. Dan mungkin post ini adalah set point berikutnya dari akal saya untuk memahami KebesaranNya.

Dari pembicaraan kita, saya percaya bahwa Tuhan telah menciptakan kita dengan ketetapan, dengan proporsi atau “takdir”Nya. setiap segala sesuatu memiliki hukum hukum yang melekat kepadanya. Seperti batu yang jatuh ke bawah bila kita lemparkan, burung yang akan terbang jika mengepakkan sayapnya, ataupun teman yang akan menjauh bila kita beberapa hari tidak mandi. =) Semua adalah ketetapanNya. Semua sudah ditentukan olehNya dan menjadi sebuah alasan adanya suatu fenomena sebab akibat.

Lalu pertanyaaan jadi muncul, apakah kejadiannya benar benar seperti ini? Tuhan menciptakan kita, lalu menetapkan hukum hukumNya yang melekat pada diri kita, dan setelah semua ketetapan telah dibuat,maka Dia lantas membiarkan semuanya berjalan sesuai hukumNya. Karena bukankah itu artinya dia tidak lagi mengatur kita? dan menyerahkan kita sepenuhya pada hukum yang sudah Dia tetapkan? yakni sebab akibat itu?

http://static.highend3d.com/downloadsimages/4082/PuppetMaster.jpg

Puppet master

Dari fenomena di atas kita bisa mengambil 2 kesimpulan. Kesimpulan pertama adalah bahwa Tuhan sebenarnya memang mengatur kita, lewat ketetapan ketetapanNya itu. Artinya mengatur secara pasif, tidak Real Time (kata real time sebenarnya tidak tepat, karena Tuhan tidak terikat ruang waktu). Atau kesimpulan kedua kita juga bisa mengatakan bahwa Tuhan tidak mengatur kita, Tuhan membiarkan saja kita hidup sesuai ketetapanNya. Semua hal yang terjadi pada diri kita adalah karenatindak tanduk kita sediri yang menjadi penyebabnya.

Mulai bingung? sama, hehe..  tapi kalau saya tilik lebih jauh lagi, ternyata fenomena sebab akibat itu tidak sesederhana itu. fenomena sebab akibat adalah sebuah fungsi dari banyak sekali variabel variabel yang sama sama memiliki andil kepada satu sama lain. Bahkan, saking banyaknya variabel yang berpengaruh,  peluang suatu hal untuk terjadi sebenarnya kecil sekali. dan disitulah kekuasaanNya mengambil peran.

contoh:

Akibat : Post yang saya tulis ini

Sebab : Karena saya menulisnya, karena komputer tempat saya menulis kebetulan berfungsi dengan baik, karena keyboardnya cukup nyaman untuk sqaya bisa mengetik dengan baik, karena ada sambungan internet yang memadai di tempat saya yang menulis, karena saya memiliki waktu untuk menulis, karena ada orang yang menciptakan wordpress, karena ada orang yang menemukan internet, karena saya memiliki sendal jepit sehingga saya bisa ke comlab untuk menulis, karena ada yang emmproduksi sendal jepit itu, karena saya memiliki waktu kosong setelah saya mengambil cucian saya ke laundry, karena alih alih mengambil cucian tadi malam saya malah mengambilnya hari ini, karena comlab buka, karena ada yang membangun comlab, karena saya masuk ITB, karena saya lolos SPMB .. dan saya bisa tuliskan lebih banyak alasan lainnya…. satu alasan saja absen, maka post ini tidak akan terjadi.

Hikmah apa yang bisa diambil? Adalah bahwa, satu kejadian sederhana yang kita pikir terjadi karena satu sebab saja ternyata merupakan solusi persamaan fungsi bervariabel tak hingga yang hanya memiliki satu solusi peristiwa. Suatu fungsi yang tidak bisa dipecahkan oleh algoritma terbaik oleh mikroprosesor tercepat dimanapun. Hanya Tuhan yang memiliki kapasitas untuk memecahkan persamaan itu menjadi sebuah solusi yang tiba tiba terjadi dalam hidup kita.

Tapi kan kita bisa juga interpretasikan bahwa asumsi di atas adalah bukti bahwa Tuhan itu tidak mengatur kita?

Betul! karena meskipun kita sudah bisa mendefinisikan semuanya, memahami semuanya, kita akhirnya juga akan sampai di persimpangan yang memiliki 2 cabang. Dan di percabangan itu kita harus memilih:

  • Apakah kita akan memilih untuk percaya bahwa hal yang terjadi adalah karena sebab akibat, dan meniadakan peran Tuhan?
  • Atau dengan sadar kita memilih bahwa itu adalah bentuk campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita, bahwa dia terus melihat dan terus memperhatikan kita, serta menuntun langkah kita

Anda bisa memilih yang pertama ataupun yang kedua, karena disinilah saat ketika keyakinan menjadi sebuah pilihan, saya sendiri memilih untuk yakin, sebuah pre-asumsi yang indah untuk mengawali semua pencarian saya untuk lebih memahami kebesaranNya.

Kapasitas, pencapaian dan peran

Sebelum tinggal dan menetap di lab, ketika masa masa awal saya kuliah di Bandung ini, saya tinggal di rumah nenek di daerah gardujati, di belakang pasar baru. Nama resminya adalah jalan belakang pasar.
http://bandungvariety.files.wordpress.com/2008/10/pasar-baru-bandung1.jpg?w=241&h=180
Saya biasa berangkat jam setengah tujuh pagi. Berjalan menyusuri pasar dan berjumpa dengan keadaan yang sama,pasar yang riuh dengan aktivitas pedagang menjajakan barang dagangannya,  adu tawar menawar di antar pembeli dan penjual, tukang sampah dan tukang pulung yang berjalan bertelanjang kaki mengais botol botol plastik di tumpukan sampah untuk dijual kembali, tukang beca yang menampakkan ekspresi resah menunggu calon penyewa beca yang semakin sedikit akhir akhir ini, dan sebagian tukang becak lain yang masih terlelap tidur mendekap tubuhnya berselimut sarung lusuh. Kadang kadang saya bertanya apa mereka sudah salat subuh?

Pulang dari kampus keadaan yang saya jumpai agak sedikit berbeda. biasanya warung warung yang didominasi warga keturunan sudah tutup. dan di selasar selasar itulah para saudara kita, biasanya sekedar kuli angkut, tidur beralas plastik tipis. dan hanya terhalangi terpal terbatas dengan udara luar. Sebagian pribumi lain yang memiliki kios tetap biasanya juga menetap di kiosnya. Seperti tukang telor yang sering saya lewati setiap malam. Biasanya sekitar jam 9 malam lampu di dalam tendanya mulai dinyalakan, sehingga penghuni di dalamnya terlihat seperti siluet. Yang membuat saya kagum, dari tenda tukang  telor itu saya selalu mendengar lantunan AlQuran. Dibacakan dengan lirih dan menyayat. Saya terharu sekali, karena di tengah keadaan ekonomi yang sempit sekali, mereka masih meyempatkan diri untuk berkasih mesra dengan Tuhan mereka.

Berulang ulang menatap fragmen kehidupan pasar baru itu, saya jadi berfikir, apakah memang takdir mereka seperti itu, yakni  selalu menjalani kehidupan yang sama dari mulai bangun pagi sampai terlelap kembali. bangun-bekerja- makan lalu tidur lagi. sungguh sesuatu yang membuat nalar saya bertanya, apa mereka masih punya tujuan hidup? sudah berapa lamakah mereka menjalani hidup yang rutin dan berulang ulang tersebut, dan apakah mereka tidak merasa bosan jika peran mereka di dunia ini berhenti sampai disitu?

Teman saya di waktu yang lalu memberikan satu jawaban atas pertanyaan ini, dia mengatakan bahwa setiap manusia itu memiliki kapasitas, ukuran kemampuan maksimal kita untuk melakukan sesuatu.

Kapasitas manusia itu berbeda beda, ada yang kapasitasnya memang sebatas menjadi tukang beca, penjaja makanan, penjual kaus, atau mungkin presiden. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi, kita berbicara tentang asupan gizi yang mereka dapat, lingkungan tempat seseorang tinggal, suasana psikologis tempat dia hidup dan faktor keadaan mental, artinya, apakah dia percaya bahwa dia ditakdirkan untuk sesuatu yang lebih besar dari yang dia jalani sekarang, ataukah dia menyerah dengan keadaan. Hal ini menjadi sangat kompleks karena yang paling menentukan adalah masalah kehendak, manusia punya kehendak penuh untuk terus berjuang, atau terus menyerah, untuk terus berusaha atau berhenti.

Perbedaan kapasitas dari manusia menyebabkan nilai pencapaian yang dihasilkan juga berbeda beda. Mungkin di antara kita ada yang berusaha keras habis habisan untuk mendapat nilai A, sedangkan ada rekan kita yang dengan mudah mendapakan nilai yang sama. Maka, disinilah pencapaian yang berbeda dinilai, untuk yang keadaan pertama, mungkin kapasitas kita adalah 1 dan pencapaian kita adalah 10, dan untuk yang kedua, mungkin kapasitasnya adalah 9 dan pencapaiannya adalah 10. Mana yang lebih baik? tentunya yang pertama, karena pencapaian yang dicapai adalah 9 poin.

Namun, apa yang terjadi bila seseorang dengan kapasitas 9 memiliki pencapaian 10? maka hasilnya adalah 19! dan untuk menyamai nilai yang sama, manusia yang kapasitasnya satu harus berusaha hampir dua kali lipat. Maka dalam hal ini kapasitas menjadi hal yang sangat penting, karena parameter yang diukur adalah keberhasilan yang diraih.

Itulah arti dari peran. Setiap manusia memiliki perannya masing masing dalam merangkai keping keping peradaban. Suatu peran dimana kapasitas yang sesuai bertemu dengan pencapaian yang tinggi menghasilkan keberhasilan yang luar biasa. Kita harus mencari peran apa yang paling cocok untuk diri kita, Bila saat kita melakukan sesuatu kita tidak lagi merasakan tantangan dan kesulitan, maka ini adalah suatu tanda kita harus menaikkan lagi target yang kita buat, sehingga keberhasilan yang kita dapat bisa lebih tinggi lagi.

Maka, kumpulan manusia yang berperan maksimal dalam dunianya masing masing akan merangkaikan keping diri mereka masing masing menjadi sebuah karya peradaban, keberadaannya akan menjadi sangat berarti bukan hanya untuk dirinya dan sanak keluarganya, tapi juga untuk kehidupan dunia. Namanya akan mewangi di setiap hati manusia yang merasakan manfaatnya, entah dia berada di sekitarnya, atau manusia lain di belahan dunia lain yang tergugah dengan karya yang dia buat.